<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pikir Tiga</title>
	<atom:link href="http://tertiga.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tertiga.wordpress.com</link>
	<description>Utk pola pikir: Pikir1 kematian, pikir2 keabadian, pikir3 kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2012 17:05:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tertiga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pikir Tiga</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tertiga.wordpress.com/osd.xml" title="Pikir Tiga" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tertiga.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>(2/2) Mati</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2010/09/01/22-mati-tertiga/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2010/09/01/22-mati-tertiga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 12:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Roh]]></category>
		<category><![CDATA[Tertiga]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=1491</guid>
		<description><![CDATA[Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading, Orang mati meninggalkan &#8230;&#8230;&#8230;? Kemarenan teman muslimku berkata keras melalui maik Jumat, bahwa setiap orang mati meninggalkan sedikitnya tiga hal: 1. Keluarga; 2. Harta; 3. Amal Soleh. - - Cek : 1. Meninggalkan keluarga: Memang betul, jika tidak meninggalkan keluarga, maka orang akan tanda tanya terus ttg  siapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1491&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1510" title="Apa ada yg tak ada" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/09/apa-ada-yg-tak-ada.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /><strong>Harimau mati meninggalkan belang,<br />
Gajah mati meninggalkan gading,<br />
Orang mati meninggalkan &#8230;&#8230;&#8230;?</strong></p>
<p>Kemarenan teman muslimku berkata keras melalui maik Jumat, bahwa setiap orang mati meninggalkan sedikitnya tiga hal:<br />
1. Keluarga; 2. Harta; 3. Amal Soleh.</p>
<p>-<br />
-<br />
Cek :<br />
1. Meninggalkan keluarga:<br />
Memang betul, jika tidak meninggalkan keluarga, maka orang akan tanda tanya terus ttg  siapa dia, dari mana asalnya, mana sanak saudaranya. Bila tak ada maka disimpukan saja sebagai org yg tak waras atau tak lengkap (not all there). Biasanya tiga decakan cukup utk berbela sungkawa sekenanya bagai kpd binatang mati !</p>
<p>2. Meniggalkan harta :<br />
Barang kali hal ini salah, jika harta harus dapat dikonversikan ke uang, karena ada saja orang mati yg tidak punya harta selain sampah atau malah punya utang yg lebih besar dari pada hartanya, yg berarti dia tidak meninggalkan harta. Mungkin orang  akan misu-misu karena bakalan nggak terbayar utang si mati, atau malah utangnya niban ke keluarganya yg hrs mempertanggungjawabi utangnya itu.</p>
<p>3. Meninggalkan amal Soleh:<br />
Barang kali ini betul, jika kejahatan juga bisa termasuk amal soleh yang nilainya negatip. Artinya, apapun perlakuannya adalah amal soleh. Besar-kecil atau positip-negatip dapat dikenakan kepada amal soleh itu. Jika tidak bisa demikian berarti bisa ada orang mati tanpa meninggalkan amal soleh.</p>
<p>Lalu usulku gini kepadanya :<br />
Orang mati seharusnya (bukan sedikitnya) meninggalkan hanya 3 hal:</p>
<p>1. Keluarga – atau silsilah keturunan, saudara dekat/jauh/pernah dll.<br />
2. Nama – atau atas nama, cv, profil, porto folio,  hutang piutang, dll.<br />
3. Dampak – atau aksi/reaksi spirit. Bisa jadi warga sekitarnya spontan happi karena biang reseh telah mati. Atau sebaliknya, tetangga itu bersedih mengenang jasanya yg tak terkira bagi lingkungan. Dia dipuja, dirindukan dan diteladani menjadi contoh.</p>
<p>Kukroscek :<br />
1. Keluarga itu cantolan tubuh.<br />
2. Nama adalah kreasi jiwa<br />
3. Dampak adalah aksi roh</p>
<p>Jika satu dari tiga hal itu tak ada,<br />
Maka semuanya menjadi percuma.<br />
Itu mati bagai binatang saja jadinya.</p>
<p>Usulku di atas tidak bisa diterima oleh temanku itu. Dia mengatakan bahwa paket itu tidak bisa diubah saenake, karena hal itu adalah kalimat paten dari saudar &#8230; (aku lupa tokohnya)</p>
<p>Salam Pikir Tiga!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/1491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1491&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2010/09/01/22-mati-tertiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/09/apa-ada-yg-tak-ada.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Apa ada yg tak ada</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(1/2) Mati</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2010/07/26/12mati-tertiga/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2010/07/26/12mati-tertiga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 14:20:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Gelap]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Tertiga]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=1437</guid>
		<description><![CDATA[Mati adalah anugerah! On death, grace does not destroy but it purifies, moderates and regulates natural affection. Lalu, mengapa orang paling banyak mati pada hari Senin, dan orang-orang soleh paling banyak matinya pada hari Jumat? Hayooo! - Tapi, aku tak tahu bulan apa paling banyak orang mati, Dan jam berapa yang paling banyak itu? Lalu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1437&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1440" href="http://tertiga.wordpress.com/2010/07/26/12mati-tertiga/cinta-itu-utk-cinta1-2/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1440" title="Cinta itu utk cinta1" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/07/cinta-itu-utk-cinta1.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a>Mati adalah anugerah!</p>
<p><em><strong>On death, grace does not destroy but it purifies, moderates and regulates natural affection.</strong></em></p>
<p>Lalu, mengapa orang paling banyak mati pada hari Senin, dan orang-orang soleh paling banyak matinya pada hari Jumat?<br />
Hayooo!<br />
-</p>
<p>Tapi, aku tak tahu bulan apa paling banyak orang mati,<br />
Dan jam berapa yang paling banyak itu?<br />
Lalu, kayak gimana mati yang paling enak,<br />
Dan kayak gimana pula mati yang paling keren,<br />
Apakah mati itu sama saja, kapan dan dimana pun?<br />
Ah…!</p>
<p>Kita bisa saja merenungkan kematian berdasarkan waktu seperti di atas. Kita bisa juga merenungkan kematian itu berdasarkan ruang atau tempatnya, spt mati di kamar mandi, di rumah sakit, atau di lapangan, dll. Kita pun bisa juga merenungkan kematian itu berdasarkan kejadiannya spt mati kesetrum, kelelep, atau ketembak, dll.</p>
<p>Lalu, jika kita bisa merekap waktu, ruang dan kejadian mati,<br />
Rekap yang kek gimana yang paling keren utk diancer-ancer?<br />
Ah…! Aya aya wae!</p>
<p>Kalau boleh memohon umur panjang,<br />
Boleh dong kita menggeser mati,<br />
Sedikit ke waktu yg lain, heheh!</p>
<p>Salam Pikir Tiga!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/1437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/1437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/1437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/1437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/1437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/1437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/1437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/1437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/1437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/1437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/1437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/1437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/1437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/1437/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1437&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2010/07/26/12mati-tertiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/07/cinta-itu-utk-cinta1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Cinta itu utk cinta1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(3/3) Ke Kemaren!</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2010/03/11/33-ke-kemaren/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2010/03/11/33-ke-kemaren/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 16:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Terawang]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Hutabulu]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Riwayat]]></category>
		<category><![CDATA[Roh]]></category>
		<category><![CDATA[Ruh]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Silsilah]]></category>
		<category><![CDATA[Simanjuntak]]></category>
		<category><![CDATA[Tertiga]]></category>
		<category><![CDATA[Tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=1414</guid>
		<description><![CDATA[Kutau kelahiran ku itu dari alam ini tadi, Kehidupan ku ini dalam dunia ini kini, Kematian ku nanti untuk Tuhan itu kali. Ke kemarin adalah ke sejarah. Sejarah tubuh sejarah jiwa sejarah ruh, Yg datang dari bumi dari dunia dari Allah, Saat lajang saat kawin saat beranak-pinak. - - Ya, suami itu tubuh istri itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1414&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/03/ke-kemaren3.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1419" title="Ke Kemaren3" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/03/ke-kemaren3.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a>Kutau kelahiran ku itu dari alam ini tadi,<br />
Kehidupan ku ini dalam dunia ini kini,<br />
Kematian ku nanti untuk Tuhan itu kali.</p>
<p>Ke kemarin adalah ke sejarah.</p>
<p>Sejarah tubuh sejarah jiwa sejarah ruh,<br />
Yg datang dari bumi dari dunia dari Allah,<br />
Saat lajang saat kawin saat beranak-pinak.<br />
-<br />
-<br />
Ya, suami itu tubuh istri itu ruh anak itu jiwa.<br />
Tubuh itu penuntut ruh itu penurut jiwa sering suka-suka.<br />
Penuntut karna lemah penurut karna kuat suka-suka bimbang.</p>
<p>Sejarah.<br />
Bila benar bahwa bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya, maka benar juga lah bahwa keluarga yg besar adalah keluarga yg menghargai sejarahnya juga dong, kan?</p>
<p>Dari kisah napak tilas itu perenungan ke kemaren ku jadi begini.<br />
Bila pernah aku bertanya, “Hari ini hari apa?”, maka aku takkan tau lah kemarin itu hari apa dan dgn  besok pun apa kemarennya hari ini. Kadang kita lupa kepada tuntutan perubahan oleh waktu kepada kita yang tak terhindarkan itu. Kehidupan kudu maju terus tanpa ada tersedia hidup mundur yg berarti kita harus selalu berterimakasih kepada kemaren, mohon ampun atas kesalahan dan harus menghargai hari ini, the now, the power of now!</p>
<p>Setiap mudik, aku selalu mengenang banyak kejadian lampau, berharap bertemu teman, bertanya kabar terakhir handai taulan dan sanak family, bertanya prospeknya mendatang sekilas. Yang sering panjang ceritanya adalah mengenang kejadian cerita lama, cerita yg berulang tapi tetap menarik yaitu ttg kejadian-kejadian yg hampir-hampir lupa, cerita nenek moyang yg dari mulut ke mulut. Ya! Cerita nenek moyang! Entah kenapa disebut nenek-moyang padahal yg diceritakan adalah mayoritas petualangan para lelaki semua, cerita “kakek moyang”. Cerita itu selalu ada tambah-kurang atau pengulangan yg beda-beda tipis ttg kisah saudara-saudara leluhurku, sehingga aku mengerti silsilahku dari jurnal-jurnal yg mereka buat secara kasar dan kusam, bahwa aku adalah generasi ke lima belas dari marga Simanjuntak (H-15) yg berarti putra-putraku adalah Simanjuntak (H-16). Bagai mana mungkin aku bisa mundur lebih teratur melihat ditel kedahsyatan hulu dan muara dari tepian kini jika aku tidak punya data atau aku tidak pernah diberi cerita, kan? Lalu ada ide, dan sudah kumulai ide itu di era maya ini, membuat ensiklopedi keluarga agar generasi kami mendatang bisa lebih mudah menelusuri dirinya yg berhulu dan yg hidupnya akan bermuara itu. Data silsilah kutulis menggunakan program aplikasi excel hingga bentuknya menjadi percis spt struktur management folder dan kisah dramatis penting dari kreasi jiwa-jiwa kutulis menggunakan program aplikasi words. Setahun sekali (baru dua-kali koq) seluruhnya ku convert ke dalam format pdf dan ku buat hard copy lalu kubagi-bagikan ke sanak family yg jauh dan dekat utk dikoreksi atau utk nanti diupdate lagi. Ada rencana memanfaatkan <a href="http://www.myheritage.com/">www.myheritage.com</a> nantinya secara terbatas, lengkap dgn foto-foto. Entah lah!</p>
<p>Lanjutan sejarah tubuh, jiwa dan rohaniku itu gini:<br />
Boleh dibayangkan secara sederhananya bahwa peristiwa penting yang dapat  kuingat sepuluh thn terakhir, bila kutuliskan pada buku bisa jadi sekitar sepuluh halaman. Dan, peristiwa penting yg bisa kuingat ketika umurku sepuluh tahun, bila ku tulis pada buku maka  mungkin hanya bisa jadi satu halaman saja. Dan lagi, peristiwa penting yg bisa kutulis ketika aku masih balita mungkin paling-paling bisa tak lebih dari sepuluh kalimat. Kemudian, peristiwa yang paling penting pada masa lalu ku yaitu pd saat kelahiranku, tentu aku tak bisa menulis apa pun ketika dominan tubuh. Pada peristiwa itu aku hanya percaya aja lah kepada kata orang-orang di sekitarku tanpa ada peng-alam-an, bahwa aku pasti pernah dilahirkan dan tentu pernah meng-alam-i masa bayi. Seperti pd semua bayi hingga kini, aku pun pasti pernah berkejut, bersedu dan bersenyum tentunya. Aku pasti pernah terjatuh dan menangis dan tertawa seperti anak-anak lainnya.</p>
<p>Bila dgn iman percaya seperti itu kupaksakan utk menuliskan kisah pentingku lebih jauh lagi kebelakang berdasarkan cerita atau kesaksian-kesaksian orang-orang lain, maka yang terjauh yang dapat kumengerti adalah kisah kakek dari Bapakku yg bisa kurekam jejaknya dan kuhayati ceritanya dari Bapakku atau dari Nenekku. Tragedi kehidupan yang lain adalah kisah-kisah migrasi dari Kakeknya kakekku atau moyangku yg bagai dramatis luar biasa. Bila diteruskan lagi mundur kebelakang lagi dan lagi dari moyangku, maka pasrah lah aku dan pasti lah kemuliaan Tuhan yang harus kutemukan. Apa mungkin malah pesona Iblis yg kita temukan di kemaren sana, jika kita memang anak yang bingung pada harmoni, benci masa lalu, dan tak pernah kenal orang tua atau pernah tau asal usul diri ini? Tapi kurasa, jika kita mau, Tuhan dapat mengajari hulu diri ini dan muaranya walau hidup kita dimulai dari Tsunami atau prahara lainnya. Secara rohani kita dapat  mencoba berandai mundur sendirian hingga mentok entah dimana. Maksudku, aku tetap ada di sini pada saat ini tapi tubuh dan rohku dimundurkan bertambah muda menuju balita, lalu menjadi bayi, dan lalu berada di dalam kandungan, lalu terus mundur lagi ke sebelum terjadi pembuahan utk diriku dan lalu mundur lagi dan lagi dan stop dulu di titik itu.</p>
<p>Nah, pada titik itu aku boleh pantas memperhatikan bahwa perempuan itu bukanlah siapa-siapa bagiku. Dia sama saja dgn perempuan-perempuan lainnya. Dan, pemuda itu pun bukanlah siapa-siapa bagiku, dia sama saja dgn lelaki-lelaki lainnya. Tapi entah dgn kekuatan apa, entah cinta yg bagaimana dan dari mana hingga mereka bisa bertemu kemudian bersepakat membentuk rumah tangga dan diberkati hingga akhirnya kini laki-laki itu kusebut Bapak ku dan perempuan itu kusebut Ibu ku. Semua kita tentu harus punya kisah awing-awang yg ginian.</p>
<p>Mengapa aku mampu meniadakan semua prosedur baku yg ilmiah mencari utk mencari bukti bahwa mereka adalah Bapak dan Ibu ku? Sama saja dengan bertanya, mengapa aku mencintai mereka melebihi cinta ku kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu lainnya? Yah, tentu karena pengalaman cinta mereka pd ku, kualitas dan kuantitasnya yg berlebih itulah yang membuat cintaku menjadi begini tulus kepada mereka. Aku mencintai mereka lebih dari lainnya bukan saja karena terbayang telah merawatku sejak dlm kandungan dan membesarkanku, mendewasakanku di dunia fana ini, tapi juga karena suatu kekuatan yang mempersatukan dan meneguhkan  semuanya, yaitu antara Bapakku itu dgn Ibuku itu dan dgn diriku ini. Demikianlah cintaku pada mereka melebihi cinta ku kepada orang lain karena bayangan itu bahwa cinta mereka telah sangat luar biasa kepada ku. Jadi, lojik lah demikian barang kali!</p>
<p>Dari titik tadi, bila kuteruskan bergerak dgn memundurkan waktu lebih kencang dan lebih jauh lagi, maka pasti aku tidak dapat mengenali tragedy pemuda tadi karena mereka belum dilahirkan. Demikian juga aku tidak bisa kenal nenek moyangku karena dgn mundur sekenceng begitu mereka juga semua bisa mudah kumengerti belum dilahirkan. Apakah aku keliru mundur bila aku menjadi pusing sampai disini? Bila  aku masih boleh mundur terus, maka ku tau bahwa mungkin Adam dan Hawa adalah yg paling bertanggungjawab atas keberadaan ku kini. Atau apakah ada rute bercabang yg membuat aku pusing hingga aku nggak mungkin mundur hingga sampai ke Adam dan Hawa melainkan terpaksa mundurnya masuk rute sub folder Darwin? Atau apakah rute-rute bercabang di belakang itu itu juga menyatu kembali di pangkalnya hingga kesatuan rute itu mentok lagi di hadirat kemuliaan Allah? Bila benar dan pasti demikian maka penyebab awal kelahiranku adalah pasti Allah. Allah lah yg bertanggung jawab atas keberadaan ku di dunia ini. Bila ini benar maka porsi cintaku yg tadi juga harus kurobah, bahwa aku tidak harus mencintai orang tuaku melebihi cintaku kepada Allah. Jadi bila demikian, ada banyak cintaku yg harus dipersoalkan kadarnya agar jangan sampai melebihi cintaku kepada Allah Yang Maha Esa penyebab utama keberadaanku di dunia ini. Dan, bila ternyata segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan, maka semua kita tidak perlu kecewa atau bahagia memiliki keturunan yg jelas atau tak jelas karena cinta Allah tak berkesudahan dari dulu hingga kini dan kemudian.<br />
Lahir itu alamiah, mati itu kudu rohaniah.</p>
<p>Jadi, yg terutama patut dicintai adalah Allah itu sendiri dan mencintai Allah harus dengan segenap hatiku dan dengan segenap jiwaku dan dengan segenap akal budiku. Yang kedua, yang sama dengan itu  adalah mencintai orang tuaku, keluargaku, familiku, temanku ataupun orang lain yang harus sama kadar cintanyanya seperti aku mencintai diriku.</p>
<p>Dalam Kitab Suci banyak tertulis silsilah-silsilah keluarga, banyak tertulis tragedy kedahsyatan dan keapesan seseorang. Begitu juga dgn sejarah dunia banyak riwayat yg telah menuliskan kehebatan-kehebatan dinastinya atau kelompoknya dan banyak usaha menyembunyikan ketidak hebatannya. Ada kesan bahwa hanya orang-orang hebat yg memerlukan garis keturunan itu. Belakangan pengertian hebat di sini seolah hanya monopoli orang yg berjiwa besar, orang kuat perkasa, orang yg mampu menguasai keduniaan, kaum raja-raja atau kaum bangsawan atau ningrat. Menurutku, sebenarnya contoh-contoh penerapan marga atau garis keturunan itu adalah para kaum yg sangat menghargai sejarahnya. Itu saja sebenarnya, spt di atas dikatakana  “Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya”, keluarga yg besar pun seyogianya kudu begitu, kan?</p>
<p>Kita pun kurasa, perlu menerawang masa lalu agar mudah meneropong masa depan. Demikian halnya pd pembelajaran dan demikian juga halnya pd pengalaman. Sejarah garis keturunan yg ada di dalam Kitab Suci dominan mengandung sejarah kerohanian. Sejarah garis keturunan yg ada di kerajaan dominan mengandung sejarah kejiwaan. Sejarah garis keturunan yg sedang kubuat dgn program excel itu &#8211; masak nggak bisa membuat garis keturunan &#8211; sementara ini masih dominan kedagingan kali. Tengok lah juga, banyak sudah binatang-binatang unggul telah memiliki garis keturunannya sendiri-sendiri yg cukup jelas seperti pd keturunan anjing Herder dan burung Perkutut aduan.  Hal ini patut kita renungkan dan tandingkan dgn setiap sejarah yg telah ada demi masa depan berpikir diri dan berpikir keturunan.</p>
<p>Kupikir, bila semakin jauh kita menerowong kebelakang bisa ketemu Tuhan, semakin jauh kita meneropong kedepan juga bisa ketemu Tuhan, maka benar juga lah bahwa, semakin pendek jangkauan kita menerawang diri kebelakang akan semakin pendek juga lah kita dapat melihat diri ke depan. Entah lah!</p>
<p>Dengan perenungan-perenungan yang mirip seperti ini maka penting lah kita mengumpulkan data pelajaran kehidupan kemarin untuk bahan pemikiran hari ini yg akan menjadi kemarin bagi keturunan kita kelak. Dgn kata lain, kita menjadi begini karena kita telah begitu dulu. Data itu penting, spt pd kisah-kisah di dalam Kitab Suci ttg riwayat-riwayat Nabi-nabi atau Raja-raja, kebaikan keburukan keborokan dikuakkan di situ. Keturunan dilanjutkan, semua peristiwa-peristiwa penting dituliskan untuk dipelajari, dihayati, diteladani, disiasati, atau pun utk dihindari  dll. Hanya dgn begitu ada pembelajaran, hanya dgn begitu lebih memaknai pengalaman kehidupan.</p>
<p>Kita bisa dan mudah membuat sejarah diri di era komunikasi ini jika kita mau. Data dihimpun bersama via sms atau email, di update reguler, direvisi, ditambah dgn data baru atau kisah baru yg pernah hilang dan ditemukan dgn kerinduan. Data yg terhimpun satu-dua lembar  diterbitkan sesekali yg lama kemudian menjadi sebuah buku bahkan menjadi ensiklopedi keluarga dlm tempo 200 tahun misalnya. Lembar lembar data itu dapat menjadi bahan awal utk latihan mengenal jauh kebelakang berlatih mencintai leluhur  hingga tiba ke hadirat Tuhan. Tidak aneh jika kita sebaiknya hidup seturut dgn riwayat-riwayat yg menjamin dan mencerminkan kebahagiaan dan keselamatan. Aneh lah jika kerjaan kita melulu mengadu-adu  riwayat yg ada, sementara diri yg penuh riwayat kedagingan, kejiwaan dan kerohanian tidak kita hiraukan sama sekali, kan? Dan bagai mana mungkin kita dapat sungguh mencintai Tuhan yg belum pernah kita kenal sementara mencinta sanak saudara yg telah kita kenal pun masih angin-anginan. Alangkah sayang jika kita lebih berlelah menghargai atau memulia-muliakan suatu sejarah lain dari pada berlelah mengetahui sejarah diri sendiri, karena semua pangkal dan akhir semua sejarah adalah pada-Nya.</p>
<p>Jadi menurutku, jika benar bahwa sejauh menerawang ditel diri kebelakang akan ketemu Tuhan dan sejauh menerawang ditel diri kedepan juga pasti ketemu Tuhan, maka benar bahwa semakin pendek jangkauan kita menerawang diri kebelakang akan sependek itu lah kita dpt memandang ditel hidup di depan.</p>
<p>Semoga oleh-olehku ini, bungkus-3 ini, ttg keingintahuan silsilah diri sendiri lebih jauh kebelakang dapat tumbuh dgn sendirinya secara mentakjubkan hingga yakin keseluruhanya bermula dan bermuara kepada hadirat Allah Yang Maha Esa.</p>
<p>Salam Pikir Tiga!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/1414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/1414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/1414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/1414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/1414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/1414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/1414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/1414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/1414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/1414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/1414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/1414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/1414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/1414/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1414&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2010/03/11/33-ke-kemaren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/03/ke-kemaren3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Ke Kemaren3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(2/3) Ke Kemaren!</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2010/01/23/23-ke-kemaren/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2010/01/23/23-ke-kemaren/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 15:28:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Babilonia]]></category>
		<category><![CDATA[Bangsa-bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Persia]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat lil alamin]]></category>
		<category><![CDATA[Raja-raja]]></category>
		<category><![CDATA[Romawi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=1358</guid>
		<description><![CDATA[- I believe in yesterday, yeah! Yesterday is learning, Dgn otak, akal dan pikir. Learning to know, Learning to do, Learning to be! &#8212; Kepada apa lagi kita perlu “learning&#8221;? Selain kepada sejarah tubuh, jiwa dan roh, Kepada kelahiran,  kehidupan dan kematian, Dan kepada sejarah alam,  manusia dan Tuhan, Selain kepada sejarah nusa, bangsa dan bahasa? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1358&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/01/ke-kemaren21.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1363" title="Ke Kemaren2" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/01/ke-kemaren21.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a>-<br />
I believe in yesterday, yeah!<br />
Yesterday is learning,<br />
Dgn otak, akal dan pikir.</p>
<p><strong>Learning to know,<br />
Learning to do,<br />
Learning to be!</strong></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Kepada apa lagi kita perlu “learning&#8221;?<br />
Selain kepada sejarah <span style="color:#008000;">tubuh</span>, <span style="color:#ff0000;">jiwa</span> dan <span style="color:#0000ff;">roh</span>,<br />
Kepada <span style="color:#008000;">kelahiran</span>,  <span style="color:#ff0000;">kehidupan</span> dan <span style="color:#0000ff;">kematian</span>,<br />
Dan kepada sejarah <span style="color:#008000;">alam</span>,  <span style="color:#ff0000;">manusia</span> dan <span style="color:#0000ff;">Tuhan</span>,<br />
Selain kepada sejarah <span style="color:#008000;">nusa</span>, <span style="color:#ff0000;">bangsa</span> dan <span style="color:#0000ff;">bahasa</span>?</p>
<p>Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya!<br />
Bangsa yg besar bukan lah bangsa yang ingin mengulangi sejarahnya, karena sejarah adalah masa lalu yg selalu bermasalah dan pula waktu itu berjalan maju ke arah kesempurnaan dan kesempurnaan itu bukan ada di masa lalu. Jadi, merindukan “today of yesterday” itu ibarat mimpi mundur lah.</p>
<p>Bangsa yg besar bukan juga bangsa yg suka menyembunyikan sejarahnya, atau bangsa yg suka usil kepada sejarah bangsa lain, untuk apa. Yah, utk apa lagi selain utk menghibur diri dgn meninggi-ninggikan bangsanya dgn memoles-molesnya agar keren segitu. Padahal, segala sembunyian yg busuk pasti terkuak, segala sembunyian yg harum pasti semerbak, utk itu tak perlu teriak-teriak. Waktu berjalan maju, kesempurnaan ada di depan,  bukan di belakang.</p>
<p>Pengalaman sejarah gagal-bangsa tak usah dipikir lagi, banyak yg sudah teronggok jadi barang antik pembelajaran akibat tingkah laku yg “unbalance” kepada tiga hal. Bila kita cuek kepada satu saja dari tiga ini, pun bila kita terlalu meng-elu-elu-kan satu saja kepada tertiga ini: pada alam, pada manusia atau pada Tuhan, maka semua laku kita kepada dua lainnya adalah bohong belaka. Kepada tertiga itu sungguh tak patut timpang apa lagi ompong.</p>
<p>Ada orang yg kebanyakan kerjanya meninggi-ninggikan Tuhan Yang Maha Tinggi, seolah terasa bagi dirinya semangkin rendah, tapi mengabaikan manusia atau alam, semisal para petapa atau kaum sufi yg selesai dibantai orang Mongol di Bagdad.</p>
<p>Ada juga orang yg mengagung-agungkan kekayaan alam, tapi mengabaikan Tuhan atau manusia, semisal kaum komunis dgn promosi “keadilan ilmiah”-nya yg agung dan tak laku lagi. Sovyet sudah selasai dan tinggal 5 negara lagi yg menganut pahamnya secara tidak kesumat.</p>
<p>Ada lagi orang yg mendewakan otoritas manusia, mengabaikan Tuhan atau alam, semisal jaman-jaman kerajaan dulu atau jaman diktator yg kemarin. Ini pun telah selesai! Semoga tidak ada lagi yg bermaksud mengkambuhkannya.</p>
<p>Bila kita yakin bahwa kita sebaiknya menjadi rahmat bagi semesta alam, maka renungkan lagi lah sejarah dunia itu agar tidak sulit menjawab hal-hal berikut ini:</p>
<p>- Harus kah kita ciptakan keadilam penguasaan alam?<br />
- Wajib kah memikirkan kelakuan Raja-raja atau Nabi-nabi?<br />
- Boleh kah ritual kpd Tuhan dikensel demi kemanusiaan?</p>
<p>Renungkan lagi lah pasnya sejarah di atas itu. Semua keburukan dan kesalahan, keserakahan dan kehancurannya itu pernah ada dan mungkin bakal tetap ada karena selalu tergoda oleh janji-janji yg beda. Kekayaan alam menjanjikan nikmat kemakmuran nyata, kuasa manusia atas dunia menjanjikan kehebatan logika, anugrah Tuhan menjanjikan damai-sejahtera maya.</p>
<p>Kita telah diberi kuasa oleh Tuhan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, bukan untuk menguasai dunia ini, karena Tuhan begitu mengasihi dunia ini. Menguasai dunia telah pernah bagai menjanjikan kebahagiaan abadi bagi pribadi-pribadi manusia dulu. Sekarang tidak ada lagi orang yg bangga mengaku sebagai bangsa Babilonia atau bangsa Romawi atau bangsa Persia yg dulu mereka pernah jaya sebagai bangsa superpower dunia. Semua istana raja-raja dan benteng-benteng yg dibangun berdarah-darah telah menjadi objek wisata belaka. Demikian juga halnya dgn gereja-gereja di Eropa sudah banyak yg terbengkalai, bahkan Catedral besar pun yg dibangun dgn semangat ketuhanan yg tinggi telah lebih menjadi objek wisata rohani ketimbang menjadi gereja turis. Ingat juga peristiwa tragis Galileo Galilei.</p>
<p>Kita telah cukup belajar,<br />
Kita telah banyak bertengkar,<br />
Dan kita telah lelah berkela hi hi hi!</p>
<p>Nyata sudah:<br />
- Kalah jadi abu,<br />
- Menang jadi arang,<br />
- Kayu bakar jadi abis.</p>
<p>Jadi,<br />
Jadilah rahmat lil alamin saja,<br />
Bukan malah menjadi lainnya,<br />
Percuma deh dan kesian de lu,<br />
Ditonton turis.</p>
<p>Demikian bungkus-2!<br />
Salam Pikirtiga!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/1358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/1358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/1358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/1358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/1358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/1358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/1358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/1358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/1358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/1358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/1358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/1358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/1358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/1358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1358&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2010/01/23/23-ke-kemaren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>79</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/01/ke-kemaren21.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Ke Kemaren2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(1/3) Ke Kemaren!</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2010/01/12/13-ke-kemaren-tertiga/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2010/01/12/13-ke-kemaren-tertiga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 12:24:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Baheula]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jadul]]></category>
		<category><![CDATA[Jaman]]></category>
		<category><![CDATA[Kenakalan]]></category>
		<category><![CDATA[Kenangan indah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolot]]></category>
		<category><![CDATA[Kuno]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu lama]]></category>
		<category><![CDATA[Masa kanak]]></category>
		<category><![CDATA[Mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Ngampung]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Yesterday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=1285</guid>
		<description><![CDATA[Kemaren aku mudik, Ngampung; Plong &#8220;Rasa&#8221; nya. Yeah! Yesterday is learning, Today is decision and Tomorrow is the result. &#8212; Oleh-oleh mudikku akan penting luarbiasa kurasa. Pelan kucoba godok, agar pulen tak menyodok Aku inget Fay, korban ku itu, tak terulang! Utk itu, Kata KangBoed, Mari kita melamun Tuhan sejenak Tuhan di belakang dari yg [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1285&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/01/ke-kemaren1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1375" title="Ke Kemaren1" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/01/ke-kemaren1.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a>Kemaren aku mudik,<br />
Ngampung; Plong<br />
&#8220;Rasa&#8221; nya.</p>
<p>Yeah!<br />
<strong>Yesterday is learning,<br />
Today is decision and<br />
Tomorrow is the result.</strong></p>
<p>&#8212;<br />
Oleh-oleh mudikku akan penting luarbiasa kurasa.<br />
Pelan kucoba godok, agar pulen tak menyodok<br />
Aku inget Fay, korban ku itu, tak terulang!</p>
<p>Utk itu, Kata KangBoed,<br />
Mari kita melamun Tuhan sejenak<br />
Tuhan di belakang dari yg kemaren<br />
Melalui oleh-oleh-1 pembuka bungkus</p>
<p>Melamunkan  Tuhan pemerhati kita<br />
Melalui keliaran kita di masa remaja<br />
Adalah Tuhan yg sama di masa depan</p>
<p>Jadi,<br />
Sebelum kutuang godokan ku itu,<br />
Kuping-in dulu lah lagu-lagu jadul ini.<br />
Lagu yg, Onde, sayang dibuang!</p>
<p>Brat LOP!<br />
Kaparinyo, syairnya enak, loh.<br />
Mengingatkan kita kala kanak<br />
Dibuai Bundo mencak-mencak.</p>
<p>Ya! Mencak-mencak<br />
Mengingatkan kita berteman kompak tak lelah.<br />
Mengingatkan kita bernakal ria tanpa resah,<br />
Bak suka-suka kita di Dunia kono kanak itu.</p>
<p>Ku awali bungkus-1 ini dgn nasihat Ibu melalui mu LOP.<br />
Kuakhiri juga dgn kenangan Ibu melalui KangBoed demi &#8220;Jati Diri&#8221;<br />
Semoga Lae hh bisa-bisa juga menikmati tokel-tokelnya lah.</p>
<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='426' height='270' src='http://www.youtube.com/embed/J57AbvMUb6k?version=3&amp;rel=1&amp;fs=1&amp;showsearch=0&amp;showinfo=1&amp;iv_load_policy=1&amp;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
<p>&#8212;<br />
.</p>
<p>Brat Lamb,<br />
Here is the very jadul song,<br />
That will bring you far backward,<br />
Before I’ll bring you far-far away,<br />
To find a good god game to play.</p>
<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='426' height='270' src='http://www.youtube.com/embed/COLbULs08EQ?version=3&amp;rel=1&amp;fs=1&amp;showsearch=0&amp;showinfo=1&amp;iv_load_policy=1&amp;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
<p>&#8212;<br />
.</p>
<p>Bah! Sobat ku, Lae hh,<br />
Sedap kali kudengar tokel lagu lagu lama, Lae,<br />
Tengok lah sambil raun-raun kita ke kemaren, ya.<br />
Oleh-oleh ku sementara ini, yaitu itu dulu lah, tokel!</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=Gi0LVe1B9_M&amp;feature=PlayList&amp;p=4CDC9B517A29632A&amp;index=31"><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='426' height='270' src='http://www.youtube.com/embed/Gi0LVe1B9_M?version=3&amp;rel=1&amp;fs=1&amp;showsearch=0&amp;showinfo=1&amp;iv_load_policy=1&amp;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>&#8212;<br />
.</p>
<p>Utk Brat Joe, ah!<br />
Kau boleh lah liat-liat back-soundnya lagu ini,<br />
Kali-kali si Dek terdengar ada berdiri disana, hehe<br />
Syairnya sedih sih, jadi inget si Dek<br />
Salam hormat buat si Dek-mu, Joe!<br />
Kerinduan &#8230;</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=8GVclD42p78&amp;feature=PlayList&amp;p=FB2FBD2863636E36&amp;index=16&amp;playnext=12&amp;playnext_from=PL"><span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='426' height='270' src='http://www.youtube.com/embed/8GVclD42p78?version=3&amp;rel=1&amp;fs=1&amp;showsearch=0&amp;showinfo=1&amp;iv_load_policy=1&amp;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span></p>
<p>&#8212;<br />
.</p>
<p>Ole-ole Brader Tono ada dua:<br />
Tak Ngatemi pitek cilek pun jadi.<br />
Asyik ngadu pitek cilek dari pada Buto ijo<br />
Dengerin deh, katanya pitek cilik pasti menang!</p>
<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='426' height='270' src='http://www.youtube.com/embed/2tE9uQLF38k?version=3&amp;rel=1&amp;fs=1&amp;showsearch=0&amp;showinfo=1&amp;iv_load_policy=1&amp;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
<p>&#8212;<br />
.</p>
<p>Untuk Sobat KangBoed,<br />
Si Pengembara jiwa,<br />
Di Hening Malam!</p>
<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='426' height='270' src='http://www.youtube.com/embed/ZX1vs2l4KKM?version=3&amp;rel=1&amp;fs=1&amp;showsearch=0&amp;showinfo=1&amp;iv_load_policy=1&amp;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
<p>&#8212;<br />
.</p>
<p>Sobat, mungkin kurang bisa menikmati oleh-olehku bukus-1 ini, tapi sabar saja lah, ada dua bungkus lagi, hehe. Kalau bisa menikmatinya, makan lah dengan baik dan jangan ber lama-lama, kalau pun tak bisa, ya namanya oleh-oleh, boleh-boleh saja di letakkan sembarangan spt gantungan konci.</p>
<p>Ada pesan KangBoed yg bagus:<br />
<strong><em>“Sahabat.. mari kita diam sejenak,<br />
melamun di alam lamunan Tuhan..”</em></strong></p>
<p>Yes! KangBoed!<br />
Kau ingat bandel kita masa kanak<br />
Ingat lah kita berkali-kali dimaafkan.<br />
Tuhan menghendaki kita menjadi orang baik.</p>
<p>Salam Melamun Tuhan!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/1285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/1285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/1285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/1285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/1285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/1285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/1285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/1285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/1285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/1285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/1285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/1285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/1285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/1285/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1285&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2010/01/12/13-ke-kemaren-tertiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2010/01/ke-kemaren1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Ke Kemaren1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(3/3) Berpikir lintas mata telinga</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/12/11/berpikir-lintas-mata-telinga-33/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2009/12/11/berpikir-lintas-mata-telinga-33/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 18:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir, Berakal, Akal, Pikir]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Alami]]></category>
		<category><![CDATA[bicara]]></category>
		<category><![CDATA[Data]]></category>
		<category><![CDATA[Data Duniawi]]></category>
		<category><![CDATA[Data Illahi]]></category>
		<category><![CDATA[Kata]]></category>
		<category><![CDATA[Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Telinga]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=1174</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar untuk belajar berkata, Melihat adalah utk belajar bekerja. Mendengar dan melihat belajar berpikir. Bicara adalah awal berpikir Berpikir adalah awal bekerja Bekerja adalah awal menjadi JADI LAH RAHMATILALAMIN &#8230; Semua kata itu bergambar, semua gambar pun berkata. Data kata masuk lintas telinga, data gambar masuk lintas mata. Lalu-lintas kata dan gambar itu lah membuat kita bicara. Mendengar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1174&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1227" href="http://tertiga.wordpress.com/2009/12/11/berpikir-lintas-mata-telinga-33/berpikit-mata-telinga-5/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1227" title="Berpikit mata telinga" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/12/berpikit-mata-telinga2.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a>Mendengar untuk belajar berkata,<br />
Melihat adalah utk belajar bekerja.<br />
Mendengar dan melihat belajar berpikir.</p>
<p><strong>Bicara adalah awal berpikir<br />
Berpikir adalah awal bekerja<br />
Bekerja adalah awal menjadi</strong></p>
<p><strong>JADI LAH RAHMATILALAMIN</strong></p>
<p>&#8230;<br />
Semua kata itu bergambar, semua gambar pun berkata.<br />
Data kata masuk lintas telinga, data gambar masuk lintas mata.<br />
Lalu-lintas kata dan gambar itu lah membuat kita bicara.</p>
<p>Mendengar selintas terlihat sekilas.<br />
Ilustrasi bagus kureka dari Fay yg ceria,<br />
Seorang sobat perempuan yang tak lebih.</p>
<p>Mungkin saat itu,<br />
Fay sangat lelah karna bergadang bukan berdagang,<br />
Tapi karna berdendang dalam tulisan artikel gadang,<br />
Walau besoknya adalah kuliah kejam menghadang.</p>
<p>Pagi itu dia separuh berlari menuju ke ruang kuliah.<br />
Duduk anggun senyum pipit mulai ngantuk slowli banget.<br />
Masih terdengar suara penuturan kelopak mata telah tutup.</p>
<p>Tiba-tiba suara …<br />
“Fayyyy, houy!!!” Namanya bergaung di ruang lintas telinga.<br />
Telihat selintas dirinya jatuh di tengah tanah lapang rumput.<br />
Kaget lah!<br />
Yang mengaum itu adalah Dosen yg jatuh itu ialah pulpen.<br />
Fay rada nunduk mengatur ulang senyum pipitnya yg rusak.<br />
Malu lah kan? Ya, lah tentu!</p>
<p>Demikian lah tragedi selintas Fay<br />
Pada selintas dengar selintas lihat.<br />
On time in her.</p>
<p>Mendengar itu lebih dulu bisa dari pada melihat.<br />
Melihat itu lebih dulu habis dari pada mendengar.<br />
Tapi mereka maya tak ada habis-habisnya, keknya.<br />
Mereka abadi di Surga pun juga di Neraka.<br />
Gambar-gambar itu mulai ada.<br />
Suara-suara itu mulai dengar.<br />
Dari data mata data telinga.</p>
<p>Demikian pun kita pasti lah punya data peng-alam-an yg memalukan.<br />
Bercermin lah sering agar kita tidak malu nanti ketika menutup-mata,<br />
Mati keren maksudku.</p>
<p><strong>Kesimpulan sementara<br />
Berpikir lintas mata telinga 1-3:</strong></p>
<p>Mata dan telinga adalah perangkat input data.<br />
Data mata dan data telinga itu kompatebel.<br />
Tidak hrs ada interlocking di antara mereka.</p>
<p>Data bisa masuk dari mana saja ke diri ini.<br />
Tapi tak semua data menjadi data pikir.<br />
Kecuali bila telah biasa dipaksa mikir.</p>
<p>Itu lah gunanya sekolah dan atau merantau,<br />
Mata dan telinga terbiasa fokus dan peka,<br />
Sehingga terlatih paksa berpikir data.</p>
<p>Wajah adalah sumber pembelajaran tau kita.<br />
Gambar dan kata adalah getar pancaran data.<br />
Resonansi hati menyimpan data sahih.<br />
Data trengginas tersimpan di dlm otak.<br />
Data primitif terserap di kitaran kulit.</p>
<p>Bole juga gini simpulnya:<br />
&#8212; Data Illahi tersimpan di hati<br />
&#8212; Data duniawi tersimpan di otak<br />
&#8212; Data alami tersimpan di kitaran kulit<br />
Gitu kali pasnya!</p>
<p>Demikian, sobat.<br />
Berpikir lah untuk menjadi.<br />
Itu lah kesimpulan seri berpikir kita.</p>
<p>Mungkin ada guna, semoga lah ada.<br />
Demi menuju gerbang keabadian<br />
Abadi penglihatan dan pendengaran.</p>
<p>Salam Damai!</p>
<p>NB:<br />
Fay sobat yg masih marah kepadaku.<br />
Karena aku terlalu menghinanya???<br />
Aku sih sayang sip aja kepadanya!<br />
Sorry, Fay! You are in my prayer!<br />
<a href="http://tertiga.wordpress.com/2009/04/27/inspirasi-sasie-kirana/#comment-239">http://tertiga.wordpress.com/2009/04/27/inspirasi-sasie-kirana/#comment-239</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/1174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/1174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/1174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/1174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/1174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/1174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/1174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/1174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/1174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/1174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/1174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/1174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/1174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/1174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1174&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2009/12/11/berpikir-lintas-mata-telinga-33/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>106</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/12/berpikit-mata-telinga2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Berpikit mata telinga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(2/3) Berpikir lintas mata telinga</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/11/29/berpikir-lintas-mata-telinga-2/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2009/11/29/berpikir-lintas-mata-telinga-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 15:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Agresivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Believe and you will see]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan dgn gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>
		<category><![CDATA[See and believing]]></category>
		<category><![CDATA[Siksa kubur]]></category>
		<category><![CDATA[Wajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=1044</guid>
		<description><![CDATA[Konsumsi jiwa adalah nyata, Pencerna utama adalah mata. Bagi jiwa: “See and believing”. Konsumsi roh adalah maya, Pencerna utama adalah telinga. Bagi roh, “Believe and you will see”. Dulu ada kutengok penelitian klasik di TV, satu kelas anak-anak TK dibagi dua kelompok, satu kelompok Cingcau dan satu kelompok Cendol (sori, bukan bunga-bungaan). Anak kelompok Cingcau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1044&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1218" title="Berpikir lintas mata telinga" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/11/berpikit-mata-telinga.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" />Konsumsi jiwa adalah nyata,<br />
Pencerna utama adalah mata.<br />
Bagi jiwa: “See and believing”.</strong></p>
<p><strong>Konsumsi roh adalah maya,<br />
Pencerna utama adalah telinga.<br />
Bagi roh, “Believe and you will see”.</strong></p>
<p>Dulu ada kutengok penelitian klasik di TV, satu kelas anak-anak TK dibagi dua kelompok, satu kelompok Cingcau dan satu kelompok Cendol (sori, bukan bunga-bungaan). Anak kelompok Cingcau dibawa kesatu ruangan dan disajikan dongeng perkara-perkara sekitar tubuh, perkaitan alam, tumbuhan dan binatang. Mereka bagai belajar berpikir melalui suara Ibu Guru yg lembut masuk ke telinga dikonversi menjadi gambar-gambar di matanya. Mereka penuh riang penuh senyum penuh tawa bersama dlm mendengarkan apa-apa yg bersesuaian dgn peng-alam-an emosi harian mereka. Telinga itu telah menyerap pelajaran nyata dari gambar maya.</p>
<p>Murid kelompok Cendol dibawa ke ruang lain, disugukkan filem pendek bisu, lucu penuh tawa, karena di dalam filem itu ada Ibu Guru mereka yg sedang beraksi dgn raut wajah emosi thp sebuah boneka angin,  boneka besar setinggi mereka. Boneka itu ditonjok jengkang tapi bangun lagi, ditendang jengkang lalu bangun juga dan selalu bangun tegak berdiri seperti semula walau dicampakkan ke mana pun. Bisa demikian karena ada pemberat cembung di bagian dasar boneka itu. Mereka melihat bagai mana Ibu Gurunya beraksi kesal geleng-geleng kepala berekpresi lelah. Murid kelompok Cendol tertawa riang dan turut gemes ingin membantu. Mereka bagai belajar berpikir melalui gambar wajah Ibu Guru yg merengut. Gambar itu masuk melalui mata dikonversi menjadi jeritan suara di telinga mereka. Mata telah menyerap pelajaran nyata dari gambar nyata.</p>
<p>Tujuh menit kemudian ke dua kelompok tadi dibawa masuk ke ruang khusus bermain. Di ruang itu tersedia aneka macam mainan anak-anak. Nah, di sini langsung terlihat efek perlakuan yg baru saja diterima tadi. Murid kelompok Cingcau bermain dgn mainan mobil-mobilan atau kereta-keretaan atau boneka barbie dll. Beberapa boneka angin yg juga terdapat di situ hanya mereka sentuh sekedarnya dan ada yg  merabanya aja; Goyang, udah. Boneka itu terlalu besar, susah dimainkan, pikirnya kali.</p>
<p>Kontras dgn kelompok Cingcau, mayoritas anak kelompok Cendol langsung fokus kepada boneka-boneka angin itu. Mereka menonjok boneka itu hingga jengkang, lau menendangnya, merebahkannya,  dan ada yg mendudukinya mengeroyoknya dgn dua orang agar boneka tidak dapat berdiri lagi. Ada juga yg membantu  menggetok kepala boneka itu dgn palu plastic atau dgn mainan yg spontan terjangkau di sekitar boneka yg sedang didudukinya itu.  Ruar biasa, pikirku! Betapa dahsyat pembelajaran mata itu; Utamanya perkembang-biakan  agresifitas!</p>
<p>Begitulah kontrasnya perbedaan penyerapan pembelajaran antara pembelajaran  lintas telinga dan pembelajaran  lintas mata, yaitu pembelajaran maya dan pembelajaran nyata. Kurasa, pesan pelajaran itu bersumber  dan terpancar dari wajah Ibu Guru mereka. Wajah itu lah fokus pembelajaran mereka. Wajah itu lah sebagai data utama yg masuk lintas telinga atau masuk lintas mata menuju pikiran si anak.</p>
<p>Metoda ajar dapat saja dibalik. Misalnya, pembelajaran yg keras-keras pejal kaku itu dilakukan melalu suara spt sering ada pd khotbah-khotbah berang dgn wajah meringis dan melotot. Hasilnya mirip dgn aksi sobat-sobatku dulu ketika kanak. Dia menceriterakan siksa kubur kepadaku dgn bumbu-bumbu serem yg kebangetan. Ceritanya seolah mengada-ada dan tak terbantahkan. Kurasa ceritanya itu melebihi dari apa yg dia dengar dari Gurunya atau dari Kakaknya. Yg ginian ini diturun-temurun kayaknya dan dikembangbiakkan kadang hingga dewasa, baik secara sadar ataupun secara pingsan. Mungkin hal itu bertujuan utk segera menyolehkan si anak, kali. Aku pernah membaca cerita komiknya ttg siksa kubur itu sekali saja ketika kanak dan pernah melirik sinetronnya sekilas aja saat dewasa. Dalam hatiku, mubajir mengamatinya, pikiranku bisa mandul lama-lama!</p>
<p>Salam Damai!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/1044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/1044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/1044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/1044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/1044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/1044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/1044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/1044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/1044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/1044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/1044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/1044/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/1044/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/1044/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=1044&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2009/11/29/berpikir-lintas-mata-telinga-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>68</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/11/berpikit-mata-telinga.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Berpikir lintas mata telinga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(1/3) Berpikir lintas mata telinga</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/11/12/berpikir-lintas-mata-telinga-1/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2009/11/12/berpikir-lintas-mata-telinga-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 23:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Believe and you will see]]></category>
		<category><![CDATA[Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Melihat]]></category>
		<category><![CDATA[Mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[Nina Bobo]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pencerna makanan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Pencerna makanan roh]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir tiga]]></category>
		<category><![CDATA[Sea and believing]]></category>
		<category><![CDATA[Telinga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=958</guid>
		<description><![CDATA[Pada kanak: See and believing! Dewa-sa: Believe and you will see! Berpikir lintas mata adalah pembelajaran yg selalu menuntut bukti, suatu pembelajaran yg selalu ingin memuaskan jiwa; “See and believing”. Mata adalah alat pencerna pertama makanan jiwa, yaitu yg keras-keras, pejal, mendebarkan. Berpikir lintasi telinga adalah pembelajaran yg tidak selalu menuntut bukti, suatu pembelajaran yg [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=958&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a rel="attachment wp-att-1221" href="http://tertiga.wordpress.com/2009/11/12/berpikir-lintas-mata-telinga-1/berpikit-mata-telinga-4/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1221" title="Berpikit mata telinga" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/11/berpikit-mata-telinga2.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a>Pada kanak: See and believing!<br />
Dewa-sa: Believe and you will see!</strong></p>
<p>Berpikir lintas mata adalah pembelajaran yg selalu menuntut bukti, suatu pembelajaran yg selalu ingin memuaskan jiwa; “See and believing”. Mata adalah alat pencerna pertama makanan jiwa, yaitu yg keras-keras, pejal, mendebarkan.</p>
<p>Berpikir lintasi telinga adalah pembelajaran yg tidak selalu menuntut bukti, suatu pembelajaran yg tidak selalu ingin memuaskan jiwa melainkan rohani; “Believe and you will see”. Telinga adalah alat pencerna pertama makanan rohani, yaitu yg halus-halus, ilang, mengherankan.</p>
<p>Setiap gambar yg dilihat mata selaalu memiliki kata dan setiap kata yg didengar telinga selalu ada gambarnya. Gambar nyata masuk melalui mata, kata maya masuk melalui telinga. Tulisan ini adalah gambar-gambar kata yg masuk melalui mata seolah terdengar ditelinga lalu membentuk imej keseluruhan pelukisnya. Kita bagai dpt mendengar apa yg kita lihat dan kita seolah dapat melihat setiap apa yg kita dengar. Demikian halnya dgn Beethoven yg ketika menuliskan Symphony No.9 dalam keadaan tuli total. Dia dapat mendengar karyanya itu dengan mata, kita dapat melihat keagungannya dengan telinga.</p>
<p>Dalam keadaan sadar, kata-kata sering terdengar jelas, tapi gambar-gambarnya sering burem. Dalam keadaan tak sadar atau tidur, gambar-gambarnya sering terlihat jelas,  tapi kata-katanya terdengar samar (tengok lah mimpi-mimpi kita). Jadi, mata dan telinga memberi pelajaran utama bagi kita utk berkata dan berbicara.</p>
<p>Kurasa, pelajaran pertama yg diserap seorang anak dari ego dunia ini adalah belajar dari mendengar, kemudian yg kedua adalah belajar dari melihat. Kedua input pelajaran itu adalah utk belajar berkata-kata. Ketika di dalam kandungan anak sudah bisa mendengar,  utamanya mendengar denyut jantung Ibunya, mungkin juga dia mendengar desir aliran darah, mendengar suara tarikan dan hembusan nafas  dan mendengar suara bicara Ibunya. Miriplah keknya bagai kita mendengar suara bineng dan suara gemuruh bila kita menutup telinga rapat-rapat.</p>
<p>Pengajaran pertama yg diberikan oleh Orang-tua kepada anaknya ialah mencintainya. Ibu memperdengarkan kata-kata cintanya dgn berbicara monolog dan kadang dgn bersenandung atau bernyanyi solo utknya semata. Seluruh bangsa dan suku di dunia ini keknya mempunyai lagu kanak-kanak sejenis “Nina Bobo”, lagu penghantar tidur bagi anak. Seluruh bangsa dan suku mengerti arti kata “Mama” dan “Papa”, kata yg mudah dilafalkan si mulut mungil berlidah pendek itu utk berkomunikasi dgn Orang-tuanya. Kata “Bunda” dan “Ayah” atau “Ibu” dan “Bapak” adalah kata berikut yg lebih sulit diucapkannya dan boleh saja dipilih utk meluaskan arti cinta pada orang yg lebih tua nantinya.</p>
<p>Begitulah rupanya kita masing-masing beroleh cinta, seperti halnya juga cinta Allah kepada manusia, bahwa Allah-lah yg terlebih dahulu mencintai manusia itu melalui banyak ciptaan yg dipersiapkan utk kebutuhkan kita. Allah-lah yg terlebih dahulu bermonolog kepada kita melalui Firman-firmannya. Allah-lah yg terlebih dahulu bernyanyi melalui desir angin cemara, bunyian jangkrik malam dan mungkin juga melalui nada gesek  antara planet dgn gas asing, termasuk desin gesekan dgn Bumi ini yg senantiasa bergerak dgn kecepatan konstan sekitar 2,5 juta km/hari mengitari matahari. Banyak sekali keteladanan yg Allah paparkan terlebih dahulu kepada kita manusia untuk bahan pengajian kita di bumi ini.</p>
<p>Bagi anak, nyanyian dan kata yg terpilih adalah sangat penting bagi pertumbuhannya. Kita Orang-tua memilih kata-kata yg tepat dan gampang dicerna ketika memujinya terlebih lagi ketika kita memarahinya. Dan,  bila marah pun kita padanya harus lah direncanakan terlebih dahulu dgn baik termasuk caranya, waktunya , kata-katanya pun hrs dipilih agar tidak asal ceplos, dan perlu menyediakan celah sempit utk jalan pemakluman kesalahannya sebagai katup pengaman emosi jiwa, sekaligus utk teladan kasih dan pengampunan dari Orang-tua kepada anaknya.</p>
<p>Dlm keadaan normal sebaiknya anak diberi satu bahasa saja yg sederhana dan satu nyanyian yg juga harus sedarhana. Bahasa itu adalah bahasa anak yg kalau dituliskan kedalam text sepertinya bahasa itu kedengaran bego gitu. Sebenarnya kita tidak bego dan anak pun tidak bego situasi dan posisinya  lah yg menghendaki bahasa itu spt be-begoan. Kata atit artinya sakit, mimim dan mamam artinya haus dan lapar, dst. Kadang kita juga memberikan permainan “Tang” yg lucu berkali-kali agar si anak ikut bergembira dan tertawa bersama nuansa Ibunya. Ketiak si anak diapit dgn ke dua tangan si Ibu, lalu ditinggikan dan  “Tang-ting-tang-ting-tang-ting-tang 3x”,  lucu Tang itu. Begitu indahnya, sederhananya lintasan cinta itu. Orang yang melihat pun terpaksa bahagia.</p>
<p>Ada pengamatanku sekilas pada anak tetangga yg bingung, yaitu pada pengasuhan anak hasil perkawinan antar suku. Katakanlah perkawinan antara suami dari suku Batak-totok dgn istri dari Jawa-medok yg punya pembantu pengasuh anak orang Sunda-tulen.</p>
<p>Ketika pembantu itu menggendongnya menyuapi makan, si anak selalu dicecar dgn bahasa Sunda tulen dan setelah kenyang dia nyanyikan lagu ini:</p>
<p>&#8212;Naleng-nenggung eta neleng-neleng neng-gung,<br />
&#8212;Geura-geura geude, geura jangkung, &#8230;<br />
Sampai si anak tertidur!</p>
<p>Ketika Ibu kandungnya pulang dari kantor, kerinduan pd anaknya dicecer dgn bahasa Jawa dan ada sedikit ditambah-tambahin Arab-arabnya dan selalu menidurkan anaknya itu dgn nyanyian:</p>
<p>&#8212;Ta’ lelo-lelo lelo-lelo gung,<br />
&#8212;Cep menengo anaku Cah Bagus &#8230;<br />
Sampai si anak tertidur!</p>
<p>Ketika Bapaknya ingin menggendong atau terpaksa menggendong anaknya, mungkin tidak sering, tapi monolognya keras dan mantap dan selalu menyanyikan lagu ini:</p>
<p>&#8212;Modom ma da Amang Ucok, modom ma da Amang<br />
&#8212;Tampuk ni pusu-pusuku do da Amang da Ucok,<br />
&#8212;Urat ni ate-ateku do da Amang da Ucok &#8230;<br />
Sampai si anak tertidur!</p>
<p>Lalu aku ragu apakah karena ragam monolog dan ragam lagu pengantar tidurnya itu yang menyebabkan serapan egonya jadi lekas beragam dan mimpinya pun sudah bervariasi. Fakta sekilas, anak itu lama sekali begonya, sering plengah-plengoh, tolah-toleh memperhatikan teman sebayanya bercengkrama dan bernyanyi dlm bahasa Indonesia?</p>
<p>Pengamatanku ini hanya sekilas saja dan belum kukontraskan dengan bangsa-bangsa yg memiliki satu bahasa yg kaya dalam membesarkan anak bangsanya, seperti pada bangsa Jepang dan Cina dll.</p>
<p>Salam Damai!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/958/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=958&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2009/11/12/berpikir-lintas-mata-telinga-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>117</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/11/berpikit-mata-telinga2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Berpikit mata telinga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berpikir Timur!</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/10/26/berpikir-timur-indonesia/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2009/10/26/berpikir-timur-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 17:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alamiiah]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[Ku perhatikan banyak sekali, Bahwa Timur lebih mundur, Bahwa Barat lebih maju! Aku sepakat bahwa merantau adalah penting sbg upaya pengembangan diri dan mutlak bagi pengembangan pengetahuan dan kehidupan. Tak heran jika supir Medan tadi itu nyupir sampai merantau ke Timur sana. Tapi napa ke Timur? Yah, emang alam ini mengandung banyak sabda, sabda pembelajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=912&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a rel="attachment wp-att-1215" href="http://tertiga.wordpress.com/2009/10/26/berpikir-timur-indonesia/berpikir-timur-2/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1215" title="Berpikir Timur" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/10/berpikir-timur2.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a>Ku perhatikan banyak sekali,<br />
Bahwa Timur lebih mundur,<br />
Bahwa Barat lebih maju!</strong></p>
<p>Aku sepakat bahwa merantau adalah penting sbg upaya pengembangan diri dan mutlak bagi pengembangan pengetahuan dan kehidupan. Tak heran jika supir Medan tadi itu nyupir sampai merantau ke Timur sana. Tapi napa ke Timur?</p>
<p>Yah, emang alam ini mengandung banyak sabda, sabda pembelajaran dan sabda pengetahuan, maka dari itu pernah ada anjuran, &#8220;pergilah ke Cina (Timur)&#8221; &#8230; sana. Anjuran ini cukup populer, tapi hangat-hangat (ehm) ayam dan diterjemahkan sebagai pegilah melaju jauh ketimbang harus pergi beneran ke Cina yg sedikit azan-nya, temboknya tinggi-tinggi, besar-besar dan panjang-panjang dan pula banyak babinya, dan ke arah Timur lagi, heheh. Mungkin bangsa yg paling banyak merantau dan surpaip adalah bangsa Jahudi, kali, makanya mereka pd cerdas dan pinter. Sayang mereka pd sombong dan keras kepala banget!</p>
<p>Mungkin benar bahwa wilayah Timur Tengah sana adalah pusat perserakan manusia modern, tempat Sem, Ham dan Jafet anak-anak Nuh berasal, tempat agama-agama Samawi bepangkal, tempat pergolakan kehidupan yg mendunia hingga saat ini berawal. Bila benar begitu, ada apa ke arah Timur sini, sehingga bangsa di sini berkonotasi mundur dan ada apa ke arah Barat sana sehingga bangsa di sana dikata maju? Mungkin kah bahwa perantau yg mengarah ke Timur sini adalah migrasi pecundang dan perantau yg mengarah ke Barat sana adalah migrasi petualang? Coba saja kita banding-bandingkan antara Barat apa pun dgn Timur apa pun dalam soal apa pun. Mulai saja dgn membandingkan kondisi kehidupannya atau ekonominya, olah raganya, keseniannya, dll. antara:</p>
<p>Indonesia Barat &#8211; Indonesia Timur<br />
Kalimantan Barat &#8211; Kalimantan Timur<br />
Sumatera Barat &#8211; Sumatera Timur<br />
NTB &#8211; NTT<br />
Jawa Barat (+DKI) &#8211; Jawa Timur<br />
Jakarta Barat &#8211; Jakarta Timur<br />
Kapuas Barat &#8211; Kapuas Timur<br />
Eropa Barat &#8211; Eropa Timur<br />
Jerman Barat &#8211; Jerman Timur<br />
India Barat – India Timur<br />
Malaysia Barat &#8211; Malaysia Timur<br />
Taiwan Barat – Taiwan Timur<br />
London Barat – London Timur<br />
Dst, pd kondisi lingkungan kita, kali.</p>
<p>Perhatikanlah perkembangan SDM-nya,<br />
Bahkan juga pada flora<br />
Dan faunanya.</p>
<p>Suatu waktu kami pernah jalan-jalan di Timur Indonesia ditemani oleh seorang Brimob yg pernah bertugas di Unit K-9, Satwa Polri, Kelapa Dua-Jakarta. Ketika itu kami sedang sama-sama mengagumi kekayaan sumberdaya alam Timur Indonesia yg luar biasa itu. Kepadanya juga aku bercerita ttg pergerakan pergolakan kehidupan Timur dan Barat seperti garis besarku di atas. Dia kebanyakan manggut-manggut saja, tapi ketika aku separuh bertanya kepadanya,<br />
“Kenapa, ya, semakin ke Timur bangsa kita ini koq semakin lemah SDM-nya, dan susah ngaturnya …!”</p>
<p>Dia spontan berseru cukup keras dan serius bersemangat,<br />
“Butuuul Bapaaa, bukan hanya orangnya yg susah diatur, anjingnya pun tak bisa saya latih! Saya juga heran, saya empat tahun melatih anjing di Kelapa Dua dulu. Saya sudah sering mengeluh dan sudah tiga kali minta kepada Komandan supaya tolong kirim anjing Jawa; Wehh … Komandan malah ngomel-ngomel pd saya, dia bilang, anjing itu dimana-mana sama saja! Achhh! Ta’ tau dia!” Kami pun ketawa sedalam-dalamnya … Ikut heran … Koq sebegitunya?</p>
<p>“Di sini pun ada Beo, Bapaaa!” Lanjutnya.<br />
“Beo nya persis Beo Nias; Tak ada beda! Tapi herannya, Beo di sini tidak mao bunyi, tak bisa bersiul, Achh! Matilahku!” Dia jamah jidatnya, &#8220;plak&#8221;, terdengar! Aku pun geleng kepala tak ngerti.</p>
<p>Ceritra teman satu lain lagi.<br />
Saat acara kebersamaan, mereka bermaksud utk bergembira-ria bersama. Teman satu itu sudah menulis dan mengkopi beberapa lagu rakyat yg lajim seperti lagu “Rasa Sayang” utk dinyanyikan bersama-sama hadirin. Tiba pada lagu “Apuse … kokon dao”, mereka protes, “Bapaaa usah lagukan lagu itu! Yg itu, itu lagu Serui itu Bapaaa …”, ya udah, dari pada nanti mereka bentrok … Delete! Coba sampai sebegitunya!</p>
<p>Kami banyak bicara soal SDA dan SDM, ketika kutanyakan soal SDS yg tak kutau, dia pun menggeleng tidak tau. Ya, udah! Aku hanya menduga-duga bahwa animisme atau penyembah berhala masih banyak bertahan di pedalaman. Asal tau aja, menurut penelitian BBC, jumlah bahasa yg ada di Papua mencapai 1000 bahasa yg tak berkorelasi secara genetik. Wuich!</p>
<p>Ada apa di Timur!<br />
Kuperhatikan banyak,</p>
<p>Bahwa ke Timur itu mundur,<br />
Bagai gencar mencari pagi,<br />
Menyambut terang Matahari!</p>
<p>Bahwa ke Barat itu maju,<br />
Bagai melaju mengejar siang,<br />
Menambat  terang Matahari?</p>
<p>Apakah semua dampak itu merupakan suatu kebetulan atau memang ada suatu keharusan atau ada sesuatu lain yg utama di situ yg belum terungkap bagi kita utk dibicarakan dan diungkap. Aku blon tau percis yg mana yg menuju ke kesempurnaan dan yg mana yg menuju ke taksempurnaan atau mungkin kah kombinasinya? Mungkin kah selanjutnya kita tidak perlu lagi berpikir keras tentang benar atau salah, tidak perlu lagi kelahi membenarkan atau menyalahkan. Lebih penting dari benar-salah adalah soal kesempurnaan dan ketaksempurnaan diri kita masing-masing. Kriterianya? Ya, Rahmat lil alamin lah, kali!<br />
Tapi, bagai mana mereka dapat berpikir menuju ke luar sana, berpikir kosmis <em>metacognition</em>, sementara kesadaran sederhana masih dominan mengikat diri pada buminya saja?<br />
Bahasa?<br />
Entah lah!</p>
<p>Salam Pikir Tiga!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/912/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=912&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2009/10/26/berpikir-timur-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>125</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/10/berpikir-timur2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Berpikir Timur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berpikir akal-akalan!</title>
		<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/10/18/berpikir-akal-akalan/</link>
		<comments>http://tertiga.wordpress.com/2009/10/18/berpikir-akal-akalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 17:04:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
				<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[Alamiiah]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Duniawi]]></category>
		<category><![CDATA[Gila]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir tiga]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[Akal-akalan]]></category>
		<category><![CDATA[Babi]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[Diskudi]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Supir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tertiga.wordpress.com/?p=882</guid>
		<description><![CDATA[Aku teringet cerita temanku ttg akal-akalan yg serius demi kehidupan yg lebih baik. Ada suatu kejadian apes menimpa supir Medan di tambang pedalaman Timur sana. Pagi itu, bersama keneknya ia mengendalikan truk proyek dgn cukup kencang di jalan tanah yg lempeng lapang. Di depan terlihat mendadak seorang Ibu menyebrang dari kanan ke kiri, lalu secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=882&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1224" href="http://tertiga.wordpress.com/2009/10/18/berpikir-akal-akalan/berpikir-akalan/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1224" title="Berpikir Akalan" src="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/10/berpikir-akalan.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a>Aku teringet cerita temanku ttg akal-akalan yg serius demi kehidupan yg lebih baik. Ada suatu kejadian apes menimpa supir Medan di tambang pedalaman Timur sana. Pagi itu, bersama keneknya ia mengendalikan truk proyek dgn cukup kencang di jalan tanah yg lempeng lapang. Di depan terlihat mendadak seorang Ibu menyebrang dari kanan ke kiri, lalu secara replek si supir pun mendadak banting setir, &#8216;ambil kanan&#8217; utk menyelamatkan si Ibu tertabrak tanduk truk. Tapi apes, dari kanan itu mendadak pula seekor anak babi mengikuti si Ibu tadi menyebrang. Wuuuih! “Brak!!!” Anak babi ketabrak. Si supir melambatkan truknya melihat *brak* dari spion lalu segera minggir dan parkir. Bukan karena dia mendadak lapar meliat anak babi glepar-glepar, tapi karna takut kualat ntar pulangnya. Apes, bakal telat ke lokasi proyek!</p>
<p>Lalu dia suruh keneknya mengurus masalahnya,<br />
“Hei! Ambil babi itu!”<br />
“Kasi uang ini sama Ibu itu, nah!”<br />
“Bilang saza map, Bu!”<br />
“Tsepat kau!”.</p>
<p>Dgn cepat si kenek pergi dan dgn cepat ia kembali.<br />
“Bang, dia campakkan uang kita, ta’ mau dia segitu katanya!”</p>
<p>Si supir kecewa,<br />
“Bah!” Lalu berpikir sejenak,<br />
“Nah, tambain lah 200 lagi, bilang saza map gituuuh!”<br />
“Tsepat!”, katanya lagi mengingatkan si kenek buru-buru.</p>
<p>Dgn cepat si kenek pergi dan dgn cepat juga ia kembali.<br />
“Bang, tak taulahku, dia campakkan juga uang kita, dia bilang itu satu pusting ada dua-tiga pusing mana, katanya. Aku tak ngerti lah maksutnya, bah. Abang saja lah tengok sana!”</p>
<p>“Bah, bah, bah! Tujuratus ribu tak mau utk babi sekecil itu? Bah bah bah! Sepiring pun tak nyape dagingnya ituh!”<br />
Dia turun tergesa, dgn stil yakin dan tapi ragu juga. Dia langsung minta map sambil nunduk menyalam Ibu itu dgn dua tangan satu kepala dan berkata,<br />
“Map, Bu, kami buru-buru! Nah lah, udah kutambain jadi sejuta, trimalah, biar ku ambil anak babi itu, masi ada napasnya kutengok &#8230; !” Padahal babi itu sudah selesai menggelepar. Apa pula yg ditengok si supir itu.</p>
<p>“Kao mo bayar ato mo tada ato mo suka-suka, hmm?” Sergah si Ibu.<br />
“Ambil uang kao ini, pigi sana!”, kata Ibu itu sambil mencampakan uang itu lagi. Jadi sudah tiga kali uang itu tercampak-campak. Orang mule berdatangan, empat orang berkerumun sudah. Supir Medan tidak beranjak setelah memungut uangnya itu.</p>
<p>“Lihat dolo babi ku ini!” Sergah si Ibu lagi.<br />
“Dia ada punya banyak anak klo kao tada tabrak, taoo!”<br />
“Hitung dolo berapa ada puting-putting susunya, hah?” Lotot Ibu ke si supir.<br />
Diam sejenak, hening tak berjawab. Berhitung, entah lah. Melipat jari!<br />
“Deeelapann tao kaoo!” Normalnya dua belas, lainnya blon numbuh kali.<br />
“Anaknya ada deeelapan nanti, tao kao!.” Intonasi dinaikin dikit.<br />
“Itu uang mu itu untuk satu putting itu, tao kao!”<br />
“Klo kao mau bayar, hitung semua dolo &#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Deelapan putting…!”</p>
<p>Tiba-tiba menyela seorang pria, juga telanjang dada, dgn golok panjang menunjuk-nunjuk.<br />
“Ada sepulu itu, Oma!” Tambah pria itu sambil menungjuk-nunjuk pd bintik samar calon putting yg mungkin saja itu adalah keringat buntat anak babi itu.</p>
<p>Si supir makin deras keringatan berpikir, menggeleng-gelengkan lehernya, berhitung sekaligus memastikan bahwa lehernya masih utuh. Pusing emang kepalanya!<br />
“Edan, &#8230; 10juta? &#8230; Satu puting saatu juta?”<br />
Katanya lembut sekali di dlm hatinya.<br />
Dia pegang lagi tengkuk lehernya, ada.<br />
“Bah! Tau begini lebih baik tadi aku &#8216;ambil kiri&#8217;, Cuma dua putting!”.<br />
Bisiknya lagi lebih lembut di dalam hati juga, kesel.</p>
<p>Hehehe! Edan!<br />
Ibu itu berpikir akal-akalan!<br />
Supir itu berpikir keringatan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tertiga.wordpress.com/882/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tertiga.wordpress.com/882/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tertiga.wordpress.com/882/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tertiga.wordpress.com/882/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tertiga.wordpress.com/882/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tertiga.wordpress.com/882/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tertiga.wordpress.com/882/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tertiga.wordpress.com/882/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tertiga.wordpress.com/882/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tertiga.wordpress.com/882/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tertiga.wordpress.com/882/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tertiga.wordpress.com/882/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tertiga.wordpress.com/882/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tertiga.wordpress.com/882/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tertiga.wordpress.com&amp;blog=6462539&amp;post=882&amp;subd=tertiga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tertiga.wordpress.com/2009/10/18/berpikir-akal-akalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>102</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/629792a9999f4e9218bf1583f9a5557b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Maren Kitatau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tertiga.files.wordpress.com/2009/10/berpikir-akalan.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Berpikir Akalan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
