(3/3) Ke Kemaren!

Kutau kelahiran ku itu dari alam ini tadi,
Kehidupan ku ini dalam dunia ini kini,
Kematian ku nanti untuk Tuhan itu kali.

Ke kemarin adalah ke sejarah.

Sejarah tubuh sejarah jiwa sejarah ruh,
Yg datang dari bumi dari dunia dari Allah,
Saat lajang saat kawin saat beranak-pinak.


Ya, suami itu tubuh istri itu ruh anak itu jiwa.
Tubuh itu penuntut ruh itu penurut jiwa sering suka-suka.
Penuntut karna lemah penurut karna kuat suka-suka bimbang.

Sejarah.
Bila benar bahwa bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya, maka benar juga lah bahwa keluarga yg besar adalah keluarga yg menghargai sejarahnya juga dong, kan?

Dari kisah napak tilas itu perenungan ke kemaren ku jadi begini.
Bila pernah aku bertanya, “Hari ini hari apa?”, maka aku takkan tau lah kemarin itu hari apa dan dgn  besok pun apa kemarennya hari ini. Kadang kita lupa kepada tuntutan perubahan oleh waktu kepada kita yang tak terhindarkan itu. Kehidupan kudu maju terus tanpa ada tersedia hidup mundur yg berarti kita harus selalu berterimakasih kepada kemaren, mohon ampun atas kesalahan dan harus menghargai hari ini, the now, the power of now!

Setiap mudik, aku selalu mengenang banyak kejadian lampau, berharap bertemu teman, bertanya kabar terakhir handai taulan dan sanak family, bertanya prospeknya mendatang sekilas. Yang sering panjang ceritanya adalah mengenang kejadian cerita lama, cerita yg berulang tapi tetap menarik yaitu ttg kejadian-kejadian yg hampir-hampir lupa, cerita nenek moyang yg dari mulut ke mulut. Ya! Cerita nenek moyang! Entah kenapa disebut nenek-moyang padahal yg diceritakan adalah mayoritas petualangan para lelaki semua, cerita “kakek moyang”. Cerita itu selalu ada tambah-kurang atau pengulangan yg beda-beda tipis ttg kisah saudara-saudara leluhurku, sehingga aku mengerti silsilahku dari jurnal-jurnal yg mereka buat secara kasar dan kusam, bahwa aku adalah generasi ke lima belas dari marga Simanjuntak (H-15) yg berarti putra-putraku adalah Simanjuntak (H-16). Bagai mana mungkin aku bisa mundur lebih teratur melihat ditel kedahsyatan hulu dan muara dari tepian kini jika aku tidak punya data atau aku tidak pernah diberi cerita, kan? Lalu ada ide, dan sudah kumulai ide itu di era maya ini, membuat ensiklopedi keluarga agar generasi kami mendatang bisa lebih mudah menelusuri dirinya yg berhulu dan yg hidupnya akan bermuara itu. Data silsilah kutulis menggunakan program aplikasi excel hingga bentuknya menjadi percis spt struktur management folder dan kisah dramatis penting dari kreasi jiwa-jiwa kutulis menggunakan program aplikasi words. Setahun sekali (baru dua-kali koq) seluruhnya ku convert ke dalam format pdf dan ku buat hard copy lalu kubagi-bagikan ke sanak family yg jauh dan dekat utk dikoreksi atau utk nanti diupdate lagi. Ada rencana memanfaatkan www.myheritage.com nantinya secara terbatas, lengkap dgn foto-foto. Entah lah!

Lanjutan sejarah tubuh, jiwa dan rohaniku itu gini:
Boleh dibayangkan secara sederhananya bahwa peristiwa penting yang dapat  kuingat sepuluh thn terakhir, bila kutuliskan pada buku bisa jadi sekitar sepuluh halaman. Dan, peristiwa penting yg bisa kuingat ketika umurku sepuluh tahun, bila ku tulis pada buku maka  mungkin hanya bisa jadi satu halaman saja. Dan lagi, peristiwa penting yg bisa kutulis ketika aku masih balita mungkin paling-paling bisa tak lebih dari sepuluh kalimat. Kemudian, peristiwa yang paling penting pada masa lalu ku yaitu pd saat kelahiranku, tentu aku tak bisa menulis apa pun ketika dominan tubuh. Pada peristiwa itu aku hanya percaya aja lah kepada kata orang-orang di sekitarku tanpa ada peng-alam-an, bahwa aku pasti pernah dilahirkan dan tentu pernah meng-alam-i masa bayi. Seperti pd semua bayi hingga kini, aku pun pasti pernah berkejut, bersedu dan bersenyum tentunya. Aku pasti pernah terjatuh dan menangis dan tertawa seperti anak-anak lainnya.

Bila dgn iman percaya seperti itu kupaksakan utk menuliskan kisah pentingku lebih jauh lagi kebelakang berdasarkan cerita atau kesaksian-kesaksian orang-orang lain, maka yang terjauh yang dapat kumengerti adalah kisah kakek dari Bapakku yg bisa kurekam jejaknya dan kuhayati ceritanya dari Bapakku atau dari Nenekku. Tragedi kehidupan yang lain adalah kisah-kisah migrasi dari Kakeknya kakekku atau moyangku yg bagai dramatis luar biasa. Bila diteruskan lagi mundur kebelakang lagi dan lagi dari moyangku, maka pasrah lah aku dan pasti lah kemuliaan Tuhan yang harus kutemukan. Apa mungkin malah pesona Iblis yg kita temukan di kemaren sana, jika kita memang anak yang bingung pada harmoni, benci masa lalu, dan tak pernah kenal orang tua atau pernah tau asal usul diri ini? Tapi kurasa, jika kita mau, Tuhan dapat mengajari hulu diri ini dan muaranya walau hidup kita dimulai dari Tsunami atau prahara lainnya. Secara rohani kita dapat  mencoba berandai mundur sendirian hingga mentok entah dimana. Maksudku, aku tetap ada di sini pada saat ini tapi tubuh dan rohku dimundurkan bertambah muda menuju balita, lalu menjadi bayi, dan lalu berada di dalam kandungan, lalu terus mundur lagi ke sebelum terjadi pembuahan utk diriku dan lalu mundur lagi dan lagi dan stop dulu di titik itu.

Nah, pada titik itu aku boleh pantas memperhatikan bahwa perempuan itu bukanlah siapa-siapa bagiku. Dia sama saja dgn perempuan-perempuan lainnya. Dan, pemuda itu pun bukanlah siapa-siapa bagiku, dia sama saja dgn lelaki-lelaki lainnya. Tapi entah dgn kekuatan apa, entah cinta yg bagaimana dan dari mana hingga mereka bisa bertemu kemudian bersepakat membentuk rumah tangga dan diberkati hingga akhirnya kini laki-laki itu kusebut Bapak ku dan perempuan itu kusebut Ibu ku. Semua kita tentu harus punya kisah awing-awang yg ginian.

Mengapa aku mampu meniadakan semua prosedur baku yg ilmiah mencari utk mencari bukti bahwa mereka adalah Bapak dan Ibu ku? Sama saja dengan bertanya, mengapa aku mencintai mereka melebihi cinta ku kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu lainnya? Yah, tentu karena pengalaman cinta mereka pd ku, kualitas dan kuantitasnya yg berlebih itulah yang membuat cintaku menjadi begini tulus kepada mereka. Aku mencintai mereka lebih dari lainnya bukan saja karena terbayang telah merawatku sejak dlm kandungan dan membesarkanku, mendewasakanku di dunia fana ini, tapi juga karena suatu kekuatan yang mempersatukan dan meneguhkan  semuanya, yaitu antara Bapakku itu dgn Ibuku itu dan dgn diriku ini. Demikianlah cintaku pada mereka melebihi cinta ku kepada orang lain karena bayangan itu bahwa cinta mereka telah sangat luar biasa kepada ku. Jadi, lojik lah demikian barang kali!

Dari titik tadi, bila kuteruskan bergerak dgn memundurkan waktu lebih kencang dan lebih jauh lagi, maka pasti aku tidak dapat mengenali tragedy pemuda tadi karena mereka belum dilahirkan. Demikian juga aku tidak bisa kenal nenek moyangku karena dgn mundur sekenceng begitu mereka juga semua bisa mudah kumengerti belum dilahirkan. Apakah aku keliru mundur bila aku menjadi pusing sampai disini? Bila  aku masih boleh mundur terus, maka ku tau bahwa mungkin Adam dan Hawa adalah yg paling bertanggungjawab atas keberadaan ku kini. Atau apakah ada rute bercabang yg membuat aku pusing hingga aku nggak mungkin mundur hingga sampai ke Adam dan Hawa melainkan terpaksa mundurnya masuk rute sub folder Darwin? Atau apakah rute-rute bercabang di belakang itu itu juga menyatu kembali di pangkalnya hingga kesatuan rute itu mentok lagi di hadirat kemuliaan Allah? Bila benar dan pasti demikian maka penyebab awal kelahiranku adalah pasti Allah. Allah lah yg bertanggung jawab atas keberadaan ku di dunia ini. Bila ini benar maka porsi cintaku yg tadi juga harus kurobah, bahwa aku tidak harus mencintai orang tuaku melebihi cintaku kepada Allah. Jadi bila demikian, ada banyak cintaku yg harus dipersoalkan kadarnya agar jangan sampai melebihi cintaku kepada Allah Yang Maha Esa penyebab utama keberadaanku di dunia ini. Dan, bila ternyata segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan, maka semua kita tidak perlu kecewa atau bahagia memiliki keturunan yg jelas atau tak jelas karena cinta Allah tak berkesudahan dari dulu hingga kini dan kemudian.
Lahir itu alamiah, mati itu kudu rohaniah.

Jadi, yg terutama patut dicintai adalah Allah itu sendiri dan mencintai Allah harus dengan segenap hatiku dan dengan segenap jiwaku dan dengan segenap akal budiku. Yang kedua, yang sama dengan itu  adalah mencintai orang tuaku, keluargaku, familiku, temanku ataupun orang lain yang harus sama kadar cintanyanya seperti aku mencintai diriku.

Dalam Kitab Suci banyak tertulis silsilah-silsilah keluarga, banyak tertulis tragedy kedahsyatan dan keapesan seseorang. Begitu juga dgn sejarah dunia banyak riwayat yg telah menuliskan kehebatan-kehebatan dinastinya atau kelompoknya dan banyak usaha menyembunyikan ketidak hebatannya. Ada kesan bahwa hanya orang-orang hebat yg memerlukan garis keturunan itu. Belakangan pengertian hebat di sini seolah hanya monopoli orang yg berjiwa besar, orang kuat perkasa, orang yg mampu menguasai keduniaan, kaum raja-raja atau kaum bangsawan atau ningrat. Menurutku, sebenarnya contoh-contoh penerapan marga atau garis keturunan itu adalah para kaum yg sangat menghargai sejarahnya. Itu saja sebenarnya, spt di atas dikatakana  “Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya”, keluarga yg besar pun seyogianya kudu begitu, kan?

Kita pun kurasa, perlu menerawang masa lalu agar mudah meneropong masa depan. Demikian halnya pd pembelajaran dan demikian juga halnya pd pengalaman. Sejarah garis keturunan yg ada di dalam Kitab Suci dominan mengandung sejarah kerohanian. Sejarah garis keturunan yg ada di kerajaan dominan mengandung sejarah kejiwaan. Sejarah garis keturunan yg sedang kubuat dgn program excel itu – masak nggak bisa membuat garis keturunan – sementara ini masih dominan kedagingan kali. Tengok lah juga, banyak sudah binatang-binatang unggul telah memiliki garis keturunannya sendiri-sendiri yg cukup jelas seperti pd keturunan anjing Herder dan burung Perkutut aduan.  Hal ini patut kita renungkan dan tandingkan dgn setiap sejarah yg telah ada demi masa depan berpikir diri dan berpikir keturunan.

Kupikir, bila semakin jauh kita menerowong kebelakang bisa ketemu Tuhan, semakin jauh kita meneropong kedepan juga bisa ketemu Tuhan, maka benar juga lah bahwa, semakin pendek jangkauan kita menerawang diri kebelakang akan semakin pendek juga lah kita dapat melihat diri ke depan. Entah lah!

Dengan perenungan-perenungan yang mirip seperti ini maka penting lah kita mengumpulkan data pelajaran kehidupan kemarin untuk bahan pemikiran hari ini yg akan menjadi kemarin bagi keturunan kita kelak. Dgn kata lain, kita menjadi begini karena kita telah begitu dulu. Data itu penting, spt pd kisah-kisah di dalam Kitab Suci ttg riwayat-riwayat Nabi-nabi atau Raja-raja, kebaikan keburukan keborokan dikuakkan di situ. Keturunan dilanjutkan, semua peristiwa-peristiwa penting dituliskan untuk dipelajari, dihayati, diteladani, disiasati, atau pun utk dihindari  dll. Hanya dgn begitu ada pembelajaran, hanya dgn begitu lebih memaknai pengalaman kehidupan.

Kita bisa dan mudah membuat sejarah diri di era komunikasi ini jika kita mau. Data dihimpun bersama via sms atau email, di update reguler, direvisi, ditambah dgn data baru atau kisah baru yg pernah hilang dan ditemukan dgn kerinduan. Data yg terhimpun satu-dua lembar  diterbitkan sesekali yg lama kemudian menjadi sebuah buku bahkan menjadi ensiklopedi keluarga dlm tempo 200 tahun misalnya. Lembar lembar data itu dapat menjadi bahan awal utk latihan mengenal jauh kebelakang berlatih mencintai leluhur  hingga tiba ke hadirat Tuhan. Tidak aneh jika kita sebaiknya hidup seturut dgn riwayat-riwayat yg menjamin dan mencerminkan kebahagiaan dan keselamatan. Aneh lah jika kerjaan kita melulu mengadu-adu  riwayat yg ada, sementara diri yg penuh riwayat kedagingan, kejiwaan dan kerohanian tidak kita hiraukan sama sekali, kan? Dan bagai mana mungkin kita dapat sungguh mencintai Tuhan yg belum pernah kita kenal sementara mencinta sanak saudara yg telah kita kenal pun masih angin-anginan. Alangkah sayang jika kita lebih berlelah menghargai atau memulia-muliakan suatu sejarah lain dari pada berlelah mengetahui sejarah diri sendiri, karena semua pangkal dan akhir semua sejarah adalah pada-Nya.

Jadi menurutku, jika benar bahwa sejauh menerawang ditel diri kebelakang akan ketemu Tuhan dan sejauh menerawang ditel diri kedepan juga pasti ketemu Tuhan, maka benar bahwa semakin pendek jangkauan kita menerawang diri kebelakang akan sependek itu lah kita dpt memandang ditel hidup di depan.

Semoga oleh-olehku ini, bungkus-3 ini, ttg keingintahuan silsilah diri sendiri lebih jauh kebelakang dapat tumbuh dgn sendirinya secara mentakjubkan hingga yakin keseluruhanya bermula dan bermuara kepada hadirat Allah Yang Maha Esa.

Salam Pikir Tiga!

Iklan

29 Tanggapan

  1. Petromax dulu deh … 🙂

  2. Bila benar bahwa bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya, maka benar juga lah bahwa keluarga yg besar adalah keluarga yg menghargai sejarahnya juga dong, kan? ===> Whaduh blaik..aku kok nggak tahu sejarah keluargaku sendiri ya… 😦

    • Ah, sayang!
      Tapi, koq balik LOP!
      Bikin aja lah dari sekarang, gampang koq!

      Misalnya ketemu lah nama Buyut kita namanya Mai adiknya namanya Moi. Anak Mai ada satu yg namanya My Document, misalmya. Anak My Document ada tiga: My Music, My Pitcer dan My Pideo. Anak My Music misalnya tiga juga: My Donlot, My Data dan My Donow. Dst Udah! Jadilah manajemen folder data sejarah kita itu. Sirkulasikan ke semua famili utk koreksi atau utl apdet. Dahsyat …!

      Dlm Worksheet Excel itu satu kolom utl nama satu generasi, dan satu baris utk data per- pribadi. Microsoft Ecel 2007, satu workbook terdiri dari 16384 kolom, 1048576 naris dan “256 Sheet”. Segala data bisa masuk dah!

      Semua “My” boleh saka dihapus atau dijadikan nama “Sheet”, berarti ada dua Sheet jadinya, “Mai” dan “Moi”. Begitu caraku merunut keluargaku sebisaku seditelnya.
      Demikian LOP.

      Salam Damai!

  3. H-15 itu sebagai bermisal misal, akang? Kalau tidak, aku tidak panggil akang lagi, soale, ibu dari ibuku adalah puteri dari marga Simanjuntak. Horas Tulang.

    • Hehe, aku jadi Tulang juga ya.
      H itu bukan misal Lae, tapi emang itu adalah Hutabulu, kampung bambu di Balige, dan RAS (Sihotang) adalah selalu Tulang kami karena sejarah Si Tolu Sada Ina.
      Soal panggil memanggol kurasa bebas-bebas aja lah kita. Pake Lae enak juga keknya.

      Salam Damai!

  4. @ Maren terkasih

    Data silsilah kutulis menggunakan program aplikasi excel hingga bentuknya menjadi percis spt struktur management folder dan kisah dramatis penting dari kreasi jiwa-jiwa kutulis menggunakan program aplikasi words.
    .
    .

    hahahaha modern juga cara buar silsilah chart tarombo di keluarga lae ya … horas ma diringin angkat tangan.. naeng mamasu masu amangboru ku .. baru tahu aku bah, si Maren ini bereku rupanya

    .
    GBU

    • Terima kasih atas berkatmu Tulang. Ajari beremu bertutur kata, menjalin cinta dan bertingkah laku.
      Doa kan kami selalu!

      Salam Damai!

  5. wah…, lama gag pernah ke sini

    Pak maren apa kabar?

    aku jadi merenung membaca tulisannya… 🙂

    • Hai Red!
      Lama tak jumpa bertukar data.
      Semoga kita terus belajar mereka-reka segala apa yg tak tau melalui data yg mungkin separuh tau.

      Salam Damai!

  6. abiz posting lalu ilang…

    wah kemanaan nih para inspirasi…..

    kangen banget celotehnya…

    • Ah!
      Bukan ngilang Jo, tapi nyilem.
      Setelah nimbul lupa password.
      Jadi gitu deh.

      Salam Ketemu Lagi!

  7. wah kalau ada yang punya silsilah mantan (maaf) komunis, jelas rasanya malu kali ya mas maren…

    kasihan juga…..

    • Kurasa tidak harus malu lah. Toh itu berguna utk pelajaran ke depannya kan? Banyak kisah-kisah yg tak elok walau dalam Kitab Suci cekali pun tetap dibeberkan. Yg mungkin menyedihkan adalah jika ada anak yg tak kenal orang-tuanya sama sekali. Misalnya karena korban perang atau tsunami gitu. Tapi utk yg seperti itu berarti anak itu lah “Adamnya” kelak bagi keturunannya.

      Salam Kasihan!

  8. Mudik lagi ya, Kang?

    • Hh! Lupa Password Lae!

      • pass nya.. 123 aja… jhahaha

  9. siang Maren Kitatau.. Ke maren saya nggak tau apa-apa.. Sekarang belum tentu saya tau banyak.. Besok pun saya ragu bisa mengetahuinya… — tengah pesimis — 😦

    • Supaya kau tak ragu besok tawapa,
      Gini in aja pikirin iN:

      Pan ke kemarin itu adalah sejarah,
      Maka ke besok seharusnya dua jarah,
      Maka itu sekarang harus rajin menjarah.
      Menjarah tiga “tahu”.

      Salam Menjarah!

      • jan lupo bagi bagi jarahannya, i2n.

  10. wake up, bro…….. kumaha teuh Juragan? ntong lami lami atuh mudikna.

  11. Aha na masa, lang? Boasa ndang hea be mullop?

    • Bentar lagi aku mulop-mulop koq.
      Kayak “lanteung” gitu deh.
      Nyilemnya lama mulopnya bentar.
      Cheer up!

      Salam sejahtera untuk mu Lae!
      Dan utk semua teman-teman.

      Salam Damai!

  12. Blogwalking,gan..Salam kenal
    Sukses selalu..

    http://www.anekakita.com
    Anekakita.com Tempat Belanja Termurah dan Terpercaya

  13. Kalo menjarah jangan banyak-banyak ya . Kalo banyak ya bagi-bagi …

    Sejarah dua jarah tiga jarah, yang penting gak pake marah …

    • Hi Lop!

      Yes! Tul tuh!
      Klo menjarah jangan banyak-banyak, tiga aja:
      Sejarah itu bumi, dua jarah dunia, tiga jarah akhirat. Kelebihan jarah sama dgn tak pernah menjarah, gemarnya marah-marah.

      Salam Damai!

  14. salam kenal aja 😀

    • @hm
      Salam maya!
      Ada apa dgn anak itu?

      Salam Damai!

  15. Benar sekali semua memang berawal dari sang pencipta dan kita hanya menjalankan beberapa skenario tuhan yang telah direncanakan,

  16. Itu Takdir bang XD

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s