(2/3) Ke Kemaren!


I believe in yesterday, yeah!
Yesterday is learning,
Dgn otak, akal dan pikir.

Learning to know,
Learning to do,
Learning to be!

Kepada apa lagi kita perlu “learning”?
Selain kepada sejarah tubuhjiwa dan roh,
Kepada kelahirankehidupan dan kematian,
Dan kepada sejarah alammanusia dan Tuhan,
Selain kepada sejarah nusa, bangsa dan bahasa?

Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya!
Bangsa yg besar bukan lah bangsa yang ingin mengulangi sejarahnya, karena sejarah adalah masa lalu yg selalu bermasalah dan pula waktu itu berjalan maju ke arah kesempurnaan dan kesempurnaan itu bukan ada di masa lalu. Jadi, merindukan “today of yesterday” itu ibarat mimpi mundur lah.

Bangsa yg besar bukan juga bangsa yg suka menyembunyikan sejarahnya, atau bangsa yg suka usil kepada sejarah bangsa lain, untuk apa. Yah, utk apa lagi selain utk menghibur diri dgn meninggi-ninggikan bangsanya dgn memoles-molesnya agar keren segitu. Padahal, segala sembunyian yg busuk pasti terkuak, segala sembunyian yg harum pasti semerbak, utk itu tak perlu teriak-teriak. Waktu berjalan maju, kesempurnaan ada di depan,  bukan di belakang.

Pengalaman sejarah gagal-bangsa tak usah dipikir lagi, banyak yg sudah teronggok jadi barang antik pembelajaran akibat tingkah laku yg “unbalance” kepada tiga hal. Bila kita cuek kepada satu saja dari tiga ini, pun bila kita terlalu meng-elu-elu-kan satu saja kepada tertiga ini: pada alam, pada manusia atau pada Tuhan, maka semua laku kita kepada dua lainnya adalah bohong belaka. Kepada tertiga itu sungguh tak patut timpang apa lagi ompong.

Ada orang yg kebanyakan kerjanya meninggi-ninggikan Tuhan Yang Maha Tinggi, seolah terasa bagi dirinya semangkin rendah, tapi mengabaikan manusia atau alam, semisal para petapa atau kaum sufi yg selesai dibantai orang Mongol di Bagdad.

Ada juga orang yg mengagung-agungkan kekayaan alam, tapi mengabaikan Tuhan atau manusia, semisal kaum komunis dgn promosi “keadilan ilmiah”-nya yg agung dan tak laku lagi. Sovyet sudah selasai dan tinggal 5 negara lagi yg menganut pahamnya secara tidak kesumat.

Ada lagi orang yg mendewakan otoritas manusia, mengabaikan Tuhan atau alam, semisal jaman-jaman kerajaan dulu atau jaman diktator yg kemarin. Ini pun telah selesai! Semoga tidak ada lagi yg bermaksud mengkambuhkannya.

Bila kita yakin bahwa kita sebaiknya menjadi rahmat bagi semesta alam, maka renungkan lagi lah sejarah dunia itu agar tidak sulit menjawab hal-hal berikut ini:

– Harus kah kita ciptakan keadilam penguasaan alam?
– Wajib kah memikirkan kelakuan Raja-raja atau Nabi-nabi?
– Boleh kah ritual kpd Tuhan dikensel demi kemanusiaan?

Renungkan lagi lah pasnya sejarah di atas itu. Semua keburukan dan kesalahan, keserakahan dan kehancurannya itu pernah ada dan mungkin bakal tetap ada karena selalu tergoda oleh janji-janji yg beda. Kekayaan alam menjanjikan nikmat kemakmuran nyata, kuasa manusia atas dunia menjanjikan kehebatan logika, anugrah Tuhan menjanjikan damai-sejahtera maya.

Kita telah diberi kuasa oleh Tuhan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, bukan untuk menguasai dunia ini, karena Tuhan begitu mengasihi dunia ini. Menguasai dunia telah pernah bagai menjanjikan kebahagiaan abadi bagi pribadi-pribadi manusia dulu. Sekarang tidak ada lagi orang yg bangga mengaku sebagai bangsa Babilonia atau bangsa Romawi atau bangsa Persia yg dulu mereka pernah jaya sebagai bangsa superpower dunia. Semua istana raja-raja dan benteng-benteng yg dibangun berdarah-darah telah menjadi objek wisata belaka. Demikian juga halnya dgn gereja-gereja di Eropa sudah banyak yg terbengkalai, bahkan Catedral besar pun yg dibangun dgn semangat ketuhanan yg tinggi telah lebih menjadi objek wisata rohani ketimbang menjadi gereja turis. Ingat juga peristiwa tragis Galileo Galilei.

Kita telah cukup belajar,
Kita telah banyak bertengkar,
Dan kita telah lelah berkela hi hi hi!

Nyata sudah:
– Kalah jadi abu,
– Menang jadi arang,
– Kayu bakar jadi abis.

Jadi,
Jadilah rahmat lil alamin saja,
Bukan malah menjadi lainnya,
Percuma deh dan kesian de lu,
Ditonton turis.

Demikian bungkus-2!
Salam Pikirtiga!

Iklan

79 Tanggapan

  1. Kalo menang jadi arang masih rada mendingan Maren, masih bisa buat masak… 😦

    Kayaknya sih menang bonyok kalah lebih bonyok…

    Postingan kau serius kali yah…istana megah yang akhirnya cuma jadi tontonan. Gubuk derita yang semoga jadi tuntunan. Makan beras yang pasti jadi tuntutan.

    • Heheh!
      Abu juga masih bisa omong kali,
      Menggosok sisa makanan di piring?

      Yah! Kurasa hidup ini kudu serius LOP,
      Kita terlahir bukan karena bercanda.
      Kita hidup kudu memberi makna.

      Salam Damai!

      • Kita terlahir bukan karena bercanda.

        ==> Kalo melakukannya nggak sambil mesam-mesem malah nggak jadi-jadi itu 🙂 Yah sama bercanda jugalah, masak nggak ada jawil-jawilan goda-godaan barang ? 🙂

      • Iya deh LOP!
        Bahkan ada juga kejadiannya terlalu ganas. Bagai kucing garong yg salah tempat, menterjemahkan meongan sesuka hatinya.

        Apa boleh buat LOP. Dia hrs berusaha keras mencari Bapak yg sebenarnya agar sejarah dirinya lengkap tak diragukan.

        Salam Damai!

  2. Yah semoga saja ketidakseimbangan kita diimbangi oleh ketidakseimbangan pihak lain. Alam selalu punya cara untuk mencari keseimbangan itu tanpa atau dengan manusia di dalamnya. 😦

    • Betul tuh!
      Segala sesuatu pasti berubah. Berubah sesuai perubahan waktu. Tidak oleh manusia ya oleh alam. Ternyata kita pun harus bersahabat juga dgn alam agar alam tidak gampang marah.

      Salam!

  3. Tetapi karena ketidakseimbangan itu dan upaya alam menyeimbangkan dirinya memang sering membawa korban baik alam sendiri maupun manusia.

    Kubiarkan lumba-lumba lahir, kubiarkan ikan paus mati
    Sebab laut punya bahasanya sendiri. 😦

    • Weih!
      Bahasamu lautan banget LOP!
      Lautan kebenaran yg bermuara pada-Nya
      Sip lah Brat!

      Salam!

      • Wuiihhhhh (Wii)
        Lautan bangat memang bahasa Mas LOP,
        Lautan yang setia menampung dan kemudian kembali setia memberi.

        salam lautan

  4. 1. Sufi
    Jangan salah paham tentang dunia sufi, pelajari lebih dalam. Karena sufi bukanlah soal eskapisme belaka, dan mengacuhkan harkat kemanusiaan serta alam sekitar.
    2. Komunis
    Banyak yang berpikiran paham ini telah lapuk. Namun lihat di Amerika Latin, satu persatu negara di sana “memeluk” paham ini. Sehingga Amerika Serikat menjadi gusar dan berusaha memberangusnya, karena ternyata komunis telah berada di “halaman belakangnya”.
    Selain itu di Eropa, paham ini masih “bercokol” baik dengan bentuk baru maupun yang konservatif.
    3. Diktator
    Soal ini, baca informasi tentang geopolitik kekinian. Karena di sana akan menjumpai bahwasanya masih banyak pemimpin yang “mendedikasikan” dirinya untuk jadi diktator!

    • Berarti baru raja yg menurutmu sudah bener-benar opong tak bembahayakan, sementara yg lainnya masih ada yg berbakat utk kambek.

      Ya!
      Bisa jadi begitu.
      HTI pun konon berminat kutengok.
      Kuasa dunia itu masih menjanjikan sesuatu.

      Salam Damai!

  5. Postingannya serius dalam Bro.
    Saya belum sampe kesitu.
    Salam
    Alris

    • Ah! Bisa aja dijenakain.
      Lalu balik lagi serius.
      Begitu kata Brat LOP

      Salam!

  6. yah semoga kita smua makin nyadar bahwa kita smua ini utusan Sang Hidup buat mengHidupi

    semoga segera kembali pada inti keberadaan kita bahwa Hei, Aku Hidup..bener-bener hidup

    • Akur!
      Pengharapan kita sama.

      Sang hidup telah memberi hidup.
      Yg diberi hidup hendak lah juga menghidupkan,
      Bukan malah mematikan hidup atau membatasinya.

      Salam Damai!

  7. main bola kalah jadi tumbal oleh penonton sendiri..
    saya rasa kasihan tuh kereta api, bis ndak bisa buat cari uang lagi wong bangsa sendiri makan bangsa sendiri…

    kayu bakar jadi abu!!! abu tak berguna lagi menjadi tebaran dan pepesan cerita untuk anak cucu yang tidak bermanfaat…

    salam damai bang…

  8. Wah!
    Ntar main-bola bisa digodog di mui tuh,
    Ntar gawangnya digedein agar selalu draw.
    Alternatif lain ya dilarang bermain bola.

    Entah lah!
    Entah gimana cara mendewasakan banga.
    Semoga ini bukan top-nya kedewasaan kita.

    Salam Damai Joe!

    • wah kenapa kita tidak bisa mendewasakan bangsa ini padahal kemarin-kemarin aku bisa merdeka tanpa adanya banmu runcing dan teriak “merdeka”

      terus bagaimna bisa mempolakan agar nonton bola itu asyik seperti di LIGA_LIGA EROPA>>>

      atau kalau mau kita nonton adu ayam saja di gunung polisi mala banyak full back nya (backingnnya) hehehehehe

      salam njelimet lagi deh bang…

  9. Ah, telat mampir aku. Udah 3 hari lewat.
    Kalau menurut hukum keseimbangan alam, harus ada good and evil. Karena goodnya sudah banyak diambil oleh bangsa-bangsa yang tidak terlalu concern dengan agama, terpaksalah kita kebagian evil-nya walaupun 95% rakyatnya concern dengan agama.
    Begitu kali!

    • Nggak usah terlalu pesimis Mas Lambang.. 🙂

    • Good and evil, harmoni keseimbangan, abadi.
      Sebagai mana Timur dan Barat, hati dan otak,
      Buah-buah roh dan buang-buah daging,
      Muara keabadian itu surga dan neraka.
      Tak usah pesimis!

      Salam Damai!

      • saya tidak melihat kepesimisan disana

      • saya rasa ada pesimis di kaliamt bang maren kok mas HH

        kenapa kita harus terus mencari surga dan neraka sementara kata ahmad dhani dan crisye “bagaimana kalau tidak ada surga dan neraka” apakah tetap kita akan menjadi anak-cucu adam..

        salam pikir dipinggirkan dulu buat mas HH..
        makin hari semakin top kometarnya…

  10. Madekdek..magambiri…….

    pikir ku baru sampai 1/7…blm komen dulu…

    Salam…LISOI

    • Dari pada cepat tapi nungsep,
      Mending alon-alaon asal klakon!
      Ku tunggu komennya Kang Samin.

      Salam Lisoi!

  11. Menyapa yang punya blog saja deh.

    • Mana sapaannya, Fit!
      Kutunggu sapaan mu itu.
      Bukan selamat pagi doang kan!

      Salam Damai!

  12. belajar dari sejarah masa lalu
    melakukan dari hasil pembelajaran sejarah masa sekarang
    merencanakan dari apa yg diperbuat sekarang untuk di visikan dimasa depan

    sebenarnya saya ada tertiga versi saya tapi berhub artikelnya bahasa jawa jadi ndak direkomendasikan untuk dibaca :mrgreen: lagi males translate

    salam jawa……

    • Wuih!
      Tertiga versi Jawa …
      Penting itu MasTon.
      Aku pingin tau tuh.

      Apa terlalu banyak dan rumit?
      Sayang google tak bisa translate Jawa.
      Ku tunggu Kang, pas lagi nggak males ya.

      Salam Jawa!

  13. dah tak translet disini aja…..
    cipta : memusatkan pikiran “menggambar” yg kita kehendaki/visulalisasi hingga menghasilkan daya….puncak dari cipta adalah dengan menggambar yg tidak menggambar apa2….kosong

    rahsa : adalah hakekat dari kejadian/benda, diperlukan pengorbanan utk mendapatkan ini, tapi kalo yg kelas ringan2 yah seperti diputusin pacar lalu bisa tabah dan sabar maka sudah bisa lah mendapatkan hikmah dari “diputusin” :mrgreen: …puncak dari rahsa adalah tidak merasa memiliki apa2 bahkan rasa punya pun tidak ada….kosong

    karsa : perwujudan dari cipta dan rahsa….apalah arti kontemplasi/meditasi jika tidak ada perwujudannya ke sehari hari yg bermanfaat bagi alam sekitarnya….puncak dari karsa adalah tiada daya apapun atas kehendak kita kecuali kehendakNya……kosong

    triwikrama adalah gabungan dari cipta rahsa dan karsa….dan hasilnya luar biasaaaa, bagi yg percaya lho…hihihihi….seperti “perwujudan” Allah didunia….tapi saya hanya bisa omdo lho…….

    salam omdo

    • Oh, triwikrama.
      Cipta, rasa, karsa,
      Mesti yg mesti ada di kita

      Tanks transletannya, Kang Ton!
      Itu tertiga juga keknya.
      Satu tak ada, tak dahsyat lah jadinya.

      Tertiga ku bagai segitiga api juga.
      Satu tak ada, tak nyala jadinya,
      – Oksigen biru
      – Titik bakar merah
      – Bahan bakar hijau

      Salam Damai!

  14. Whaahh…kalah cepat aku sama bang Kumbokarno diatas itu…
    Habislah kapling aku untuk komen…
    Aku cuma dpt sisa2 sedikit aja untuk komen, kira2 omdoku begini :
    kosong = awang-uwung = adam
    dari adam diinnovasi/diberhalakan menjadi Adam…
    Sejak itu…ramai-ribut-ruwet…dunia dibuatnya

    Salam…OMDO

    • Thanks Kang!
      Kosong itu yg mau kutanyakan pd Kang Kumbo, eh, langsung terjawab oleh Kang Sam, adem sudah walau omdo dulu.

      Salam!

  15. It’s nice Blog Guys…
    I really apreciate

    Thanks udah mampir ke blog saya
    http://zaynet.wordpress.com/

    • All about love,
      And love should be unto all,
      Because love can not be devided.

      Love in peace
      Peace in love
      To all

  16. @ Maren terkasih

    Kasih itu sabar, Kasih itu murah hati , kasih itu tidak menuntut balas, kasih itu tidak mendendam, kasih itu tidak membalas kejahatan dgn kejahatan, kasih itu pemaaf, kasih itu mencintai sesamanya manusia, kasih itu tidak dimengerti dunia ini. Karena barangsiapa mengasihi Allah yg adalah kasih maka dia adalah mahluk penuh kasih yg segambar dgn Allah.

    Salam Kasih lae …

    • Tanks Tulang!
      Betul bangat itu.

      Kasih itu tidak dimengerti dunia.
      Dunia itu hanya kenal untung rugi.
      Untung-rugi itu tak dikenal dlm kasih.

      Salam Kasih!

  17. mari belajar dari sejarah.

    • Yes,
      Mari belajar dari sejarah.
      Sejarah yg penuh “hajar bleh”
      Hehe heheh!

      Salam Kenal Rhy!

  18. rusaknya equilibrium … seharusnya menciptakan equilibrium baru … bukannya menuju kehancuran

    • Komen ini utk yg mananya Kang!

    • Kang EWA,
      Boleh kah kukatakan, kita sedang menciptakan equilibrium baru, equilibrium di dunia maya ini.
      Gimana!

      Salam Damai!

  19. Mampi dua kali di ladang yang sama.
    salam

    • Hayah!

      Tak kenal maka tak sayang.
      Tak tanya dan tak komen
      Mampirlah sekali lagi Bro!

      Ladang ku dalem sekali
      Ladang ku luas sekali
      Ladang ku tinggi sekali

      Nanti,
      Ladang ku tiga kali.

      Salam!

  20. apa bangsa kita termasuk bangsa yg besar,,,,,,,,,,?! **bisa iya, bisa enggak** 🙂

    • Dari segi jumlah penduduknya, YA!
      Dari segi ladangnya, Ya, bahkan bisa planting along the year.
      Dari segi semboyan, luar biasa.
      Pokoke, dari segala segi, kita besar.

      • @ hh & lae Maren

        makanya tuaiannya sangat banyak ya pak hh? Ladang yg sangat luas membutuhkan penuai yg begitu banyak…

        Antong molo songoni pangido ma tu tuan nampunasa juma i ……..

        salam dahsyat ma di aparaku dohot ho lae Maren ….

    • Bisa iya, bisa engga!
      Yang iya udah ada,
      Yang engga belum.

      Gimana tuh iN?
      Borobudur pun ada,
      Obama ingin kesana.
      Kayanya.

      Salam Damai!

  21. #1. Wah dalem bener mas kata-katanya. Apapun akhirnya sadarilah bahwa kita akan tetap mempertanggungjawabkan kehidupan kita kelak.

    • Yah!
      Ada setitik harapan
      Yg sedang kita perjuangkan.
      Ada cinta di samudera kehidupan.

      Tanks for #1
      Salam Damai!

  22. world peace!!
    nation peace!!

    kurangilah saling berkata..
    “coba dulu begini…”
    atau “kalo tau bakal begini…..”

    manusia mungkin melakukan kesalahan,
    tapi harus bisa belajar dari kesalahan kemarin.
    dan harus hidup hari ini!!

    • Hi! Emy!

      You are right!
      Yesterday is learning.
      Thanks for the second comming.
      I am waiting for the third and all about peace.

      Salam Damai!

  23. Met Pagi Maren. Pa Kabar ?

    • Met sore LOP!
      Khabarku lumayan,
      Lumayan baik lah tentu.

      Gimana idemu itu,
      Kursus IT utk pensiunan.
      Semoga kau berjaya lah!

      Salam Damai!

  24. hallo..
    sebenernya sih yang berat sih mempertanggungjawabkan perkataan kita, klo ini gk ada masalah sih pastinya kehidupan kita kelak tak ada masalah!

    salaim damai!

    • Holla!
      Ya, ya, ya!
      Perkataan kita itu emang abadi.
      Setiap kata yg keluar adalah energi suara.
      Energi tidak dapat hilang tapi bisa berubah bentuk menjadi energi lain.

      Kita adalah apa yg kita katakan.
      Maka hati-hatilah berkata karena selalu ada konsekwensinya. Kita tidak spt binatang yg suka-suka bunyinya dan terbatas artinya.

      Syukur lah kau telah mengerti berat pertanggungjawabannya, artinya kau telah mengeti konsekwensi itu.

      Salam Damai dan
      Terima kasih telah mampir!

  25. Salam kenal mas….

  26. hola brat….blom ada artikel baru yah….hmmmm….sama2…..hihihih :mrgreen:

    • Yah Brat!
      Masih rada males mengedit sambungan artikel ini
      Seneng ngiter-ngiter dulu lah.

      Salam Damai!

  27. Update dong. 😀 Kunjungan malam hari.

    • Iya deh Fiet!
      Past ku apdet, sabar yah.
      Bungkus-3 adalah gongnya.
      Waktu ku aja belum tentram.

      Salam Damai Malam!

  28. selamat siank

    kunjungan perdana nuyyy dan ditunggu kunjungan baliknya

    • Thanks kunjungannya!
      Tunggu lah kunjungan balik ku.
      Salam Damai!

  29. Salam kenal mas…
    Menarik sekali isi blognya,
    Perkenankan saya ngansu disini
    Terimakasih.
    Salam damai. Persaudaraan dlm kasih sayang dan hidayahNya
    Amin

    • Salam persaudaraan Mas Aji!
      Blogmu dahsyat juga tuh. Kletannya bukan utk sekedar pemeluk tapi untuk sepenuh penghayat.

      Salam Damai!

  30. memang menyedihkan , gereja-gereja tua di eropa makin hari makin kehilangan ruhnya , cuman jd tontonan turis-turis dan obyek foto mereka , ironis ..

  31. menginspirasi abis..
    banyak hal yang perlu direnungkan ya sob..
    bagaimana menjadi sosok yang benar-benar benar.
    saya masih pengen belajar

    🙂

    • Extract aja Sob, apa yg bisa di extract dari artikelku. Kita sama sedang tak henti-henti belajar memerdekakan hati dan pikiran ke keabadian dan ke ketakterhinggaan.

      Salam Damai El!

  32. maunya si justru lebih baik daripada sejarahnya…

    • Sing penting sudah ada maunya Kec.
      Kebaikan ada banyak didepan sejarah,
      Yang juga menjadi sejarah kita nantinya.

      Salam Damai!

  33. dengan gaya hidup yang sekarang ini wajar kalau manusia didewakan… mengingat otoritas dan kekuasaan manusia yang membuat kita lupa akan Tuhan

    • Mungkin masih banyak manusia yg lebih ingin ditakuti dari pada ingin dicintai. Mungkin juga masih banyak manusia yg ketakutan menjadi miskin. Mungkin semua ketakutan-ketakutan seperti itu yg membuat manusia pada berbelok sesaat atau sesat dan menjadi lupa akan Tuhan yg sesungguhnya.

      Salam Damai Este!

  34. Yang paling sederhana, belajar dari Tertiga Lampu Merah.

    Merah (ada waktu untuk Refleksi ), Kuning (ada waktu untuk menoleh sekitar kita ), Hijau (ada waktu untuk jalan atau tidak).

    Persoalannya adalah ketika lampu merah itu sebagai pakem moralitas mampukah menertibkan orang untuk lebih beradab, ketika lampu merah itu mati total di hari senin pagi….

    Tuhan memberkatimu Mauren…..

  35. banyak teman dan tak lupa aku ucapkan selamat sore mas maren…
    maaf baru brkunjung kembali… salam hangat

  36. nunggu postingan baru MK nih……. pasti bagus lg… 🙂

  37. Paham Tertiga the New Edition nya mana nih lae Maren ?

  38. @Pam
    Yes, kita hrs belajar juga dari lampu merah-kuning-hijau itu.
    Di kala lampu itu menjadi hitam semua berarti listriknya mati.
    Kupikir, dari pada aku hrs merayap di tiap persimpangan lebih baik pulang aja bantu Ibu nimba air di rumah sambil berpuisi:

    The sky is so blue today
    The earth was green yesterday
    The blood is always red forefer

    Salam Pikir Tiga,
    GBU Pam!
    ——-

    @Jo
    Long time no see yeah!
    Aku juga sedang sibuk,
    Jadi maklum-maklum lah!

    Salam Damai!
    ——-

    @iiN
    Aku juga masih nunggu responmu utk yg ini loh:
    https://tertiga.wordpress.com/2010/01/12/13-ke-kemaren-tertiga/#comment-1786
    Postinganku kucoba paksa dah nanti! Semoga keren!
    ——-

    @RAS
    Ok deh Tulang,
    Besok ku coba posting bungkus-3
    Sai horas ma!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s