Makanan pertumbuhan tertiga

Makanan jiwa padatan,
Atau  gampang madat,
Bisa mendebarkan diri.

Pertumbuhan ku!

Pertumbuhan ku!

Makanan tubuh cairan,
Atau yg gampang mencair,
Mudah diserap oleh tubuh.

Makanan roh “gasan”,
Atau gampang ngilang,
Mudah sesuaikan diri.

Makanan hrs cukup,
Tak kurang tak lebih!
Kelebihan …,
Tubuh bisa muntah,
Jiwa bisa angkuh,
Roh bisa kesurupan.

Makanan hrs cukup,
Tak kurang tak lebih!
Kekurangan …,
Tubuh letoy,
Jiwa gila,
Rohani angin-anginan.

Tubuh itu lemah,
Maka dia penuntut.

Roh adalah kuat,
Maka dia penurut!


Jiwa adalah pemicu,
Mau kemana kita?
Ngapain …?

Begitu seharusnya kita makan dan tumbuh,
Bererurut proporsional sesuai pertumbuhan.
Makanan tubuh terdahulu, lalu jiwa kemudian, dan roh pd dewasa.

Memakan jangan terbalik-balik bagai jarang kepang. Pd anak yg dominan tubuh dicekok makanan roh, ya, kesurupan lah! Ada kakek yg sudah uzur dominan roh, masih ngotot minum susu pertumbuhan! Aya aya wae …!

Salam Pikirtiga!

Iklan

15 Tanggapan

  1. Rasa tiga…

    Rasa diri…
    Rasa pribadi…
    Rasa sejati…

    Tabik… 🙂

  2. Terima kasih telah mampir!
    Mari kita sidik rasa-rasa itu.
    Rasa sejati …!

    Apa rasa sejati itu baru ada pd mimpi sementara ini?
    Di dalam tidur ada banyak mimpi-mimpi menjadi,
    Dalam mimpi itu mengandung rasa-rasa murni.

    Di dalam sadar semua rasa terekayasa.
    Di dalam mati kita belon tau rasa apa.
    Di dalam kiamat rasa apa lagi yg ada!

    Mungkin,
    Bila tidur adalah gambaran mati,
    Dan mati adalah gambaran kiamat,
    Baiklah tidur pd gambar-gambar menjadi rahmat.

    Rasa sejatinya rahmat adalah upaya keras dlm hidup.
    Hidup yang selalu mencermikan keteladanan Illahi.
    Ada kah cara lain beroleh rasa sejati rahmat?

    Salam Tertiga!

  3. @Mahendra

    Rasa sejati!

    Rasa pribadi mulanya dangkal.
    Rasa kelompok mulanya dalam.
    Rasa Illahi muaranya pribadi.

    Apa begitu maksudmu, Sir!

    Salam Pikir Tiga!

  4. hehehehehe
    aku lihat gambarnya muantepzz mas MK
    jago juga desain ya mas???

    udah mulai ada titik terang tentang makann tubuh, roh dan jiwa

  5. makan dalam “diam” perlu
    tapi “diam” apakah perlu pembelajaran juga?

    jiwa perlu hening
    roh apakah perlu juga?
    sementara kehidupan berputar terus menerus tiada henti tahu-tahu ketimpa “cobaan”
    dan tubuh larut dalam gelimang kereshan akhirnya sesat dan mati tak berTuhan….

    • Makan dalam “diam” kadang nggak seru.
      Mata telah kebagian tata boganya,
      Hidung kebagian aromanya,
      Lidah, ya rasanya tentu.

      Telinga?
      Adalah irama,
      Kerupuk pun jadi.

      Tapi “diam (2)” adalah aktivasi rohani kurasa.
      Soal muter ketimpa “cobaan” ya emang cobaan itu yg nantinya utk menggembirakan kita.

      Kalao benul kita mau memeriksa keresahan itu,
      tau lah kita bahwa yg diresahkan itu adalah yg pernah menggembirakan kita. Lalu bila dia mati tak bertuhan karna resahnya, itu lah yg menjadi hantu yg suka reseh.

      Salam Ketawa!

      • enak mas MK ngejawabnya…
        dan enak juga makan krupuk walaupun gede tapi tidak berisi nyatanya suranya bisa nyaring hehehehehehe

        salam krupuk juga mas Mk

  6. bagaimana kalau saya taruh saj link disini ya mas MK
    http://batjoe wordpress.com

  7. Mengapa semakin tua, manusia malah kekanak-kanakan lagi ???

    • masih jadi mistri bagiku juga mas LOP????
      mungkin yang punya rumah bisa bantu ngejawab??

    • Pertanyaan mengapa itu paling angel njawabnya karna jawabannya masih bisa dipertanyakan lagi dgn mengapa dst, sampai kepada mengapa manusia harus mati. Lebih baik kita ganti pertanyaannya dgn mau kah kita mati setelah pikun? (Lambang said: Sama anaknya aja dah lupa, apalagi sama Tuhan.).
      Dgn pertanyaan lain: Apa kah mati alamiah itu adalah keren? Ini ranah pikir satu bagiku!

      Memento Mori!

  8. Keknya karena adanya siklus sel otak. Waktu kecil sel otak masih banyak yang kosong, belum dipake.
    Mulai dewasa, sel mulai terisi macam-macam berita. Mulai dari politik sampe miyabi.
    Makin tua, sel makin banyak yang mati, akhirnya pemahaman juga turun drastis. Sama anaknya aja dah lupa, apalagi sama Tuhan.

    Makanya ada ayat (atau hadist?) yang mengatakan bahwa telanjang bukan merupakan aurat yang harus ditutupi bagi orang yang sudah lanjut usia.
    Lagian juga sapa yang mau naksir embah-embah, walaupun telanjang sekalipun… 😆

    • hehehehehehehehe
      mas lambang kali hihihihihihih

  9. Mas Lambang itu tua-tua kelapa, Joe!
    Semakin tua semakin bersantan, Ehm.

    Hehe ntar tak hapus,
    Test:
    Biasanya komen dari “Makanan pertumbuhan tertiga” tidak pernah tampak pd kumpulan “My Comment”.

    Test!

    • Bener,
      Komen yg barusan tidak ada di “My Comment”, pls help, Brat! Tq!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s