Berpikir lintas mata telinga (1)

November 12, 2009 - 84 Responses

Pada kanak: See and believing,
Dewa-sa: Believe and you will see!

Berpikir dari mata adalah pembelajaran yg selalu menuntut bukti, suatu pembelajaran yg selalu ingin memuaskan jiwa; “See and believing”. Mata adalah alat pencerna pertama makanan jiwa.

Berpikir dari telinga adalah pembelajaran yg tidak selalu menuntut bukti, suatu pembelajaran yg tidak selalu ingin memuaskan jiwa melainkan rohani; “Believe and you will see”. Telinga adalah alat pencerna pertama makanan rohani.

Setiap gambar yg dilihat mata selaalu memiliki kata dan setiap kata selalu ada gambarnya. Gambar masuk melalui mata, kata masuk melalui telinga. Tulisan ini adalah gambar-gambar kata yg masuk melalui mata seolah terdengar ditelinga lalu membentuk imej keseluruhan pelukisnya. Kita bagai dpt mendengar apa yg kita lihat dan kita seolah dapat melihat apa yg kita dengar. Demikian halnya dgn Beethoven yg ketika menuliskan Symphony No.9 dalam keadaan tuli total. Dia melukis lagu itu dengan mata, kita dpt melihat keagungan symphony itu dengan telinga.

Dalam keadaan sadar, kata-kata sering terdengar jelas, tapi gambar-gambarnya sering burem. Dalam keadaan tak sadar atau tidur, gambar-gambarnya sering terlihat jelas,  tapi kata-katanya terdengar samar (tengok lah mimpi-mimpi kita). Jadi, mata dan telinga memberi pelajaran utama bagi kita utk berkata dan berbicara.

Kurasa, pelajaran pertama yg diserap seorang anak dari ego dunia ini adalah belajar dari mendengar, kemudian yg kedua adalah belajar dari melihat. Kedua input pelajaran itu adalah utk belajar berkata-kata. Ketika di dalam kandungan anak sudah bisa mendengar,  utamanya mendengar denyut jantung Ibunya, mungkin juga dia mendengar desir aliran darah, mendengar suara tarikan dan hembusan nafas  dan mendengar suara bicara Ibunya. Miriplah keknya bagai kita mendengar suara bineng dan suara gemuruh bila kita menutup telinga rapat-rapat.

Pengajaran pertama yg diberikan oleh Orang-tua kepada anaknya ialah mencintainya. Ibu memperdengarkan kata-kata cintanya dgn berbicara monolog dan kadang dgn bersenandung atau bernyanyi solo utknya semata. Seluruh bangsa dan suku di dunia ini keknya mempunyai lagu kanak-kanak sejenis “Nina Bobo”, lagu penghantar tidur bagi anak. Seluruh bangsa dan suku mengerti arti kata “Mama” dan “Papa”, kata yg mudah dilafalkan si mulut mungil berlidah pendek itu utk berkomunikasi dgn Orang-tuanya. Kata “Bunda” dan “Ayah” atau “Ibu” dan “Bapak” adalah kata berikut yg lebih sulit diucapkannya dan boleh saja dipilih utk meluaskan arti cinta pada orang yg lebih tua nantinya.

Begitulah rupanya kita masing-masing beroleh cinta, seperti halnya juga cinta Allah kepada manusia, bahwa Allah-lah yg terlebih dahulu mencintai manusia itu melalui banyak ciptaan yg dipersiapkan utk kebutuhkan kita. Allah-lah yg terlebih dahulu bermonolog kepada kita melalui Firman-firmannya. Allah-lah yg terlebih dahulu bernyanyi melalui desir angin cemara, bunyian jangkrik malam dan mungkin juga melalui nada gesek  antara planet dgn gas asing, termasuk desin gesekan dgn Bumi ini yg senantiasa bergerak dgn kecepatan konstan sekitar 2,5 juta km/hari mengitari matahari. Banyak sekali keteladanan yg Allah paparkan terlebih dahulu kepada kita manusia untuk bahan pengajian kita di bumi ini.

Bagi anak, nyanyian dan kata yg terpilih adalah sangat penting bagi pertumbuhannya. Kita Orang-tua memilih kata-kata yg tepat dan gampang dicerna ketika memujinya terlebih lagi ketika kita memarahinya. Dan,  bila marah pun kita padanya harus lah direncanakan terlebih dahulu dgn baik termasuk caranya, waktunya , kata-katanya pun hrs dipilih agar tidak asal ceplos, dan perlu menyediakan celah sempit utk jalan pemakluman kesalahannya sebagai katup pengaman emosi jiwa, sekaligus utk teladan kasih dan pengampunan dari Orang-tua kepada anaknya.

Dlm keadaan normal sebaiknya anak diberi satu bahasa saja yg sederhana dan satu nyanyian yg juga harus sedarhana. Bahasa itu adalah bahasa anak yg kalau dituliskan kedalam text sepertinya bahasa itu kedengaran bego gitu. Sebenarnya kita tidak bego dan anak pun tidak bego situasi dan posisinya  lah yg menghendaki bahasa itu spt be-begoan. Kata atit artinya sakit, mimim dan mamam artinya haus dan lapar, dst. Kadang kita juga memberikan permainan “Tang” yg lucu berkali-kali agar si anak ikut bergembira dan tertawa bersama nuansa Ibunya. Ketiak si anak diapit dgn ke dua tangan si Ibu, lalu ditinggikan dan  “Tang-ting-tang-ting-tang-ting-tang 3x”,  lucu Tang itu. Begitu indahnya, sederhananya lintasan cinta itu. Orang yang melihat pun terpaksa bahagia.

Ada pengamatanku sekilas pada anak tetangga yg bingung, yaitu pada pengasuhan anak hasil perkawinan antar suku. Katakanlah perkawinan antara suami dari suku Batak-totok dgn istri dari Jawa-medok yg punya pembantu pengasuh anak orang Sunda-tulen.

Ketika pembantu itu menggendongnya menyuapi makan, si anak selalu dicecar dgn bahasa Sunda tulen dan setelah kenyang dia nyanyikan lagu ini:

—Naleng-nenggung eta neleng-neleng neng-gung,
—Geura-geura geude, geura jangkung, …
Sampai si anak tertidur!

Ketika Ibu kandungnya pulang dari kantor, kerinduan pd anaknya dicecer dgn bahasa Jawa dan ada sedikit ditambah-tambahin Arab-arabnya dan selalu menidurkan anaknya itu dgn nyanyian:
—Ta’ lelo-lelo lelo-lelo gung,
—Cep menengo anaku Cah Bagus …
Sampai si anak tertidur!

Ketika Bapaknya ingin menggendong atau terpaksa menggendong anaknya, mungkin tidak sering, tapi monolognya keras dan mantap dan selalu menyanyikan lagu ini:
—Modom ma da Amang Ucok, modom ma da Amang
—Tampuk ni pusu-pusuku do da Amang da Ucok,
—Urat ni ate-ateku do da Amang da Ucok …
Sampai si anak tertidur!

Lalu aku ragu apakah karena ragam monolog dan ragam lagu pengantar tidurnya itu yang menyebabkan serapan egonya jadi lekas beragam dan mimpinya pun sudah bervariasi. Fakta sekilas, anak itu lama sekali begonya, sering plengah-plengoh, tolah-toleh memperhatikan teman sebayanya bercengkrama dan bernyanyi dlm bahasa Indonesia?

Pengamatanku ini hanya sekilas saja dan belum kukontraskan dengan bangsa-bangsa yg memiliki satu bahasa yg kaya dalam membesarkan anak bangsanya, seperti pada bangsa Jepang dan Cina dll.
Salam Damai!

Berpikir Timur!

Oktober 26, 2009 - 116 Responses

Ku perhatikan banyak sekali,
Bahwa Timur lebih mundur,
Bahwa Barat lebih maju!

Aku sepakat bahwa merantau adalah penting sbg upaya pengembangan diri dan mutlak bagi pengembangan pengetahuan dan kehidupan. Tak heran supir Medan itu nyupir sampai di merantau ke Timur sana. Napa ke Timur?
Yah, emang alam ini mengandung banyak sabda, sabda pembelajaran dan sabda pengetahuan, maka dari itu ada anjuran, pergilah ke Cina. Anjuran ini cukup populer, tapi hangat-hangat (ehm) ayam dan diterjemahkan sebagai pegilah melaju jauh ketimbang harus pergi beneran ke Cina yg sedikit azan-nya, temboknya tinggi-tinggi, besar-besar dan panjang-panjang dan pula banyak babinya, dan ke arah Timur lagi, heheh. Mungkin bangsa yg paling banyak merantau dan surpaip adalah bangsa Jahudi, kali, makanya mereka pd cerdas dan pinter. Sayang mereka pd sombong dan keras kepala banget!

Mungkin benar bahwa wilayah Timur Tengah adalah pusat perserakan manusia modern, tempat Sem, Ham dan Jafet anak-anak Nuh berasal, tempat agama-agama Samawi berawal, tempat pergolakan kehidupan yg mendunia hingga saat ini. Bila benar begitu, ada apa ke arah Timur sini sehingga bangsa di sini berkonotasi mundur dan ada apa ke arah Barat sana sehingga bangsa di sana dikata maju? Mungkin kah bahwa perantau yg mengarah ke Timur sini adalah migrasi pecundang dan perantau yg mengarah ke Barat sana adalah migrasi petualang? Coba saja kita banding-bandingkan antara Barat apa pun dgn Timur apa pun dalam soal apa pun. Mulai saja dgn membandingkan kondisi kehidupannya atau ekonominya, olah raganya, keseniannya, dll. di:

Indonesia Barat – Indonesia Timur
Kalimantan Barat – Kalimantan Timur
Sumatera Barat – Sumatera Timur
NTB – NTT
Jawa Barat (+DKI) – Jawa Timur
Jakarta Barat – Jakarta Timur
Kapuas Barat – Kapuas Timur
Eropa Barat – Eropa Timur
Jerman Barat – Jerman Timur
India Barat – India Timur
Malaysia Barat – Malaysia Timur
Taiwan Barat – Taiwan Timur
London Barat – London Timur
Dst, pd kondisi lingkungan kita, kali.

Perhatikanlah perkembangan SDM-nya, bahkan juga flora dan faunanya.
Suatu waktu kami pernah jalan-jalan di Timur Indonesia ditemani oleh seorang Brimob yg pernah bertugas di Unit K-9, Satwa Polri, Kelapa Dua-Jakarta. Ketika itu kami sedang sama-sama mengagumi kekayaan sumberdaya alam Timur Indonesia yg luar biasa itu. Kepadanya juga aku bercerita ttg pergerakan pergolakan kehidupan Timur dan Barat seperti garis besarku di atas. Dia kebanyakan manggut-manggut saja, tapi ketika aku separuh bertanya kepadanya,
“Kenapa, ya, semakin ke Timur bangsa kita ini koq semakin lemah SDM-nya, dan susah ngaturnya …!”

Dia spontan berseru cukup keras dan serius bersemangat,
“Butuuul Bapaaa, bukan hanya orangnya yg susah diatur, anjingnya pun tak bisa saya latih! Saya juga heran, saya empat tahun melatih anjing di Kelapa Dua dulu. Saya sudah sering mengeluh dan sudah tiga kali minta kepada Komandan supaya tolong kirim anjing Jawa; Wehh … Komandan malah ngomel-ngomel pd saya, dia bilang, anjing itu dimana-mana sama saja! Achhh! Ta’ tau dia!” Kami pun ketawa sedalam-dalamnya … Ikut heran … Koq sebegitunya?

“Di sini pun ada Beo, Bapaaa!” Lanjutnya.
“Beo nya persis Beo Nias; Tak ada beda! Tapi herannya, Beo di sini tidak mao bunyi, tak bisa bersiul, Achh! Matilahku!” Dia jamah jidatnya, “plak”, terdengar! Aku pun geleng kepala tak ngerti.

Ceritra teman satu lain lagi.
Saat acara kebersamaan, mereka bermaksud utk bergembira-ria bersama. Teman satu itu sudah menulis dan mengkopi beberapa lagu rakyat yg lajim seperti lagu “Rasa Sayang” utk dinyanyikan bersama-sama hadirin. Tiba pada lagu “Apuse … kokon dao”, mereka protes, “Bapaaa usah lagukan lagu itu! Yg itu, itu lagu Serui itu Bapaaa …”, ya udah, dari pada nanti mereka bentrok … Delete! Coba sampai sebegitunya!

Kami banyak bicara soal SDA dan SDM, ketika kutanyakan soal SDS yg tak kutau, dia pun menggeleng tidak tau. Ya, udah! Aku hanya menduga-duga bahwa animisme atau penyembah berhala masih banyak bertahan di pedalaman. Asal tau aja, menurut penelitian BBC, jumlah bahasa yg ada di Papua mencapai 1000 bahasa yg tak berkorelasi secara genetik. Wuich!

Ada apa di Timur!
Kuperhatikan banyak,

Bahwa ke Timur itu mundur,
Bagai terus mendengar pagi,
Menyambut terang Matahari!

Bahwa ke Barat itu maju,
Bagai terus siang bicara,
Mengejar terang Matahari?

Apakah semua dampak itu merupakan suatu kebetulan atau memang ada suatu keharusan atau ada sesuatu lain yg utama di situ yg belum terungkap bagi kita utk dibicarakan. Aku blon tau percis yg mana yg menuju ke kesempurnaan dan yg mana yg menuju ke taksempurnaan atau mungkin kah kombinasinya? Mungkin kah selanjutnya kita tidak perlu lagi berpikir keras tentang benar atau salah, tidak perlu lagi kelahi membenarkan atau menyalahkan. Lebih penting dari itu adalah soal kesempurnaan dan ketaksempurnaan diri kita masing-masing. Kriterianya? Ya, Rahmat lil alamin, kali!
Tapi, bagai mana mereka dapat berpikir menuju ke luar sana, berpikir kosmis metacognition, sementara kesadaran sederhana masih dominan mengikat diri di buminya saja?
Bahasa; Entah lah!

Salam Pikir Tiga!

Berpikir akal-akalan!

Oktober 18, 2009 - 73 Responses

Aku teringet cerita temanku ttg akal-akalan yg serius demi kehidupan yg lebih baik. Ada suatu kejadian apes menimpa supir Medan di tambang pedalaman Timur sana. Pagi itu, bersama keneknya ia mengendalikan truk proyek dgn cukup kencang di jalan tanah yg lempeng lapang. Di depan terlihat mendadak seorang Ibu menyebrang dari kanan ke kiri., secara replek dia pun mendadak banting setir ‘ambil kanan’ utk menyelamatkan si Ibu tertabrak tanduk truk, tapi apes, dari kanan itu mendadak pula seekor anak babi mengikuti si Ibu menyebrang. Wuuuih! “Brak!!!” Anak babi ketabrak. Si supir melihat dari spion segera parkir. Bukan karena dia mendadak lapar liat anak babi glepar-glepar, tapi karna takut kualat ntar pulangnya. Apes!

Lalu dia suruh keneknya mengurus masalahnya,
“Heh! Ambil babi itu!”
“Kasi uang ini sama Ibu itu, nah!”
“Bilang saza map, Bu!”
“Tsepat kau!”.

Dgn cepat si kenek pergi dan dgn cepat ia kembali.
“Bang, dia campakkan uang kita, ta’ mau dia segitu katanya!”

Si supir kecewa,
“Bah!” Lalu berpikir sejenak,
“Nah, tambain lah 200 lagi, bilang saza map gituuuh!”
“Tsepat!”, katanya lagi mengingatkan si kenek buru-buru.

Dgn cepat si kenek pergi dan dgn cepat juga ia kembali.
“Bang, tak taulahku, dia campakkan juga uang kita, dia bilang itu satu pusting ada dua pusing mana, katanya. Aku tak ngerti lah maksutnya, bah. Abang laja ah yg keesana!”

“Bah, bah, bah! Tujuratus ribu tak mau utk babi sekecil itu? Bah bah bah! Sepiring pun tak nyape dagingnya tuh!”
Dia turun tergesa, dgn stil yakin dan tapi ragu, dia langsung minta map sambil runduk menyalam Ibu itu dan berkata,
“Map, Bu, kami buru-buru! Nah lah, udah kutambain jadi sejuta, trimalah, biar ku ambil anak babi itu, masi ada napasnya kutengok … !” Padahal babi itu sudah selesai menggelepar. Apa pula yg ditengok si supir itu.

“Kao mo bayar ato mo tada ato mo suka-suka, hmm?” Sergah si Ibu.
“Ambil uang kao ini, pigi sana!”, kata Ibu itu sambil mencampakan uang itu lagi. Jadi sudah tiga kali uang itu tercampak-campak. Orang mule berdatangan, empat orang berkerumun sudah. Supir Medan tidak beranjak setelah memungut uangnya itu.

“Lihat dolo babi ku ini!” Sergah si Ibu lagi.
“Dia ada punya banyak anak klo kao tada tabrak, taoo!”
“Hitung dolo berapa ada puting-putting susunya, hah?” Lotot Ibu ke si supir.
Diam sejenak, hening tak berjawab. Berhitung, entah lah. Melipat jari!
“Deeelapann tao kaoo!” Normalnya dua belas, lainnya blon numbuh.
“Anaknya ada deeelapan nanti, tao kao!.” Intonasi dinaikin dikit.
“Itu uang mu itu untuk satu putting itu, tao kao!”
“Klo kao mau bayar, hitung semua dolo …!”
“Deelapan putting…!”

Tiba-tiba menyela seorang pria, juga telanjang dada, dgn golok panjang menunjuk-nunjuk.
“Ada sepulu itu, Oma!” Tambah pria itu sambil menungjuk-nunjuk pd bintik samar calon putting yg mungkin saja itu adalah keringat buntat anak babi itu.

Si supir makin deras keringatan berpikir, menggeleng-gelengkan lehernya, berhitung sekaligus memastikan bahwa lehernya masih utuh. Pusing emang kepalanya!
“Edan, … 10juta? … Satu puting saatu juta?”
Katanya lembut sekali di dlm hatinya.
Dia pegang lagi tengkuk lehernya, ada.
“Bah! Tau begini lebih baik tadi aku ‘ambil kiri’, Cuma dua putting!”.
Bisiknya lagi lebih lembut di dalam hati juga.

Hehehe! Edan!
Ibu itu berpikir akal-akalan!
Supir itu berpikir keringatan.

Berakal atau berpikir atau …

Oktober 10, 2009 - 62 Responses

Aku pernah liat filem dokumenter di tp, segerombol burung Sea Gull sedang bertelur di rerumputan sekitar pantai berpasir. Seekor induk Sea Gull mengerami tiga butir telur. Pagi itu menetas satu, Iduknya girang lalu terbang mencari ikan segar utk diri telah menahan lapar dan utk anaknya yg baru nongol. Sebelum Induk itu kembali kesarang , telur kedua menetas. Adiknya ini sama besarnya dgn yg menetas tadi, sama juga coraknya dan suaranya. Pengamat memberi tanda beda warna dgn StabiloBoss pada sisi sayap anak-anak itu. Induk yg sedang girang itu tiba dgn penuh makanan diparuhnya. Anak no.1 diberi makan terlebih dahulu, sisa makanan diberikan kepada anak.no2. Selalu begitu, hari kedua, urutan pemberian makanan itu juga demikian, anak no.1 diberi makan terlebih dahulu lalu sisa makanan dlm tembolok diberikan kepada anak.no2.

Di pagi hari ke tiga lahirlah anak no.3, si Bungsu, saat Ibunya pergi lama – mungkin ngerumpi dulu dgn nelayan – mencari teri di pantai. Ibu yg girang itu tiba dgn lebih penuh makanan di mulutnya. Anak no.1 diberi makan terlebih dahulu, anak no.2 diberi makan kemudian dan sisanya tidak ada untuk si Bungsu. Si Bungsu tak makan hari itu, mungkin karena si Ibu salah itung atau si abangan-nya terlalu rakus dan deras pertumbuhanya. Ke esokan harinya sistem distribusi ransum itu pun begitu juga, sama, selalu si abangan duluan secara urut seolah tau kode warna yg diberikan peneliti. Hari itu si Bungsu hanya kebagian kuahnya doang beberapa leleran lender teri, kuah tanpa ikan. Dia terus menangis mangap-mangap sementara abangannya telah nyenyak tidur. Anak no.3 tak makan juga hari itu, walau dia meregangkan lehernya paling panjang, walau dia telah berupaya mangap paling lebar, walau dia telah jinjit paling tinggi di tepi sarang. Begitu seterusnya, si Bungsu itu hanya beroleh lelehan lender dan mungkin ludah doang dari paruh Ibunya. Sedih aku melihanya, kasihan aku mendengar jeritnya, tapi Ibunya tetep tak mikir apa-apa kletannya, entah lah. Memprihatinkan.

Di pagi hari ke tiga atau empat kali, rupanya si Bungsu tak kuat lagi berupaya sia-sia. Si Bungsu itu keluar meninggalkan abangannya “gontai” secara ragu-ragu, dia tak lagi berharap menanti Ibunya tiba membawa teri utk nya; Dia langkah tiga langkah ke luar balik lagi ragu. Si Bungsu itu ngider kesana kemari mencoba mencari Induk yg mau merawatnya atau membaginya makanan. Di sekitar saranng itu banyak Sea Gull lain yg sedang mengerami telurnya. Si Bungsu mendekat sarang lain, tapi diusir oleh Induk yg sedang mengerami. Di usir di sini, diusir di sana, dipelototin di sana-sini, linglung dan lapar mencari Induk Semang yg rela pada nya. Setelah capek, si Bungsu mojok agak di belakang sarang yg sedang dierami. Sempat di pelototin si pemilik sarang sebentar, lalu dibiarin karena mungkin itu bukan ancaman dan juga males menoleh kebelakang terus mungkin. Saat induk itu pergi terbang mencari ikan karena ada satu telurnya yg baru menetas, si Bungsu berani mendekat ke pinggir sarang itu, lalu masuk meyakinkan dirinya bahwa dia adalah anggota di dalam sarang itu. Berhasil!!! Ya! Ketika Induk pemilik sarang itu datang dgn ikan di paruhnya, maka yg diberi makan terlebih dahulu adalah dia, si Bungsu itu, yg bagai si abangan diperlakukan oleh pemilik sarang. Sisa makanan diberikan kepada anak kandungnya. Dst, selamat lah dia!

Ajaib! Pikirku.

Apa ada yg dibicarakan kawanan Sea Gull ini kepada kita. Apakah anak burung umur tiga hari telah dapat menggunakan akalnya secara maksimum utk hidup? Apakah ibu kandungnya — sejauh kira-kira 3 meter dari anak itu — tidak merasa malu melihat ibu semang? Apakah ibu semang itu memuji akal si Bungsu itu lalu menjadikannya anak kandung?
TAU-ah gelap!
Kulihat semuanya fain-fain saja, damai gitu loh, tak ada masalah.
Tampaknya si Bungsu ingin hidup.
Tampaknya si Bungsu ingin selamat.
Tampaknya si Bungsu “Trial and error”

Salam Damai!

Ada tiga cermin kemaluan!

Juli 15, 2009 - 153 Responses

Dari:
http://kangboed.wordpress.com/2009/06/16/lupa-diri/comment-page-2/#comment-2184

Maren Kitatau Says: 19 Juni 2009 at 18:13

@Sumego
Aku sedang menumbuhkan keyakinan sederhana:
Ada tiga kemaluan yang harus punya cermin,
Terakhir adalah cermin kemaluan rohani.

Lalu,
Apakah mimpi hanya bunga-bungaan?
Apakah mimpi tak dapat diandalkan?
Utk cermin itu maksudku.

Hayati ini:
BILA TIDUR ADALAH GAMBARAN MATI
DAN MATI ADALAH GAMBARAN KIAMAT
TIDURLAH DLM GAMBAR MENJADI RAHMAT

Jadi, jangan mati dulu sebelum jadi!
Hayati dulu “rahmat lil alamin” itu apaan.
Hayati lah selama hayat dikandung badan.


Cermin tubuh itu gancil;

Kaca memantulkan bayangan tubuhku.

Tubuh diputer-puter ke mata dipantaskan.

Dipikirkan meyakinkan penampakan diri.

Sebatas apik bagai awet muda dan segar.

Pitak masih keliatan jelas tak apa lah.


Cermin jiwa pun telah rada gampang;

Orang ngomongin kepantasan jiwaku.

Omongan dikumandangkan ke telinga dipikirkan,

Dipikirkan menjauhi kesan serakah dan sombong.

Dipikir sebatas pandai, bijak dan cerdik.

Salah omong dikit dimaklumkanlah.


Cermin roh seharusnya gamblang juga;

Mimpi memancarkan rohaniku selenglengkapnya.

Tayangan pribadi langsung ke pikiran direnungkan.

Dioper ke dalam hati didialogkan tertiga secara pribadi.

Sebatas apa yang seharusnya batas resonansi kebenaran.

Dosa yg rahasia pun penghambat vibrasi cinta terkoreksi.


Mimpi itu tak mungkin tak berguna.

Seperti bernafas tak terhindarkan.

Siapa yang meng-ON-kan mimpi?


Dalam mimpi tergambar wajah nyata.

Dalam mimpi terdengar kata serasa.

Dalam mimpi segala indra memberi data.


Dalam mimpi data hati dan pikiran dipaparkan.

Dalam mimpi segala yg tersembunyi dibeberkan.

Mungkinkah mimpi masih tak berguna juga?


Mimpi itu bukan bohong-bohongan.

Mimpi bagiku bukan bung-bungaan.

Mimpi adalah refleksi yg lalu kemudian.

Lih: Bayi mimpi apa!


Bila opiniku itu benar,

Perbaikilah isi hati dan pikiran,

Perbaiki dgn kerja keras dan berbagi,

Agar rohani kita bisa pantas, gituloh!


Hayati yang bulao-lintuh-dengdek ini,
BILA TIDUR ADALAH GAMBARAN MATI,
DAN MATI ADALAH GAMBARAN KIAMAT,
TIDURLAH DLM MIMPI MENJADI RAHMAT.


Jadi sakali lagi,

Jangan mati dulu sebelum jadi.

Apa khalifah jadi ada di muka Bumi?

Hayati dulu “rahmat lil alamin” itu apaan.

Kerja keras akan mendorong mimpi kedepan.

Kerja asalan akan menariknya ke belakang,

Di-Replay … gitulohi, Kang!


Enakan mimpi maju apa mundur, ya, HA?

Mimpi mundur bagai di udag ajing slow motion,

Mimpi maju bagai terbang tinggi mendarat di awan.

-

Salam Pikir Tiga!

Cinta itu utk cinta!

Juni 26, 2009 - 45 Responses

Kuterjemahkan dari versi Inggris
Dengan gaya Maren Kitanyaho (hh).
Cinta itu kujadiin Istri supaya mudah!

Semoga mudah …!


Dari The Prophet,
Kahlil Gibran
-
-
-

CINTA

Kemudian kata Almitra,
“Bicaralah Cinta kepada kami”

Dia angkat kepalanya menerawang kerumunan,
D
an terasa ada hening pada diri mereka.
Dan dengan suara agung dia berkata:

Bila Cinta memanggilmu ikutlah dia,
Walaupun jalannya berliku,

K
eras dan terjal.

Dan bila sayapnya mendekapmu pasrahlah padanya, walau
Pedang yg terselip di antara bulu sayapnya bisa melukaimu.
Dan bila dia bicara kepadamu percayalah di dalam dia,
Walau getar suaranya meminggirkan mimpi-mimpimu,
Bagai angin utara dingin meluluh-lantakkan taman.

Karna walau Cinta bagai memahkotaimu,
D
emikian pula dia akan menyiksamu.
Walaupun dia bagai demi pertumbuhanmu
,
B
egitupun dia bagai demi pencukuranmu.
Walaupun dia bagai naik ke ketinggianmu

M
embelai ranting lembut melambai matahari,
Begitupun dia turun hingga ke akar-akarmu
,
M
engguncangmu hingga longgar dari dekapan bumi.
Seperti roda-roda pemipil gandum

D
ia mengumpulkanmu untuk dia sendiri.
Dia mengupasmu hingga telanjang.
Dia memilahmu hingga terbebas dari kulit sisik.
Dia mengilingmu hingga memutih.
Dia remasmu hingga menjadi adonan liat.
Lalu dia menghantarmu ke tungku api pemujaannya,

H
ingga engkau diharap menjadi roti persembahan
B
agi perjamuan kudus Tuhan.

Semua hal itu akan dikerjakan Cinta pada mu,
B
ahwa engkau boleh tahu rahasia-rahasia hatimu,
D
an pengetahuan itu menjadi bahagian hati Sang Hidup.

Tetapi bila dalam ketakutanmu kau hanya mencari
Damainya Cinta dan mencari nikmatnya Cinta itu,
Lebih baik
lah bagimu mengkafani ketelanjanganmu,
D
an meninggalkan dunia dari pelataran-jejak Cinta,
Pergi ke dalam dunia lain yang tanpa musim,
D
imana engkau bisa tertawa tak sehabis tawamu,
D
an akan menangis namun tak sehabis air matamu.

Cinta tak memberi apa-apa selain kepada dirinya.
Cinta tak
mengambil apa-apa selain dari dirinya.
Cinta
tak untuk memiliki dan tak untuk dimiliki,
Karena Cinta telah cukup untuk Cinta.

Bila engkau bercinta janganlah berkata,
“Tuhan ada di dalam hatiku,”
T
api lebih baiklah katakan,
”Aku ada di dalam hati Tuhan.”

Cinta tak lain gairahannya
Selain untuk dirinya sendiri.
Namun bila engkau bercinta
Dan harus mengandung gairah,

B
eginilah hendaknya keinginanmu :
Melebur dan menjadi seperti aliran anak sungai
,
Yang m
elagukan melodinya kepada hening malam.
Tau bahwa ada derita dari terlalu banyak belai sayang.
Rela terluka oleh pengertianmu sendiri tentang Cinta;
Dan rela berdarah-darah dengan penuh kegirangan.
Bangun di pagi hari dengan hati yang bersaya
p,
D
an ucapkan terimakasih demi hari percintaan lainnya,
Istirahat p
ada jam siang merenungkan nikmatnya cinta;
Pulang ke rumah di kala senja dengan penuh syukur;
Dan lalu tidur dengan sebuah doa untuk sang tercinta

Doa d
i dalam hati dan sebuah lagu pujian pada bibirmu

-

Salam Damai Sejahtera!

Cinta itu emang esa!

Juni 9, 2009 - 76 Responses

Kala nanti adalah rohaniah; Bangun lah, Sobat!
Kala lalu adalah daging; Makanlah, kenyangkan dia!
Dahulu kala pun air; Minumlah, hilangkan dahaganya!

Kala kini mestinya hanya bicara cinta Allah Yang Esa,
Menumbuhkan rohani abadi tak berkala sesuai cinta,
Mendekat-dekat hingga berkehidupan dengan-Nya.
Kemon!

UNTUK SOBAT- SOBATKU
YG SUKA SAYANG CINTA

Di kala kau mencinta,
Bagai ingin memilikinya,
Itu lah yang namanya suka.

Di kala kau amat mencinta,
Ketika dia mencintaimu,
Itu namanya sayang.

Di kala kau mencinta,
Walau dia bawel melulu,
Ini lah namanya cinta.

Itu lah nama-namanya
Dlm hobi, bisnis, niscaya;
Ada suka, sayang dan cinta.

Suka itu Cikar,  cinnta-karena.
Sayang itu  Cikal, cinta-kalau.

Cinpun itu, cinta walau pun,
Cinta yang tanpa pamrih;
“Kasih Ibu Kepada Beta
Bagai Sang Surya
Menyinari Dunia”
//////////|\\\\\\\\\\
Cinta itu emang memberi, bukan menerima.
Cinta itu emang berserah, bukanlah beroleh.
Cinta itu emang damai, bukan adil, gituloh;
Karena cinta itu surgawi,
Bukan duniawi,
Gituloh lagi!
!!!!!!!!!!!!!!
Jadi Blue,

Cobalah berpikir tiga,
Dengan cinta yang esa,
Kreta tak brengsek lama.
Salam Sayang Pikir Tiga!

Ada tiga kemaluan!

Mei 22, 2009 - 83 Responses

Kemaluan adalah sensor diri.
Kemaluan hrs ditutup dijaga,
Agar selalu apik tak sengaja.

Kemaluan tubuh sudah pandai kita menutupinya.
Mengapikkan tubuh, dgn mata, berputar depan kaca.

Kemaluan jiwa kerap hanya pandai kita berkelit.
Mengapikkan jiwa, dgn telinga, mendengar orang.

Kemaluan roh apa an tuh, apa pula sarananya, lagian,
Gimana mengapikkannya; Apa do’a hingga akhir rat?

Mari kita diskusi
Mencari arti diri
Salam Pikir Tiga

Ada tiga cinta yg esa!

Mei 6, 2009 - 53 Responses

Judul ku ubah:
Ada tiga cinta yg beda.
Cinta mana yg tak hrs ada?

Cinta-karena ………!
Yailah cinta reaktif
Alami.

Cinta-kalau ……..!
Yailah cinta pasif
Duniawi.

Cinta-walau …….!
Yailah cinta aktif
Illahi.

Salam Pikir Tiga!

Inspirasi (Sasie Kirana)!

April 27, 2009 - 29 Responses

Inspirasi ini karna Sasie Kirana yg tak kukenal itu telah pergi.
Pantesan dia diem aja, berkali ku kunjungi blognya diem.
Kuperkirakan dia seperti Agnes Monica utk memudahkanku.
Detail info ada pada Nug, Ayah Mayanya, yg dipanggil Dad.
http://tulisannugroho.wordpress.com/

Ketika itu dia mungkin sedang sakit, tapi masih tetap membagi cerita ceria kepada teman teman lamanya. Sementara aku baru mau mengucap “Salam Maya” kepadanya ingin berbagi cerita dan pengalaman bersama juga. Dia baru saja menerbitkan artikelnya yg terbaru pd 3 April 2009, yg meminta kita berbagi inspirasi dan bersahabat di dunia maya yg sempit dan luas ini. Artikel diterbitkan selepas memperoleh penghargaan dari IBSN (Indonesian Beautiful Sharing Network) dari Nug, Ayah Mayanya itu. Hadiah itu memang pantas diberikan kepadanya dan disebut oleh pemberinya sebagai “Inspirational & Friendship Blog Award”.

Dgn separuh serius dan sedikit ingin ramai-ramai di blognya, aku separuh bercanda membagi inspirasi ttg cerita mengapa “Monyet bisa jatuh”. Motifku, jangan ia terlena dgn pujian dan sanjungan, walau mungkin dia lebih tau mengantisipasi motifku.
Begini posterku padanya:

Maren Kitatau | April 3, 2009 at 5:55 pm
Salam Maya!

Aku mau bagi inspirasi dari monyet jatuh.
Tadi hal ini telah aku tuliskan somewhere.

Ternyata yang membuat monyet bisa jatuh
Bukan karena dia lapar dan atau angin kencang,
Tapi justru karena dia kenyang, angin sepoy-sepoy.

Ngantuk …! Seresek …! Gedebluk …! Jatuh lah.

Semula aku kaget,
Kemudian aku heran,
Dia kaget juga,
Tapi tidak heran …
Ha ha ….Dia segera memanjat.

Aku tak heran lagi sekarang.
Banyak pemimpin dan idola di pucuk sana
Gedebluk karena asyik sedap-sedapan.
Salam Pikir Tiga

Lalu segera kutambah,
Agar klop sbg inspirasi,

Maren Kitatau | April 3, 2009 at 5:59 pm
Maksudku,
Yg punya keahlian kuat pun bisa jatuh,
Apa lagi yg nggak punya pegangan apa-apa
Lebih gampang gedebluknya!
Salam Nambah!

Pujian dan sokongan terus mengalir kepada Sasie,
Mengacuhkan inspirasi monyetku yg kupikir lucu dan penting.
Lalu kuulangi lagi sari-sari monyet itu dua hari kemudian:


Maren Kitatau | April 5, 2009 at 8:15 am
Aku masih sering senyum
Membayangkan monyet jatuh itu.

Tupai jatuh ada peribahasanya,
Monyet jatuh pan belum ada.
Salam Pikir Pikir!

Curhatku ternyata gagal maning. Sasie justru menernerbitkan artikel baru “Catatan Tertinggal (6 April 2009). Pujian dan sokongan terus mengalir mengacuhkan inspirasi monyet jatuhku. Lalu aku keki dikit, dan juga jangan sampai Sasie jatuh sepoy-sepoy pikirku. Kutulis lagi yang itu-itu juga, berharap ada tanggapan atau kunjungan balasan:


Maren Kitatau | April 7, 2009 at 10:24 am
Ati-ati Sis!
Monyet jatuh tea …
Salaman!

Juga tak ada yg nyenggol,
Tak ada yg senyum,
Kunjungan pun tak berbalas,
Apa ada yg tak beres pada ku…?

Pada kunjungan ku yg selanjutnya aku bingung,
Semua pemujanya mengucap selamat jalan,
Kemana? Kupikir itu bercanda, karena Sasie pandai berkata.
Hampir aku bercanda lagi pd Sasie.

Lalu aku serius lagi ingin menyampaikan inspirasi dari wanita.
Kali ini yg paling serius dan aptudet ttg Susan Boyle:


Maren Kitatau | April 20, 2009 at 9:15 pm
THIS IS MY COMENT TO SUSAN BOYLE
(Perempuan ini sangat memberi inspirasi!)

Pada saat itu, hanya saat itu loh,
Semua kita ketawa dgn benar.
Ketawa yg bener bahagia.

Sabodo dibilang gila,
Bila ketawa sambil pilu,
Mentertawakan diri sendiri.

Hatiku penuh,
Pikiranku kosong,
Pada situasi itu.

Kuliat semua – mungkin juga dunia-
Mentertawakan diri sendiri.
Menyaksikan Susan kampungan itu
Memukau kita, utamanya Simon Cowell
Juri “sadis” the American Idol itu.

Perhatikan Simon dlm mengambil nafasnya.
Maksudku tarikan panjangnya di akhir 20 detik.
Perhatikan Piers Morgan menelan ludahnya,
Dan menopang dagunya dlm berkomentar,
Bersandar menyentak bembesarkan paru,
Sembari menarikan air yg tergenang
Yg hampir tumpaah dari matanya.

Berkali ku replay video ini,
Berkali pula aku ketawa lemes
Pada diri yang sempat sinis.

Walau demikian tetep awas,
Yang tadi itu selalu daging,
Yang nanti akan selalu roh.

Susan Boyle telah menginspirasi kita
Utk tidak selalu ber-underestimasi.
“In every thing I see,
I must see something good”

Salam!

Pls click to see Susan Boyle

Begitu hebat inspirasi itu,
Masih tak ada respon dari Sasie,
Pun dari para idolanya dan dan dan
Ternyata dia telah meninggal dunia
Pada tanggal 21 April 2009
Kangker ganas stadium 4B (kutip: Nug)

Berarti candaku semua diterima pd sakitnya
Sambil berbaring di atas tempat tidurnya.
Bersama Kangker yg sudah tak tertahankan
Menggerogoti tubuh Sasie ini…

Menurut email terakhir kpd Nug,
Yang dikirim oleh yg diamanahkan,
Saat itu adalah pengobatan terakhirnya
Karena biaya dan juga keteguhan hatinya
Yang telah berdamai dgn Ayah kandungnya.
Mungkin damai itu tak mau rusak lagi …
http://tulisannugroho.wordpress.com/2009/04/21/ibsn-surat-terakhir/

Semua pemujanya meratap sedih hingga kini, aku pun.
Lalu aku berpikir lagi sekarang ttg “tadi”,
Untuk apa kita bersedu,
Pd kepompong yg jadi debu,
Kupu-kupunya telah merdeka!

Kepada Sasie yg terhormat
Perjuanganmu telah tammat
Engkau telah menginspirasi kami
Engkau penuh membagi wana-warni
Tanpa pili-pilih dan tanpa pamrih.
Damai telah kau peluk,
Pergilah-pergi dan …
Kubayangkan kini kematian itu
Seperti animasi ini,
Seperti syair-syairnya.
Seperti “Dust in the wind!”


I close my eyes
Only for a moment and the moment’s gone
All my dreams
Pass before my eyes a curiosity
Dust in the wind
All they are is dust in the wind

Same old song
Just a drop of water in an endless sea
All we do
Crumbles to the groun though we refuse to see
Dust in the wind
All we are is dust in the wii … nd
Ooh Hoho …

Now, don’t hang on
Nothing last forever but the eart and sky
It slips … away
And all your money won’t another minute buy
Dust in the wind
All we are is dust in the wind
Dust in the wind
Everything is dust in the wind.

Let us sing it for ourself!

Yah ya ya!
Semua kita bagai debu dalam angin.
Mengapa harus debu bila bisa menjadi angin?

Cukuplah kematian sebagai penasihat …(ungkap Sasie)
Agar arah pemikiran segaris “happy ending”,
Yakni mati keren!

Salam Inspiratif!