Pergeseran Idola Percaya

TERTIGA

TERTIGA

Ketika kita kecil, kita dominan tubuh daging, diberi nama serius dgn harapan agar menjadi sesuai pengharapan. Konsumsi tubuh bernuansa cairan dan itu dominan datang dari Ibu yang selalu menyediakan konsumsi tubuh kita mulai dari memberi asi miliknya sendiri hingga memberi ikan asin yang dari laut hingga ubi kayu yang dari  dalam tanah.

Ketika Ibu terpaksa hrs makan di luar rumah, ia selalu bertanya dlm diri sebelum lapar, “Apakah anakku sudah makan …Jangan-jangan …!”. Kuperhatikan, Ibu selalu membawa makanan sepulang dari pasar, atau dari arisan, atau dari mana pun. Oleh karena itu, maka Ibu dapat dikata adalah yang paling dominan bertanggung jawab pada pembesaran, penguatan dan penyehatan tubuh anak, hingga anak bisa mandiri dapat mencari makan sendiri. Induk binatang pun juga demikian dalam membela membesarkan anak-anaknya, kan? Jadi sekali lagi dgn singkat, Ibu lah suri teladan dan kepercayaan kita selama kanak-kanak. Ibu lah yg paling dominan bertanggung jawab pada makanan tubuh kita. Adapun padatan yang diupayakan Ibu utk anaknya, spt pakaian blujin, dasi kupu, sepatu berlampu, cincin-emas, leontin, bendo, dll bukan lah untuk pemenuhan kebutuhan jiwa si anak yg masih dominan “insting primitif” itu, melainkan lebih cenderung  dimaksudkan untuk menggoyang jiwa tetangganya, ngkali! Ego Ibu demikian mencolok dlm merawat, melindungi,  membesarkan dan mengajarnya hingga berdikari.

Ketika kita beranjak besar, jiwa mulai bertumbuh, keinginanku mulai mencar, beragam, ingin seperti, bahkan menjadi egois. Konsumsi jiwa  bernuansa padat, memadat, mengeras, sintal, nyala dll. Kadang konsumsi padatan itu dimulai dari sepetol plastik merah menyala ribut demi kegirangan anak-anak tentara dlm meragakan cara membunuh misalnya. Anak lain dimulai dgn mbim -mbiman utk belajar terangsang hidup mewah dan atau belajar cara nabrak lari spt dlm “Driver II”. Yang gituan ini, termasuk memberi endapan dasar pendidikan dan lanjut bagi jiwa, Bapaklah yang dominan menentukan keutamaan itu demi pertumbuhan jiwa. Bapak bagai mencoba memindahkan jiwanya pada anaknya. Demikian juga dgn mentalitas serakah, korup, culas, jujur, setia, penurut, dll adalah dominan diperoleh dari Bapak atau Pak Guru demi kemandirian kelak sesuai pengalaman atau pengetahuan  Bapak atau Pak Guru.

Belajar bertahan hidup mencari kebutuhan yg ada di luar sana dgn meraup apa yg terraih, baik dgn menggunakan kekuatan tubuh maupun dgn menggunakan kecerdikan akal pikir, adalah gagasan Bapak atau Guru. Maka bergeserlah teladan kepercayaan secara alon-alon beranjak menjadi pemuda ber ego. Bapaklah yg paling bertanggung jawab menumbuhkan ego anak itu. Ibu sedikit tergeser, karena kita semakin bisa membandingkan dgn Ibu teman atau dgn Ibu Gguru yg cantik dan wangi, sehingga Ibu terasa kuno, semakin cerewet dan sering tidak bisa membedakan mana kiri mana kanan dgn benar.

Ketika kita berproses menuju dewa-sa, maka kita semakin berupaya utk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari apa yg sudah dimiliki, atau dikuasai. Ada keinginan lebih hebat, lebih banyak dll dari yg dimiliki orang lain. Kita merasa berlomba cepat (time is money) tiada henti meraup dunia yang terbatas dan semakin rusak ini. Teladan Bapak pun pada tahap ini mulai tergeser dibandingkan dengan orang-orang sukses duniawi dan terpandang berkharisma. Bapak cederung menjadi pendiam, karena taunya hanya segitu doang. Bapak mulai kelihatan kuno dan tak efisien. Begitulah kita tanpa lelah menghela jiwa berlomba mencari, meraup, menimbun dunia.
Tapi dikala sesekali kita berlelah menjaring angin dgn hasil lebih banyak mengecewakan dari pada menyejukkan hati, maka kita mulai cari-cari tau penyebab atau mencari apa yg ter-paling aman bagi diri dari pada berlelah mencari ujung balapan ini. Kurasa, ini pertanda roh kita sedang bertumbuh. Roh dapat membawa diri jauh tak terhingga kedepan atau jauh tak terhingga kebelakang. Roh itu dapat melihat apa yg belum pernah kita lihat, mendengar apa yg belum pernah kita dengar, merasa apa yg belum pernah kita rasa. Pencaharian konsumsi roh dimulai demi tujuan semula, kebahagiaan.  Roh itu TAU bahwa kita kehilangan kesehatan tubuh ketika  mencari uang, lalu kita kehilangan uang utk memperbaiki kesehatan tubuh dan jiwa.

Setelah terbukti dan mulai menyadari bahwa kita mulanya adalah alamiah (lahir) dan akhirnya harus lah rohaniah (mati), maka mulailah kita mencari-cari penjamin keselamatan jiwa dgn berbagai jalan nisbi, secara sendiri, melalui mimpi, melalui bisikan, rinding kuduk, inspirasi. dll. Jadi dengan singkat, dunia kitalah yg menjadi teladan kita selama bergolak dari masa kanak ke pemuda ke dewa-sa, dan kitalah yang paling bertanggung jawab menumbuhkan rohani kita dan memerdekakannya.
Teladan kepercayaan bergeser kepada Keillahian Tuhan. Seandainya kita telah 80-an dan coba melirik kebelakang, maka mungkin terasa banyak jalan-jalan kita yang sia-sia. Ada banyak persangkaan dan pengharapan yg meleset. Disangka kita bisa abadi awet muda padahal tidak. Disangka rumah kita tahan gempa padahal tidak. Disangka uang kita selalu dapat menyelesaikan segala perkara, padahal tidak. Semua persangkaan itu mungkin harus dilalui–kecewa demi kecewa– agar kita mengerti dgn benar ttg apa keabadian itu dan apa keillahian itu secara mantap.

Ternyata roh lah yang abadi,
Milik Allah yang abadi juga,
Kesana kita harus kembali!

Aku adalah hanya sekarang,
Aku nanti adalah roh abadi,
Aku tadi nyata daging!

Aku harap telah dewa-sa,
Mendewa pada yang Kuasa,
Berkuasa pada yang tak berdewa!

Kkesimpul sementaraku:
   Ibu bertanggungjawab penuh
   Pada pertumbuhan dan kesehatan tubuh anak,

   Bapak bertanggungjawab sungguh
   Pada perkembangan jiwa dan kedahsyatannya,

   Aku lah yang bertanggungjawab
   Pada
penumbuhan rohaniku.

Salam Pikirtiga!

Iklan

6 Tanggapan

  1. MANTEP KALI LA MEN WHY ROH ITU ABADI MENURUT AQ CINTA ITU YG ABADI WALAU SRING SLINGKUH

    • Wah ucok ngomong cinta ni yeah!
      Awas jangan selingkuh!
      Itu bisa jadi dua lingkuh lalu tiga hingga lumpuh.
      Tak lagi bisa mbedakan mana cinta mana benci,
      Kek hewan lah gituh!

      Salam Damai!

  2. memang benar sekali bahwa kitalah yg bertanggung jawab atas hidup kita sendiri 🙂

    • Yeah!

      Kita adalah apa yg kita katakan.
      Kita pasti menjadi apa yg kita katakan.
      Oleh karena itu kita bertanggung jawab pd kata.

      Salam Damai Dot!

  3. Ketika kita masih menjadi anak-anak maka susulah yg menjadi makanan kita. Ketika kita sudah dewasa makanan keras yang menjadi makanan kita.
    Makanan untuk daging dan daging untuk dimatikan
    Yang berharga dalam akhir seseorang adalah ke Rohaniannya yg berupa roh. Itulah wujud esensi seseorang di hadapan ROH Penguasa Alam Semesta ini.

    Salam Kasih

    • Horas, Lang!

      Yes, Allah itu Roh bukan Dzat.
      Entah untuk apa mengubahnya.
      Dari Yahweh menjadi Allah SWT.

      Tapi bagus juga supaya ada beda.
      Tanpa beda tak ada aliran hidup.
      Tak mengalir berati menggenang.
      Banjirlah kan, heheh!

      Salam Damai!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s