(1/3) Berpikir lintas mata telinga

Pada kanak: Seeing is believing!
Dewa-sa: Believing makes you see!

Berpikir lintas mata adalah pembelajaran yg selalu menuntut bukti, suatu pembelajaran yg selalu ingin memuaskan jiwa; “Seeing is believing”. Mata adalah alat pencerna pertama makanan jiwa, yaitu padatan yg keras-keras, pejal, mendebarkan.

Berpikir lintasi telinga adalah pembelajaran yg tidak selalu menuntut bukti, suatu pembelajaran yg tidak selalu ingin memuaskan jiwa melainkan rohani; “Believing makes you see”. Telinga adalah alat pencerna pertama makanan rohani, yaitu yg gas-san yg lebut halus-halus, ilang, mengherankan.

Setiap gambar yg dilihat mata kerap ber-kata-kata dan setiap kata yg terdengar telinga kerap ada gambarnya. Gambar nyata masuk melalui mata, kata maya masuk melalui telinga. Tulisan ini adalah gambar-gambar kata yg masuk melalui mata seolah terdengar ditelinga lalu membentuk imej keseluruhan pelukisnya. Kita bagai dpt mendengar apa yg kita lihat dan kita seolah dapat melihat setiap apa yg kita dengar. Demikian halnya dgn Beethoven yg ketika menuliskan Symphony No.9 dalam keadaan tuli total. Dia dapat mendengar karyanya itu dengan mata, kita dapat melihat keagungannya dengan telinga.

Dalam keadaan sadar, kata-kata sering terdengar jelas, tapi gambar-gambarnya sering burem. Dalam keadaan tak sadar atau tidur, gambar-gambarnya sering terlihat jelas,  tapi kata-katanya terdengar samar (tengok lah mimpi-mimpi kita). Jadi, mata dan telinga memberi pelajaran utama bagi kita utk berkata dan berbicara.

Kurasa, pelajaran pertama yg diserap seorang anak dari ego dunia ini adalah belajar dari mendengar, kemudian yg kedua adalah belajar dari melihat. Kedua input pelajaran itu adalah utk belajar berkata-kata. Ketika di dalam kandungan anak sudah bisa mendengar,  utamanya mendengar denyut jantung Ibunya, mungkin juga dia mendengar desir aliran darah, mendengar suara tarikan dan hembusan nafas  dan mendengar suara bicara Ibunya. Miriplah keknya bagai kita mendengar suara bineng dan suara gemuruh bila kita menutup telinga rapat-rapat.

Pengajaran pertama yg diberikan oleh Orang-tua kepada anaknya ialah mencintainya. Ibu memperdengarkan kata-kata cintanya dgn berbicara monolog dan kadang dgn bersenandung atau bernyanyi solo utknya semata. Seluruh bangsa dan suku di dunia ini keknya mempunyai lagu kanak-kanak sejenis “Nina Bobo”, lagu penghantar tidur bagi anak. Seluruh bangsa dan suku mengerti arti kata “Mama” dan “Papa”, kata yg mudah dilafalkan si mulut mungil berlidah pendek itu utk berkomunikasi dgn Orang-tuanya. Kata “Bunda” dan “Ayah” atau “Ibu” dan “Bapak” adalah kata berikut yg lebih sulit diucapkannya dan boleh saja dipilih utk meluaskan arti cinta pada orang yg lebih tua nantinya.

Begitulah rupanya kita masing-masing beroleh cinta, seperti halnya juga cinta Allah kepada manusia, bahwa Allah-lah yg terlebih dahulu mencintai manusia itu melalui banyak ciptaan yg dipersiapkan utk kebutuhkan kita. Allah-lah yg terlebih dahulu bermonolog kepada kita melalui Firman-firmannya. Allah-lah yg terlebih dahulu bernyanyi melalui desir angin cemara, bunyian jangkrik malam dan mungkin juga melalui nada gesek  antara planet dgn gas asing, termasuk desin gesekan dgn Bumi ini yg senantiasa bergerak dgn kecepatan konstan sekitar 2,5 juta km/hari mengitari matahari. Banyak sekali keteladanan yg Allah paparkan terlebih dahulu kepada kita manusia untuk bahan pengajian kita di bumi ini.

Bagi anak, nyanyian dan kata yg terpilih adalah sangat penting bagi pertumbuhannya. Kita Orang-tua memilih kata-kata yg tepat dan gampang dicerna ketika memujinya terlebih lagi ketika kita memarahinya. Dan,  bila marah pun kita padanya harus lah direncanakan terlebih dahulu dgn baik termasuk caranya, waktunya , kata-katanya pun hrs dipilih agar tidak asal ceplos, dan perlu menyediakan celah sempit utk jalan pemakluman kesalahannya sebagai katup pengaman emosi jiwa, sekaligus utk teladan kasih dan pengampunan dari Orang-tua kepada anaknya.

Dlm keadaan normal sebaiknya anak diberi satu bahasa saja yg sederhana dan satu nyanyian yg juga harus sedarhana. Bahasa itu adalah bahasa anak yg kalau dituliskan kedalam text sepertinya bahasa itu kedengaran bego gitu. Sebenarnya kita tidak bego dan anak pun tidak bego situasi dan posisinya  lah yg menghendaki bahasa itu spt be-begoan. Kata atit artinya sakit, mimim dan mamam artinya haus dan lapar, dst. Kadang kita juga memberikan permainan “Tang” yg lucu berkali-kali agar si anak ikut bergembira dan tertawa bersama nuansa Ibunya. Ketiak si anak diapit dgn ke dua tangan si Ibu, lalu ditinggikan dan  “Tang-ting-tang-ting-tang-ting-tang 3x”,  lucu Tang itu. Begitu indahnya, sederhananya lintasan cinta itu. Orang yang melihat pun terpaksa bahagia.

Ada pengamatanku sekilas pada anak tetangga yg bingung, yaitu pada pengasuhan anak hasil perkawinan antar suku. Katakanlah perkawinan antara suami dari suku Batak-totok dgn istri dari Jawa-medok yg punya pembantu pengasuh anak orang Sunda-tulen.

Ketika pembantu itu menggendongnya menyuapi makan, si anak selalu dicecar dgn bahasa Sunda tulen dan setelah kenyang dia nyanyikan lagu ini:

—Naleng-nenggung eta neleng-neleng neng-gung,
—Geura-geura geude, geura jangkung, …
Sampai si anak tertidur!

Ketika Ibu kandungnya pulang dari kantor, kerinduan pd anaknya dicecer dgn bahasa Jawa dan ada sedikit ditambah-tambahin Arab-arabnya dan selalu menidurkan anaknya itu dgn nyanyian:

—Ta’ lelo-lelo lelo-lelo gung,
—Cep menengo anaku Cah Bagus …
Sampai si anak tertidur!

Ketika Bapaknya ingin menggendong atau terpaksa menggendong anaknya, mungkin tidak sering, tapi monolognya keras dan mantap dan selalu menyanyikan lagu ini:

—Modom ma da Amang Ucok, modom ma da Amang
—Tampuk ni pusu-pusuku do da Amang da Ucok,
—Urat ni ate-ateku do da Amang da Ucok …
Sampai si anak tertidur!

Lalu aku ragu apakah karena ragam monolog dan ragam lagu pengantar tidurnya itu yang menyebabkan serapan egonya jadi lekas beragam dan mimpinya pun sudah bervariasi. Fakta sekilas, anak itu lama sekali begonya, sering plengah-plengoh, tolah-toleh memperhatikan teman sebayanya bercengkrama dan bernyanyi dlm bahasa Indonesia?

Pengamatanku ini hanya sekilas saja dan belum kukontraskan dengan bangsa-bangsa yg memiliki satu bahasa yg kaya dalam membesarkan anak bangsanya, seperti pada bangsa Jepang dan Cina dll.

Salam Damai!

Iklan

117 Tanggapan

  1. Hihihi… kasihan juga tuh anak.
    Memory masih pas-pasan dikasih bahasa macem-macem.
    Mungkin juga begonya lebih lama dari anak lain.

    Look and you will see…
    Listen and you will hear…
    Learn and you will know…
    Speak and you will be heard…
    But don’t believe everything you think!

    • Ya, kasihan tuh dia! Sebenarnya kita juga.
      Kita adalah “koraban” keberagaman.
      Orang-tua memakai bahasa suku,
      Teman-teman berbahasa daerah,
      Pak Guru berbahasa Indonesia.

      Hargai lah budayamu … yg mana?
      Bacalah karya sastra … yg mana?
      Bicasralah yg benar … yg mana?

      Begitu lah kita,
      Pemikiran jadi gado-gado,
      Diskusi pun muter-muter.

      Bule ngeliat ada bego,
      Dan bisa dilebih-begokan,
      Mereka mewajibkan Bah.Inggris.

      Salam Ehm!

  2. wah, nyrempet trus nih sama orang Batak. Hehehe.
    Hasil pengamatan, ……..tapi,…. katakanlah perkawinan antara…..apa maksudnya kang?
    Menurut saya bukan karena ragam monolog dan lagu pengantar tidurnya, tetapi karena kesalahan kata kata dalam nyanyian bapaknya yang totok dalam baris kedua, seharusnya: Tampuk ni pusu-pusuku, urat ni ate-ateku do da Amang da ucok…..Hehehe, lagi.
    salam

    • Antara itu bisa matsam-matsam. Bisa antar agama, suku dan ras, pendidikan dll. Yang jelas antara bekgraun yg berbeda, dan tapi utamanya adalah karna ragam bahasa.
      Itu menurutku.

      Salam!
      NB:
      Nanti ku perbaiki Modom Ucok-nya!

      • maksudku kang, kalo sudah hasil pengamatan gak pake misal lagi, atau katakanlah, seolah olah bukan contoh yang sebenarnya.

      • Ya, itu emang pengamatanku sekilas dan sampel baru satu. Jadi “misal” itu hanya karena memfefet aja, kubilang itu Batak dan Jawa, soalnya Batak gampang tersinggung dan Jawa sulit marah, jadi enak aku nyenggol-nyengolnya.

        Aku berpikir lagi, apa ada ngagk sampel keluarga yg suaminya Jahudi, istrinya Kristen dan pembantunya Islam, heheh fanatik pula semuanya, hah, maka anaknya bisa tiga-kali bego kali yah!

        Salam!

      • Ah, si Akang mah…….
        orang Batak yang gampang tersinggung atau orang Timur? Yang penting, walau gampang tersinggung harus susah marah ya, kang.

      • Tapi itu bener, Lae!
        Pengamatanku banyak. Batak itu klo sendirian baek kali dia, kek ikan jair gituh lah, kek supir Medan yg di Timur sana lah. Klo berdua pun masih mencatur dia. Entah lah klo udah bertiga! Katanya sih vokal grup… heheh!

        Horas!

      • maksudnya vocal group itu pertanda tidak baik lagi?

      • Bah!
        Kao fefet-fefet pula ceritaku itu.
        Untuk tamboh dari mana? Ngamen malu!
        Itu lah resiko pemikir, selalu cari jalan cantik.

        Horas Lah!

  3. salah bro….bukan tak lelo lelo lelo legung :mrgreen: ada verssi yg lebih keren lagi
    ….”tong dudu blek, blek dudu tong, tong dudu blek, blek dudu tong 😆 ada juga yg “cek uwek uwek susuben..brakawal kawal seyooooorrr” ini yg terakhir sampe sekarang aku ndak mudeng walopun orang jawa totok…ini versi pendeknya kalo yg versi panjangnya aku ndak tahu, pokoknya intinya menceritakan kulit yg tertancap duri halus/susuben dan segala keluh kesahnya utk mengeluarkan itu si duri…sampai2 membawa bawa cobek dan ulegannya :mrgreen:

  4. Terima kasih koreksinya Lae hh
    Terima kasih variasinya KangTon.

    Ada salahku juga pada:
    Demikian halnya dgn Beethoven yg ketika mencipta Symphony No.9 dalam keadaan tuli total. Da melukis lagu itu dengan telinga, kita dpt mendengarkan keagungannya dengan mata.

    Sebaiknya,
    Dia mendengarkan ciptaanya dgn mata,
    Sementara kita melihat keagunyannya dgn telinga.

    Salam Damai!

  5. doh…ketika memory baru berkembang sudah diberi input yg luar biasa beragam seperti itu…kasian juga yah si bayi…alangkah kasianya dipaksakan sebelum waktunya…

    • Hi, abe!
      Kurasa itu bukan dipaksa, tapi emang keadaan Timur ini emang begiru, Bineka Tunggal Ika, kebanggaan kita. Lalu, bagaimana kita menyikapi dampak yg seperti dipaksa itu?

      Salam Damai!

  6. wah ada artikel baru aku malah ketinggalan….

    • Tak ada istilah terlambat utk tau. Hayoh mana pengalamanmu dan pengetahuanmu. Silahkan kaunter atau suport. Bebas koq!

      Salam!

  7. untuk hal ini mungkin saya hanya ingin menonton dulu mas MK seperti mas MK minta sedkit jawaban tentang Sang Tunggal dan Anak apa hubunganya…

    hati saya masih guncang mas MK..

    saya baca ulang sampai 3 x kok ya sama kondisinya…

    • Huallah!
      Jadi nyesel aku nanyanya, Joe!
      Well! Tenang dulu lah! Endapkan 3 hari jawabanmu., Dan, Bila jawabmu sudah tidak lagi mengguncang baru kau postingkan.

      Salam Damai!

      • weleh mas MK.. tenang aja..
        guncang disini aku jadi inget bahwa apa yang mas MK postingkan adalah benar bahwa aku sudah lupa bagaimana cara “menina bobo” kan mereka dengan baik..
        hehehehehee

        salam guncang mas MK

      • Klo Tang yg lucu?
        Atau Blek yg juga lucu keknya?

        Salam!

  8. menyanyikan lagu penghantar tidur saja saya sudah lupa yang saya ingat hanya bagaimana bila di sulung dibawa jalan maunya di gendong di atas pundak katanya kalau digendong dibelakang ndak enak heheheheheheheee

    kalau maslah beda bahasa sehingga anaka clingak-clinguk mungkin sianak masih bingung dengan bahasa mana yang harus dia percaya…..
    seperti bagaimana ibu dan bapak berbeda pendapat, anak-anakpun merasakan dampak dari perbedaan…

    salam clingak-clinguk heheheh
    oya selamat tengah malem juga mas MK

    • Yah! Berantem itu akan lebih berdampak bagi anakan. Inget lagi dgn Dhoroty … “Bila anak”

      Salam!

  9. Sobat,

    Tulisan yang menarik! Untuk referensi tambahan, silakan baca Menumbuhkan Cinta Pada Diri Sendiri di blog saya. Semoga bisa membantu perenungannya.

    Salam kenal juga!

    Lex dePraxis

    • Selamat datang Bung Lex!
      Berikan lah pandanganmu ttg berpikir ini.
      Ini adalah kasus kita yg gemar menyalahkan.

      Salam Damai!

  10. @all

    Judul udah ku obah dikit biar keren.
    Isi pun udah kuedit dikit biar keren.
    Keren mulu, ya!

    Salam Keren!

    • tapi bener emang keren artikelnya…
      selamat malem mas MK..
      dan istirahat sejenak dahulu.

  11. Keknya judul ganti yah. Siiiplah.

    Kata Bung MK,
    Kalau sadar, kata jelas tapi gambar agak burem.
    Kalau ngga sadar, gambar jelas tapi kata jadi samar.
    Sayangnya mimpiku masih item putih.
    Jadinya gambar kurang bagus dibanding kata.
    Gimana caranya bikin mimpi berwarna dan suara sekelas video THX.

    Salam Damai.

    • Bukan hanya judul, Prof!
      Header Theme, isi artikel dan daftar isi nya pun ada perubahan ke arah bagus!

      Soal tampilan mimpi itu dan akustiknya, keknya udah nggak bisa kita diapa-apain, Bro! Ngak bakalan bisa tuker tambah seperti kepala monyet itu, pun nggak bisa beli baru. Itu udah given. Sing penting onderdil di-sip-in dah, indikator Wifi tak ngedip, power suplai tokcer, cukup. Toh data yg kita perlukan, bukan tampilannya.

      Salam Daleeem!

  12. pagi mas MK…
    balikpapan diguyur hujan terus sekarang setiap saat…
    dan mimpikupun masih belum jelas masih kesana-kemari..
    bagaimana bisa mimpi satu arah ya????

    bis sekolahnya udah ada namanya dan themesnya udah ada tertiga nya juga…..
    jadi mau dibawa keman nih para penumpangnya masa masih terus didalam semak belukar??

    • Aha! Balikpapan so hujan ya! Apa di hujan sana ada Bang Toga Naingolan yg “Always grazy like that” kata Jewel?

      Soal mimpi, ada mimpi selapis ada yg dua lapis. Mana kerenan aku lon tau tuh. Mimpi color vs BW pun aku lon tau. Yg ku tau adalah mimpi yg slow motion, yg replay dan yg forward.
      Lihat responku kpd HAMBA ALLAH tea.

      Kau jeli juga, Joe melihat Bus kita itu. Bus itu ku rehab sikit-sikit. Tinggal nambal bannya. Moga Prof.Lambang tak bicara “Theme” lagi, dan aku pun dah memperbaiki alur baca artikel di daftar isi. Artikel baru pun udah ku bikin, satu dua dah stan by. Sip lah, semoga bisa “A”!

      Salam Damai!

      • Ah, kalau soal themes tetep jadi salah satu usulan untuk diganti. Gambar bis di hutan itu kan bisa dipindahkan ke theme baru.

        Masalahnya gini nih:
        1. Kurangnya theme ini, tidak punya side bar.
        2. Saya ngga tahu persis mana artikel terakhir, termasuk juga kronologis pencptaan artikel. Kalau theme lain, ada di kelompok Archives dan Recent Posts.
        3. Saya ngga tahu mana komen terakhir. Hanya ada di Welcome Page. Di Halaman selanjutnya, Recent Comment itu tidak ada di side bar. Ini yang bikin pusing.
        4. Lebar text area sangat kecil. Jadinya artikel memanjang ke bawah. Kalau untuk puisi, text area sejenis ini memang cocok. Tapi apa mau berpuisi terus selamanya?

        BTW, itu hanya usulan koq. Terserah yang punya blog saja, mau diganti atau tidak.

        Salam Kebut!
        ================

        MK: Poin 3. itu emang betul menyebalkan,
        kita kudu bolak-balik home utk merespon.
        Untung aja belum/tak banyak trafiknya.
        Salam Tancap, Bro!

        ================

      • Ah! Sori lagi lah, Prof!

        Aku dah terlanjur cinta ama Bus itu, cantik kutengok, jadi sayang. Yah! Memang artikel ku bukan lah artikel populer yg sering ada masa tayangnya. Artikel ku itu pada kait mengait semua, jadi mana ujung dan pangkalnya tak jelas dan tak perlu kali. Tapi aku udah buatkan ide pikirnya di “Isi”.

        Sebenarnya utk ku cukup dua menu saja, Home dan Isi agar lebih sederhana, jadi malah ke arah sana yg terpikir. Di Isi mungkin perlu dua atau tiga versi, urut tgl, urut abjad, urut alur pikir.

        Tapi sekali lagi, Brat,
        Atas semua masukan-masukannya.
        Salam Damai!

  13. Wah…kalo seni jd anaknya, harusnya merasa beruntung. karna setidaknya kita bisa menguasai 3 bahasa tanpa perlu susah-susah keluar-masuk lembaga kursus. seni fikir sih tergantung bagaimana sang orang tua mendidik c anank. itu semua bisa jd beban untuk anak, tapi jg bisa jd ketrampilan yg “saya” fikir jarang orang punya. Batak-Jawa-Sunda. Setidaknya ada satu orang yg akan melestarikan ketiga bahasa tersebut disaat semua orang “malu” untuk berbicara daerahnya sendiri. tapi….jgn lupa diajarin jg tuh bhs nasional dan bahasa internasional.

    1 lagi, sesaat sblm ajal menjemput, indera yg paling terakhir meninggalkan dunia ini juga pendengaran bukan?

    • Soalnya seni (man) sangat besar daya tampung memorinya dan dalam. Utk kami-kami yg pas-pasan hal itu amat memberatkan, makanya masih tolah toleh dlm berpikir dan berbicara, terlebih lagi bila bicara dgn orang asing, wuih! Sorot mata ini tak bisa fokus sehingga tak mungkin bisa menghujamkan kata. Makanya kita-kita selalu kalah dlm negosiasi bisnis atau pun lobi-lobi Internasional.

      Orang-tua mungkin cukup tau teori mendidik anak itu,.Hanya faktor perut dan stres di kantor dan perjalanan bisa bembuyarkan semua kualitas-kualitas ideal itu

      Tapi kebegoan anak itu baru asumsiku saja, koq. Belum perna kubaca penelitian spt itu. Jadi hal di atas masih mungkin salah.

      Tanks komennya!
      Salam Damai!

  14. Kata Bung Mike Kilo,
    >>> Pada kanak: See and believing,
    >>> Dewa-sa: Believe and you will see!

    Kata saya,

    Pada kanak:
    See and memorize.

    Pada dewasa:
    Look and you will see,
    See and you will think,
    Think and you may believe (but probably not).

    Gimana Bung Mike, cocok enda dengan usulanku ini.

  15. Cocok juga itu, Bung Lamb!

    Dgn mata kita mengingat satu-satu gambar; Luarnya.
    Dgn telinga kita mengingat suatu gambaran; Dalemnya.
    Kombinasi ingatan itu dahsyat kuarasa.

    Ku coba perhatikan,
    Bisa lebih kebelakang lagi cocoknya, Bro!
    Bagai mana binatang bisa mengingat kita?

    Seruan “Kerrr!” utk ayam,
    Semua ayam menoleh arah suara dan segera datang ke sumber suara. Ayam kita tentu paling depan datangnya, ayam tetangga datang malu-malu; Dia inget “Kerrr” yg itu tukang gebug, jadi telinganya manfaat menyelamatkan dirinya, telinganganya bisa membedakan “firman” itu; Bukan matanya, matanya belakangan buat ngeles kalo dilempar.

    Bagiku, mata lebih mudah dibohongin.
    Sering kita terkecoh dgn bungkusnya.

    You said,
    >>>See and you will think,
    >>> Think and you may believe (but probably not).

    Aku bisa aja setuju yg itu, Sir!
    Utk lebih jauh hrs kuperbandingkan lagi dgn binatang.
    Beda gede kita dgn binatang adalah dalam berbahasa, Ya, kan? Bahasa mereka sangat terbatas, bahasa kita tak terbatas. Yang terbatas adalah akal, Yg tak terbatas adalh pikir.

    Segala apa yg dilihat adalah baik adanya, tetapi jika ada yg diperbincakngak maka kita mualai berpikir, selebihnya adalah cukup berakal spt binatang.

    Berpikir itu hanya terjadi jika ada perbincangan yang serius, bukan karena lihat yg serius, karena lihat yg serius adalah belakangan dan lihat itu pun ada mentoknya. Bahasa tak boleh mentok, berpikirpun demikian. Demikian kurasa, Bro!

    >>>Speak and you will be heard…
    Yes! Orang banyak omong dikit mikir,
    Orang yg banyak mikir yg dikit omong.
    Ya, dikit omong karena masih terbatas kata.

    >>>But don’t believe everything you think!
    Yes,
    Too much great possibelities!

    Salam Possible!

  16. qiqiqiqiqi, kadang suka ndak nyadar ya. pengaruh bahasa ini padahal lumayan melemotkan si anak. udah pake bahasa Indonesia aja biar aman sentosa, kalu kebetulan tinggal di LN ya pake bahasa LN biar si anak juga g jadi alien diantara temen2nya ntar 😆

    betewe paragraph2 awal nya mantab..!!
    seeing is believing or believing then we’ll see 😉

    *membalas kunjungan, salam kenal..!!!*

    • Tanks!

      Punya satu bahasa itu menjadi penting sekali,
      Tapi bahasa daerah dibuang sayang/pantang.
      Katanya sih demi leluhur, gimana pula tuh, luv!

      Salam Damai!

  17. Kang Maren,
    Bagaimana fact setelah dewasa dari si Anak yang lama sekali begonya, sering plengah-plengoh, tolah-toleh memperhatikan teman sebayanya bercengkrama dan bernyanyi dlm bahasa Indonesia?

    Salam fakta

    • Wah! Aku tak memperhatikannya lagi tuh. Mereka sudah pindah. Semoga saja ada maksud khusus dari Tuhan baginya.

      NB:
      Antara mata dan telinga, mana menurutmu yg paling dominan utk bisa bicara? Dan konsekwensinya mana yg lebih mempengaruhi berpikir?

      Salam Damai!

      • Kang Maren yang pindah atau mereka?
        Kalau setelah dewasa masih juga bego dan lama pula seperti masa kanak, sementara teman sebayanya sudah bercengkrama dalam ‘believe me and you will see perubahan yang nyata’, saya tadinya mau tanya ada apa dengan suatu negara yang sepertinya lama sekali plengah plengoh dan tolah tolehnya menyaksikan kemajuan negara lain.

        salam kemajuan

      • Jawab dulu lah pertanyaan ku!
        Masak aku terus yg disuruh mikir?
        Ntar, lama-lama aku tambah pande!

        Salam Kemajuan!

      • Kang MK, sampai umur brapa anak itu masih plengah plengoh dan lagu apa yang dinyanyikan teman temannya itu? Kalau sudah umur sepuluh dan lagu teman temannya adalah ……..rakyat adil makmur sentosa…pribadi bangsaku, ayo maju maju……. Mungkin dia bandingkan kemisikinan bapaknya dengan lagu tersebut.
        salam

      • Bapaknya kan kumisalkan orang Batak! Mana ada orang Batak yg miskin, pan semua Batak anak Raja, cenah. Walau kadang miskin di harta konon kaya di perbuatan, cenah!

        Pertanyaan ku itu loh, Lae!
        Jawab dulu lah pertanyaan ku!
        Masak aku terus yg disuruh mikir?
        Ntar, lama-lama aku tambah pande!

        Salam!

      • Ah, si akang, nrempet lagi, ya biarlah.
        abdi tidak pande menjawab pertanyaan akang. Tentang mata ada ungkapan seperti ini: mata do guru roha sisean; mata adalah guru hati adalah murid. Bila dikaitkan dengan guru kencing berdiri maka mata akan berlari lari. Tentang telinga: girgir manangi-nangi manat marhata-hata; suka mendengar dan hati hati dalam bicara. Dengarlah keluhan orang lain, berikan adpis kalau diminta dan hati hati; lihat apa yang dibutuhkan. Itu aja yang aku tau kang, itupun belum lengkap.

        salam

      • Mata do guru roha sisean;
        Girgir manangi-nangi manat marhata-hata;
        Mantap kali tu, Lae!

        MATA
        Mata adalah guru hati adalah murid.
        Bila mata jelalatan hati pun ajrut-ajrutan.
        Mungkin gitu dari pada kencing, Lae,
        Kecuali Bu Guru! Heheh!

        TELINGA
        Suka mendengar hati-hati bicara.
        Gemar mendengar berarti lebih banyak lah mendengar.
        Hati hati bicara karena lidah bisa terkilir dan org lain yg sakit, kan?

        Tapi pertanyaanku masih tetap, Lae!
        Mana yg lebih dominan mengajari kita berbicara, mata apa telinga?
        Lebih ekstim lagi kubikin, “Siapa yg lebih mikir, orang buta tau orang tuli?”
        Kurasa sama jawab kita, Lae!

        Horas Jala Gabe!

  18. @Maren Kitatau : Artikelmu ini aduhai betul, menurut bukunya tatang sutarman , memang kejadiannya gitu : Anak akan lebih mudah belajar jika bahan pelajarannya sedikit. Lha ini yah normal saja. Lha wong orang dewasa juga gitu. Kalo yang dipelajari banyak bidang tentu butuh waktu lebih lama. Apalagi kalo ngajarinnya bersama-sama. Solusinya sih menurutku : Untuk tahap awal mendingan diajari satu bahasa dulu deh. Diajak ngomong satu bahasa jika mungkin. Jika memang seisi rumah isinya beda semua. Yah mau gimana lagi, sadari sajalah kalo anak terlambat bicara itu yah karena memorinya macam es kopyor karena bahan yang masuk ke otaknya dia kebanyakan. Gitu kan yah?

    Menurutku sih Mata itu alat penangkap paling cepat, telinga selanjutnya, lha pemahaman endingnya. Tetapi seperti kata pepatah : Apa yang didapatkan cepat biasanya cepat pula perginya. Karena itu perlu repetisi bukan sekedar melihat, mendengar sepintas lalu dan yang lebih penting adalah mamahami karena paham itu sulit hilang. Sulit lupa begitu saja.

    • Hehe, aduhay!

      Yes, LOP! Kenyataannya kita itu memiliki ragam bahasa. Di Papua sendiri ada 1000-an bahasa, cemmana pula itu. Bahasa hukum pun sekarang ada “pasal karet”. Polisi dan Jaksa nggak dipercaya maka dibentuk KPK. KPK nggak dipercaya lalu dibentuk Tim-8, setelah itu Komisi Negara kali.

      Begitulah kita yg dari ragam bahasa, bisanya hanya mengubah-ubah kata sesuai selera lagi. Maka begitu juga ragam pikir di Indonesia ini.
      Apa boleh buat!

      Satu Nusa
      Satu Bangsa
      Satu Bahasa kita.

      Soal mata dan telinga sudah ku katakan telinga lebih duluan berfungsi. Mata adalah kemudian, dan telinga lagi paling belakangan.

      Untuk pelajaran fisika, mata lah utama.
      Untuk pelajaran metafisika, telingalah utama.
      Untuk rukun dan damai, keduanya kudu utama.

      Salam Cinta!

  19. mungkin bagi aku mata dan telinga sangat pentingnya bagi seorang anak..
    bagaimna bisa mereka tidak melihat kita tapi dengan mendengar dari orang lain saja bisa mengatakan “papah ini playboy” atau mungkin jiwa mereka yang masih harus terus dipupuk dengan bersih agar menjadi hijau?? tapi sekali lagi budayalah yang membuat mereka sangat-cepet berubah sperti televisi dan pergaulan….
    Bagaimana Mas MK pendapatku ini (karena aq masih memilki 2 orang anak yang masih suka main game dan nonton tv saat libur hehehehehe)????
    jadi bagaimana yang duluan mata, telinga atau hati?

    • Kpd LOP udah kukatakan telinga duluan baru mata. Kepada anak kita yg udah melek teknologi dan lingkungan kita perlu waspada. Kata-kata kita harus lah didengarkan dan harus terbukti. Artinya kita jangan bohong pd setiap kata kepada mereka.

      Banyak kudengar Ortu marah-marahin anaknya dgn kata-kata yg nggak nggak kira-kira, padahal anaknya nakal dikit karena lasak dan banyak keingin-tahuannya hingga sering lupa mendahulukan yg utama.

      Monolog marahnya selalu gini:
      Hey, dari mana kamu, hah … !
      Dari pagi koq ngak keliatan?
      Kan, udah dibilangin jangan maen jauh-jauh, hmm?
      Awas kamu ulangi kesalahanmu itu!
      Kupotong kakimu nanti, yah!
      Awas! Liat aja nanti!

      Tiga hari kemudian …
      Hey, dari mana aja kamu, heh …
      Dari pagi ngak keliatan!
      Main mulu, main mulu!
      Disuruh ngebantuin malang kabur!
      Kamu nggak takut dipotong kakimu, hmm?
      Awas kamu yah!
      Kau langi kesalahanmu sekali lagi, ta’ gantung lehermu!

      Lain hari …
      Hey, dari mana lagi kamu, heh …
      Dari pagi main terus, yah!
      Kamu ngak sekolah yah …huh!
      Ngabisin duit orang tua!
      Main PS mulu!.
      Dasar anjing lu, babi lu kurang ajar!
      Ape, lu melotot!
      Sialan, lu!

      Lambat tapi pasti, si anak telah menjadi anak sialan. Terus menerus ancama dilontarkan dan tak satupun terlaksana dan si alan menjadi kebal terhadap ancama gituan: “Potong kaki”, “Gantung leher”, “Pites”, dll.
      Akhirnya, karena telah kebal dan nggak mempan dgn ancaman-ancaman gituan, maka caci-makian yg paling banyak digunakan selanjutnya adalah “anjing” dan “babi” pd anak.

      Setelah anak melaju remaja, maka ia selalu gerah berada di rumah karena selalu bertengkar dgn keluarga dan memang ia sudah dari dulu direkeun anak tak berguna di dunia bagai “babi” atau “anjing”. Ia kadang menjadi jarang pulang, nginap di rumah teman, di setasion atau dimana saja karena sebel berada di rumah dan orang tuanya mungkin udah capek dan cuek atau udah cin-cai lah kali pasnya.

      Ginian inilah salah satu beban masyarakat dan beban Negara, terlebih lagi adalah sebagai beban dirinya utk melaju menuju ke kesempurnaan hidup, ke Surga!

      Salam Telinga!

      • penjelasan yang luar biasa….
        padat banget mas MK
        maaf baru muncul lagi hehehehhe
        dan blogku lagi nganggur nih….

        but tanks atas informasi dan pemahamannya di blog ini…

  20. Pancaindera diciptakan sebagai alat deteksi awal.
    Berikutnya otak yang mengambil alih peran.
    Mau disimpan atau di-delete, otak yang putusin.

    Gimana bung MK, setuju?

    • Boleh-boleh aja Bung, panca inra itu sebagai input data scanning bagi diri, dan tapi tidak seluruh data harus masuk otak utk dipikir. Banyak data masuk yg hanya disikapi secara replek tanpa pikir. Data untuk pikir sangat langka, jika tak terlatih maksa.
      Begitu menurutku.

      Salam Setuju!

  21. mata itu segalanya……maa hati, mata kaki, matahari, matamu, mata pancing, mata indah bola pingpong, matarakat..eh…masyarakat… :mrgreen:

    • Hehe!

      Mata biru biasanya cantikeh,
      Mata merah biasanya sakiteh,
      Mata ijo pasti mata duitan!? Eh!

      Salam!

  22. mau coment apa ya kliatanya anaknya kayak aq ya .

    salam kenal

    • Hi, andik!

      Silahkan komen apa saja.
      Aku lebih suka komen reka-reka.
      Ada beberapa ribu komen diblogmu aneh, napa ya!

      Salam Kenal

  23. Untuk melancarkan berpikir lintas mata telinga, mungkin perlu juga refreshing menggunakan bus AKAP, antar kota antar propinsi, dan bus LJLS, lintas Jawa lintas Sumatra.

    • susah mas lambang wong busnya udah nyungsep gitu.. kelihatannya perlu didorong rame-rame nih hehehehehehee

      mungkin sopirnya udah mantep panca indranya jadi tak perlu lagi bus baru…???
      salam kangen mas MK

    • Ah! Lamb!

      Itu mah ngajak berlalu-lintas maning di
      Bumi Pertiwi. Itumah bukan refreshing ke
      Banyuwangi, atau bikin pusing ke Tebing Tinggi.

      Bus itu sudah lah, istritahat, dari bumi kembali
      ke bumi, Ada ratusan tenaga kuda tadinya,
      sekarang nol, tapi masih keren utk musium,
      hehe!

      Pusingan kita sekarang adalah di lintas angkasa
      dan atau lintas jagat hati, sama saja pusingnya!
      Joe aja dah tau tuh!

      Salam Perkoncoan!

  24. tanya agak serius dikit ya mas MK…
    bagaimna mas MK menemukan keindahan hakiki hidup ini dengan cara berpikir tiganya mas MK..
    karena yang saya rasa n pelajarin sekarang cuma dua rasa yaitu kosongkan pikiran dan biarkan mengalir apa adanya…

    dan bagaimana mas MK melihat (maaf) sisi Allah dalam berpikir tiganya mas MK?

    please??? saya masih perlu banyak beljar mas MK dan siungguh saya masih teramat bodoh dalam hal bathin.. lemah banget…
    terima kasih mas MK atas masukan dan nasehatnya… saya ingin lebih bebas dan merdeka lagi…

    • Dgn pikir tiga rasanya aku tak pernah mentok, seolah aku terus menggelinding dalam mengenali segala sesuatu. Ini adalah keindahan bagi ku, seolah segala ada adalah ruang bagiku yg patut berdimensi tiga. Aku tubuh punya mata, aku jiwa punya mata, aku roh pun kudu punya mata, maka dari itu segalanya ada. Tidak ada yg tak ada, termasuk kosong pun hrs ada.

      Soal Allah ku telah ku ceritakan dlm diskusi kami dgn HAMBA ALLAH, lihat lah di “Ada tiga kemaluan”. Tanya lah lebih jauh dari sana,
      Kusuka menuturkan cerita mulia
      Yang melebihi impian dunia
      Cerita itu lah pelipur terbesar bagiku.
      http://www.mediafire.com/?n93z7mgdjnm
      Dengarkan itu tiga kali saja, cukup!

      Salam Damai!

  25. suka kata2 yg ini.. “Setiap gambar yg dilihat mata selaalu memiliki kata dan setiap kata selalu ada gambarnya”

    • Yes, iiN!
      Nice blog of yours
      Reponku masih ditolaknya.
      Nanti aku mampir lagi.

      Salam Kenal!

  26. mata itu jendela kesadaran kita bagi yg ndak buta…sedangkan bagi yg buta telinga lah yg berperan………apabila kita menyadari mata itu jendela kita utk melihat alam maka kita akan menyadari bahwa kita itu berada didalam alam raya ini atau alam raya ini berada didalam layar kesadaran kita :mrgeen:

    • Yes, Kang! Yua rait!
      Mata itu utk kesadaran nyata, alam raya.
      Telinga itu utk kesadaran maya, alam kosmis.

      Kita itu warga dunia, kata mata,
      Hendak lah warga Surga kata telinga.
      Pan, asyik!

      Tertulis:
      Matamu,
      Mata hatimu,
      Mata rohanimu,
      Terang mata hari

      Salam Puitis!

  27. Mata rakyat sudah dicabut.
    Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.
    Mata pemerintah juga diancam bencana.
    Mata pemerintah memakai kacamata hitam.
    Terasing di belakang meja kekuasaan.
    Mata pemerintah yang sejati
    sudah diganti mata-mata.

    Kutipan dari sajak alm WS. Rendra di [sini]

    • Yes!
      Nendang betul Brat!
      Sebentar lagi mulut rakyat pun disumbat lagi,
      Redaktur media masa mulai dicoba- panggilin.

      Syukur lah kita masih punya kuping.
      Pemerintah kesulitan menyumbat kuping rakyat,
      Atau belum pernah terpikir kuping kudu disumbat.

      Kliatan koq,
      Barkali ganti HP tetep aja kerekam setannya; Goblok kan?
      Entah lutut yg mana lagi mereka pake utk berpikir.
      Jangan-jangan sekarang sudah pake siku mikirnya.

      Ada cerita. Ketika itu, ketika HP Comunicator baru muncul,
      Seorang pejabat yg menentengnya diwawancarain
      Lalu ditanyain wartawan itu, “Pak, punya email nggak, Pak!”
      “Oh, ya! Tempo hari saya punya dua, tapi sudah saya jual!”
      ???
      Dia kira email itu panci yg mahal, kali!

      Salam Pikir Tiga!

  28. Kang Maren,
    Bus akang itu kayak bus di Medan sana kutengok; KEMBAREN jurusan Dolok SILAU. Sudah tentu liwat Tebing Tinggi boleh, liwat Lubuk Pakam Juga boleh.

    Kang, kalau ada rencana jual Email, jangan kasi sama oranga lain ya, aku lagi butuh, tapi jangan terlalu mahal.

    salam HP

    • hehehehehehe
      email itu apa si mas hh dan mas MK kok berpikir tiganya udah mulai lari kepolitik..
      jadi sama dong kita semaunya sama pejabat
      mulut dan telinga kita sudah tidak bisa disumbat lagi keculin udah dimeterin kain putih dan dimandiin terus digotong rame-rame….
      kemudian dikasih 2 patok yang tertulis : “disini telah berpulang si fulan…”
      dan ketika kita sudah tidak lagi bicara dengan jasad tapi dengan…….????

      salam email yang jangan mahal-mahal hehehehe

    • Mungkin maksud mas hh email gigi. Kalau itu lumayan mahal, karena satu lubang biayanya bisa sampai setengah juta. Tapi kalau di RSCM biayanya murah banget, resikonya malah salah lubang.

      Salam email!

    • Kalau Bapak itu kita tanya ttg e-link pasti dia ling-lung, HP-nya diletakkan karna berasa tambah berat. Matanya kedap-kedip tak bisa fokus seolah ketauan dia nggak eling-eling. Kasihan rasanya.

      Salam Damai!

  29. terus asya bertanya lagi nih..
    cinta yang duluan mana bagi mas MK dipikir tiga?
    mata, telinga atau hati???

    • Cinta itu ada tiga: suka, sayang dan kasih.
      Cinta itu wadahnya di hati, prosesnya di otak,
      Datangnya bisa dari mana saja: mata, kulit, telinga.

      Jika,
      Suka adalah awal dari sayang,
      Sayang adalah awal dari kasih,
      Kasih adalah akhir dari semuanya.

      Dan jika,
      Berpikir adalah awal dari bekerja,
      Bekerja adalah awal dari menjadi,
      Menjadi adalah akhir dari semuanya.

      Maka,
      Suka lah berpikir,
      Kasih lah menjadi,
      Rahmat lil alamin; Gitu loh!

      Salam Kasih!

  30. salam,
    senang bertemu Anda melalui blog ini sy Agus Suhanto, posting yg oke 🙂
    lam kenal yee

    • Salam kenal, Gus!
      Wellcome aboard,
      Sesekali jualan hati,
      Di sini,

      Salam Sukses!

  31. Gelar tiker makan kacang.
    Nungguin update terbaru…..

  32. Salam Sukses Gan! Semoga bisa segera di-update!

    • Slow dulu, Brat!
      Aku mau pecah 3 lintas aja supaya pas, hehe.
      Niker dulu aja Gan, unggu updatenya.

      Salam Damai!

    • Yayaya….
      Pasang tenda gelar tiker. Siapin kacang 1 karung sama Aqua 1 galon. Keknya bakalan lama nih….

      Kasih cendol nih Gan…. Sundul lagi ah….

      • Walah!
        Takkan selama itu lah, Brat!
        Ati-ati mana kacang mana kulitnya.
        Bungkusnya sih pasti inget.

        Salam!

  33. Foto Bismu itu aduhai menarik perhatian banyak orang kayaknya Maren . Penuh misteri gitu lho

    • Hehe menarik!

      Emang dulunya dia punya daya tarik,
      Seratusan “Tenaga Kuda”, keknya
      Caterpillar 130 HP, kali pasnya.

      Pada gambar itu terlihat:
      Bumi, dunia dan langit.
      Tertiga gitu lah.

      Salam Damai!
      NB:
      Inget LOP baru inget Bu Gulu, tuh!
      Abis, ke rumahmu tak se-klik sih!
      Nanti tak jawab.

  34. @Maren Kitatatau : Tuh Mas Pambudi rawapada dot com tanya padaku, dikau punya FB gak ?
    Bagi yang punya FB harap tunjuk jari

    • Tempo hari … hehe!
      Aku belum punya FB tuh, Bro!
      Samapikan salam ku padanya

      With Love!

  35. Salam sejahtera @Bung

    Gimana khabarnya pagi ini ?!

    Jujur lho, saya terpana melihat berita di tv seorang kakak (nashrani) menjadi korban tenggelam memberikan pelampungnya ke adik dan ibunya.

    Semoga Allah menerima disisiNya, Amin.

    • Hi, Kang Han!

      Khabar baik di sini
      Semoga begitu di sana.
      Selamat Idul Adha, yah!

      Salam Damai!

      • @Maren Kitatau
        Met ngombe kopi, di pagi yang cerah…

      • Sssrut … ahhh!

        Selamat pagi, Kang!

        Salam Damai!

      • Ternyata pada makan singkong rebus nyeruput kopi gak ngajak-ngajak 🙂

      • hehehe… 😀

  36. kalo begitu sebaiknya anak itu diajari bahasa apa?
    kalo ngikut pengasuh bayi pake bhs sunda,
    ngikut ibu pake bhs jawa,
    ngikut bapak pake bhs batak..

    • Hi, acp!

      Anak itu sudah begitu adanya.
      Mari kita pikir bersama apa yg terbaik bagi generasi kita kelak, anak-anak Indonesia. Konon, mulai dari kandungan hingga balita adalah titik rawan pertama pertumbuhan dirinya. Take care!

      Salam Sayang!

  37. halo, salam kenal…
    tulisan menarik. hmm, aku ada nulis dengan tema agak mirip.
    di sini :

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=109762177922

    • Selamat datang ibra.
      Salam maya tanpa pada!

      Sori,
      Aku belum pernah punya FB.
      Nanti mungkin aku bikin satu,
      Keknya perlu juga tuh dunia FB

      Salam Damai!

      • Ayo plok plok plok
        Ayo…

        Ceritanya nih cheerleader lagi ngasih yel yel biar kamu cepetan bikin FB – padahal Fbku saja juga jarang tak intip. Hi Hi Hi

      • hahahahaha mas LOP kalau buka FB bila da yang bening-bening aja hihiihihi kabur…

      • Ah! Tak tau lah aku!
        Pusing lagi ngutak ngatik FB.

        Blog ini aja udah bikin pusing.
        Tapi enak loh pusingnya, ke kanan.
        Pusing duniawai kan ke kiri, jadi enak!

        Salam Lope Joe!

  38. balikpapan panas lagi mas MK..
    tapi kok masih bnayk manusia yang keluar ya..
    mungkin telinganya dibisikin hatinya untuk jalan-jalan..

    wah ribit juga kok hati ikut bisik2 ya..

    yang bener bagaimana mas MK?????
    selamat minggu siang……….

    • Hi, Joe!
      Ini Sabtu!
      Siapa yg bisikin Minggu?

      Daging yg suka bisik-bisik sedap.
      Hati mah biasa ngomel-ngomel,
      Bila apa kata daging tak terbukti.

      Salam Damai!

  39. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

    @ Mar..Kit..

    tulisan mu g sesederhana dulu lagi mar…

    kebanyakan ide ya….

    atau kurang renungan..

    salam deh…

    hihihihiiiihi

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    • Mualaikumsalam Kang HA!
      Haha, Markit, boleh juga tuh!

      Yes!
      Tulisanku jadi tumpah-tumpah nih HA,
      Bung Lambang menggonggong terus,
      KangTono ngajak nggladrahan, ya, wes.

      Salam Damai HA!

      • ah jangan bawa2 saya dunk :mrgreen: biar nglantur yg penting keren :mrgreen:

    • salam sejahtrea buat hamba Allah

  40. katanya bahasa hanyalah ember bocor yang dibawa kemana-mana
    kosong isinya, seperti bahasa yang telah kehilangan makna

    • Aku percaya ini Tom!
      In the begining was word
      And the word was with God
      And the word was God.
      Sehingga,
      Kita adalah apa yg kita katakan!

      Salam Damai!

  41. Salam sejah-tera buat batjoe.. ayo mar.. lanjut

  42. akunitip ach.. biar d kunjungin.. http://purwogondo.blogspot.com/2010/01/paradigma.html

    • Berkali aku coba komen di blogmu macet melulu HA. Ada verivikasi kata yg tak kutau ngetiknya di mana. Ntar dah tak coba kunjung lagi.
      Salam Positip!

      • ini dah tak ganti.. coba gih… lebih sederhana aja.. he.he.he.

      • Gini aja KangMas!
        Wirdpress yg dulu tuh dah bagus.
        Bagusan itu aja di otak-atik biar kita e-ling!

        Salam Eling!

  43. Lupa lagikah passport eh…..passwordnya, lang?

    salam

    • hh aku ini kebanyak password.
      KangMas HA kebanyakan blog.
      Jadi nasib kami agak suar-sair.

      Salam!

  44. seorang anak belajar dari mendengar, lalu dari melihat…

    • hehe.. lupa-lupa ingat

    • Pan udah kutulis:
      Kurasa, pelajaran pertama yg diserap seorang anak dari ego dunia ini adalah belajar dari mendengar, kemudian yg kedua adalah belajar dari melihat. Kedua input pelajaran itu adalah utk belajar berkata-kata. Ketika di dalam kandungan anak sudah bisa mendengar, utamanya mendengar denyut jantung Ibunya, mungkin juga dia mendengar desir aliran darah, mendengar suara tarikan dan hembusan nafas dan mendengar suara bicara Ibunya. Miriplah keknya bagai kita mendengar suara bineng dan suara gemuruh bila kita menutup telinga rapat-rapat.

      Salam Damai Jab!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s